Minggu, 06 Juni 2010
MENGGENGGAM MENTARI
Posted by CINDELARAS at 14.52 0 comments
Labels: CERPEN
Kamis, 03 Juni 2010
JEJAK DI TEPIAN TELAGA
"Kalau kamu hati-hati, kamu pasti tidak akan terjatuh seperti tadi...", balas Tommy, membuat Berly bertambah kesal karena tampak konyol dalam setelan T-shirt dan blue jeansnya yang tampak sedikit tua warnanya karena basah oleh air.
Tommy membuka jaketnya, dan memakaikannya di tubuh Berly yang kedinginan. Berly tak berucap sepatah pun. Udara pegunungan yang semakin terasa dingin karena akan datangnya malam, membuatnya harus bekerja keras menghilangkan rasa beku itu dari dalam tubuhnya.
"Kita jalan pelan-pelan, OK ? Kita cari warung kopi supaya kamu bisa sedikit hangat...", ajaknya lagi. Motor distarter, lalu melaju perlahan turun ke arah kota. Lampu jalan yang cuma berjumlah sedikit membuat Tommy harus ekstra hati-hati melihat jalan. Dia tak mau tertimpa celaka karena salah kira melihat jalan. Terpaan angin dingin menusuk dari arah depan, untungnya dia memakai kaos lengan panjang. Tiba-tiba kedua tangan Berly terulur ke depan, lalu melingkar di pinggang Tommy dengan erat. Kepala Berly bersandar di punggung Tommy, kali ini tak lagi terasa getaran menggigil. Tommy lega, dia berharap semoga Berly tak masuk angin karenanya.
*
"Ya ?!", sahutnya dengan heran. Dia tak mengenal lelaki itu, lelaki berambur keriting dengan kulit kehitaman.
SELESAI
Posted by CINDELARAS at 16.43 0 comments
Labels: CERPEN
Sabtu, 01 Mei 2010
MENU MAHASISWA
Herannya lagi, dengan uang yang cuma segitu-gitunya itu, saya masih bisa menyisihkan beberapa rupiah untuk sekedar beli obat bebas untuk jaga-jaga kalau saya terkena flu atau sakit kepala. Dan, saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk sangu pacaran ! Hebat ‘kan ?! Untungnya, pacar saya tidak pernah punya keinginan jajan yang aneh-aneh. Boro-boro ke rumah makan, itu cuma bisa kami lakukan kalau kami sedang ulang tahun saja. Biasanya kami makan di Pasar Sayangan. Menu kesukaan saya waktu itu tidak lebih dan tidak kurang ya hanya nasi plus sayur bening bayam ditambah separo telur ikan goreng dan satu sendok kecil sambal bajak (itu lho sambal terasi tomat yang digoreng ala Semarangan). Segitu saja rasanya sudah uenduaaang…. Pokoknya perut kenyang, uang tidak banyak terbuang. Seporsi ?, cuma 500 rupiah saja. Itu pun tidak bisa tiap hari saya lakukan, soalnya ya karena keterbatasan dana itu tadi. 32 ribu per bulan gitu, lho ! Bayangkan kalau saya makan tiga kali porsi yang sama tiap hari, bisa-bisa belum sampai habis bulan saya sudah ngutang sana-sini. Hi…, amit-amit. Saya bayangkan kalau waktu itu uang 500 rupiah di Jakarta bisa dapat menu apa, ya ? Gado-gado ? Bakso ? Tapi yang jelas pasti porsinya nggak sebanyak makanan yang saya dapat di Pasar Sayangan.
Dalam rangka pengiritan, maka saya membuat semacam perencaan menu bulanan yang bagi saya cukup enak dan hemat. Daftar menu saya seperti ini :
1. Senin Nasi + Sarimi
2. Selasa Nasi + Abon
Posted by CINDELARAS at 09.23 0 comments
Labels: ARTIKEL
Jumat, 30 April 2010
PILIHAN
"RSBI atau CIBI atau Reguler Plus ? Yang mana neh ?"
Itulah pertanyaan yang dilempar seorang kerabat dalam statusnya di fb. Mula-mula gak ngeh, meski agak-agak bisa meraba kalau yang dibicarakan pasti soal sekolah. Rupanya RSBI itu (seperti yang sudah kuduga) kependekan dari Rintisan Sekolah Berstandard Internasional. CIBI itu (ternyata) istilah untuk kelas akselerasi (kepanjangannya apa gak taw neh). Dan Reguler Plus untuk sekolah berstandard nasional yang ditambah dengan program unggulan lain hingga waktu belajarnya bertambah beberapa jam setiap harinya (5 hari sekolah, Sabtu libur).
Hmm.... Seorang kerabat lain mengutarakan bagaimana diskriminatifnya program RSBI itu bagi siswa tak mampu. Itu betul. Dalam sekolah yang memiliki program RSBI, memang biaya yang lumayan bunyi itu sangat diperlukan, demi terpenuhinya kelengkapan fasilitas sekolah sesuai standard internasional pada umumnya. Pasalnya, standard internasional itu belum umum dipakai semua sekolah. Maka terengah-engahlah beberapa sekolah yang ditunjuk menjadi media pelaksanaan program RSBI di banyak daerah. Terkesan memaksa, karena sangat minimnya kesiapan SDM di sekolah-sekolah tertunjuk itu, yang pastinya para pengajarnya lebih memahami cara mengajar dengan Bahasa Indonesia sebagai pengantar pelajaran (bukan Bahasa Inggris sebagaimana disyaratkan dalam kurikulum internasional).
Apa yang diusahakan DIKNAS agar para guru itu siap memakai media Bahasa Inggris dalam menghantar pelajaran di kelas ? Sepertinya cara-cara kayak perolehan sertifikasi dan pembekalan sudah mulai banyak diberikan. Tapi cukupkah upaya itu untuk membuat semua guru sekolah RSBI siap memberikan pelajaran dengan bahasa asing ? Untuk fakta bahwa otak seseorang hanya dapat dengan mudah menyerap kemampuan bahasa ibu dan bahasa asing sebelum usianya mencapai 11 tahun, kayaknya usaha membekali para guru, yang barangkali banyak yang usianya sudah melebihi angka 40 itu, akan sia-sia. Kan otak mereka sudah tak lagi fleksibel menerima bahasa asing to ?
*
Ini contoh Pak S, seorang guru matematika yang notabene orang Jogja, di sebuah sekolah menengah pertama yang lumayan terkenal di Jakarta Selatan. Si guru diharuskan memakai Bahasa Inggris dalam memberikan pelajaran. Yang terjadi adalah perintah semacam ini :
"OK (dibaca= o - ke , bukan= ow - khay). Let's open page (dibaca= pek, bukan=peij)...(mikir)...selikur ! (bs. jawa = duapuluh satu)"
Kasian betul. Gara-gara lupa angka 21 itu sebutan inggrisnya apa, yang keluar malah Bahasa Jawa. Pasti hal itu tidak akan terjadi terlalu parah kalau memakai Bahasa Indonesia yang kian lama kian banyak menggeser fungsi bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Padahal kejadian waktu itu, terjadi ketika di sekolah itu masih berlaku program kelas bilingual, bukan kelas murni Internasional. Apa jadinya kalau sekarang si Bapak pinter yang ahli matematika ini mengajar pakai Bahasa Inggris saban harinya di kelas yang sudah RSBI ? Bisa-bisa malah mogok bicara dia. Atau malah pilih pakai bahasa tarzan ya ?
Jadi ingat sama cerita seorang kerabat yang mengatakan kalau sebuah pondok pesantren terkenal di Jawa Timur sana, di pertengahan tahun 1980-an, selalu memberi hukuman untuk setiap murid yang ketahuan memakai Bahasa Indonesia saat bicara, padahal diharuskan berbahasa Inggris. Hukumannya dengan cara disuruh ngemut daun kelapa kering (blarak) seharian. Wkekekek..... Apa iya kita mesti nyuruh si Bapak ahli matematika itu ngemut blarak juga biar Bahasa Inggrisnya lancar ? Ada-ada saja.....
Itu baru soal SDM. Ada juga kelatahan guru untuk menggunakan fasilitas sekolah. Namanya juga sekolah unggul, maka orangtua murid sampai ada yang menuntut kalau sebisa mungkin semua fasilitas yang ada harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Lalu terjadilah sebuah insiden ketika seorang guru Tata Boga masuk ke dalam kelas, dan menyuruh 2 orang anak lelaki untuk mengambil OHP dari ruang penyimpanan. Sampai berkeringat betul ke 2 anak itu, mendorong OHP yang rodanya seret ke dalam kelas. Begitu dipasang, ternyata OHP itu cuma mau digunakan untuk menyorot sebuah gambar....
"Anak-anak.... INI...TEKO...!"
Seluruh anak dalam kelas sampai hening. Lalu beberapa anak perempuan yang duduk di depan bereaksi dengan mulut membundar sambil berbunyi....
"OOOooo........ "
Sementara anak-anak lelaki dalam kelas tetap bengong.
*
OK. Stop bicara soal SDM dan fasilitas sekolah. Sekarang mari kita bicara soal program CIBI atau akselerasi. Program ini sebenarnya disiapkan oleh pemerintah untuk mewadahi anak-anak jenius yang menginginkan bisa melalui masa 3 tahun pendidikan, hanya dengan menempuh 2 tahun masa belajar saja. Kurikulumnya dibuat sedemikian rupa sehingga mata pelajaran itu dipadatkan sepadat mungkin. Ada beberapa syarat yang harus dipatuhi seorang murid supaya bisa masuk ke program ini. Misalnya syarat yang mengharuskan nilai si calon murid akselerasi tak boleh kurang dari sekian-sekian, dan harus memiliki IQ serendahnya sekian-sekian.
Ada sih kemungkinan anak yang punya kriteria di bawah itu bisa masuk juga ke program akselerasi. Tapi biasanya yang begini ini akan dihantam dengan biaya yang lebih tinggi dari anak-anak lainnya. Betul-betul butuh tenaga dan pikiran (dan duit), karena si anak akan dituntut untuk bisa menyelesaikan tugas yang luar biasa berat selama menempuh pendidikan yang dipadatkan ini. Kalau yang bisa konsentrasi dan tak suka main sih gak papa. Tapi kalau anaknya masih suka santai dan main-main ya sebaiknya dipertimbangkan lagi. Karena akselerasi bukan kelas yang bisa untuk main-main. Ini kelas dengan tegangan tinggi. Tugas hariannya saja bejibun abiss... Belum makalah dan laporan ini-itu.
Ada cerita soal program akselerasi ini yang ditawarkan guru walikelas anakku waktu itu. Ketika si anak aku tawari masuk ke kelas akselerasi, si anak memberikan jawaban seperti ini :
"Ibu.... Sekolahku itu sekolah bagus..."
"Lalu ?", tanyaku.
"Guru-guru disana itu semua bagus..."
"Lalu ?", tanyaku lagi.
"Kalau sekolahnya bagus, guru-gurunya bagus, artinya aku akan menyia-nyiakan sisa waktu 1 tahun untuk bisa bersekolah disana kalau aku ambil kelas akselerasi. Aku mau matang dalam semua pelajaran. Aku mau menguasai apapun yang guru-guru bisa ajarkan. Kalau cuma 2 tahun, artinya belum semua ilmu bisa aku serap habis dari mereka, meski itu dipadatkan. Aku gak suka belajar pake dikejar-kejar deadline, Bu. Masak belajar pake lari ?", jawab anakku.
Dengan pendapat penuh pertimbangan seperti ini, apa yang bisa aku perbuat kecuali memberinya kebebasan ? Alhamdulillah, anakku selesai dari SMP dengan nilai tertinggi dari seluruh 360 siswa yang ada dalam satu angkatan. Sungguh pilihan yang tepat untuknya. Dengar-dengar, setelah anak-anak seangkatan yang mengambil program akselerasi lulus dari sekolah itu, banyak yang lulusnya cuma dengan nilai pas-pasan. Bahkan ada yang harus dikatrol, karena program itu tidak boleh gagal, semua harus lulus. Jadi yang kurang pun harus diluluskan. Tapi itu yang terjadi di tahun 2007. Mungkin sekarang keadaannya sudah berbeda.
OK, ambil positifnya aja. Baik untuk pilihan kelas RSBI dan akselerasi, pertimbangan orangtua merupakan faktor kesekian dari keberhasilan anak. Yang paling penting untuk bisa sukses dari kedua program itu hanyalah niat dan semangat si anak. Kalau si anak mampu dan bersemangat untuk menempuh program itu, ya apa salahnya disupport sepenuhnya oleh orangtua. Karena bagaimana pun yang akan mengalami enak atau tidaknya ya cuma si anak itu sendiri. Bukan orangtuanya. Si orangtua paling-paling cuma kebagian "menjerit" kalau diharuskan membayar biaya sekolah yang tinggi, hehehe.
Yang jelas, lulusan RSBI diharapkan bisa berkomunikasi lebih baik dalam bahasa asing. Dan lulusan akselerasi bisa lebih cepat lulus dari kelas RSBI maupun reguler.
*
Lalu bagaimana dengan program Reguler Plus. Hehehe..., kayak mau milih french fries di resto aja. Mau pilih regular ?, apa large ? Ya..ya..ya... Kelas reguler maksudnya ya kelas biasa dengan kurikulum biasa. Yang dimaksud dengan plus disini adalah plus tambahan pelajaran unggulan seperti les bahasa dan semacamnya. Jadi jam belajarnya molor sampai beberapa waktu. Buat orangtua yang sibuk bekerja kantoran sih kayaknya program ini OK banget. Karena satu paket dengan kurikulum sekolah, artinya si anak sudah gak perlu repot-repot lagi ikutan les macam-macam di luaran. Lumayan ngirit. Apalagi beban kurikulum sekolahnya tak begitu padat seperti RSBI dan akselerasi. Kalau si anak termasuk yang suka menikmati hidup sih sebaiknya pakai program ini. Bisa lebih santai sedikit.
Masalahnya akan kembali pada kata "Plus" yang menempel di belakang kata reguler. "Plus" disini sangat berkaitan erat dengan biaya (lagi-lagi). Karena tak mungkin sekolah akan memberikan tambahan program di luar kurikulum bila tak ada biaya. Sejauh biayanya tidak tinggi sih tidak masalah. Yang menjadi persoalan adalah apabila akhirnya dengan pemberian pelajaran "Plus" ini lalu membuat orangtua siswa terbebani dengan biaya tinggi. Padahal kalau sudah niat masuk ke sekolah reguler "Plus" pasti harus menyetujui untuk juga ikut serta dalam kegiatan "Plus". Dan itu bisa menimbulkan konflik bagi si anak murid, bila orangtuanya tidak mampu mambayar. Hanya saja, dibandingkan dengan kedua program terdahulu, sepertinya program reguler "Plus" ini agak lebih aman. Si anak akan tetap bisa mendapat pengajaran dengan jelas dalam bahasa nasional, dan tak terlalu dikekang oleh waktu.
Posted by CINDELARAS at 14.39 0 comments
Labels: ARTIKEL
PROPERTY
Posted by CINDELARAS at 14.26 0 comments
Labels: ARTIKEL
BIDUREN - KALIGATA - URTIKARIA
Sebagaimana definisi medisnya, Kaligata (urtikaria) adalah suatu reaksi alergi yang ditandai oleh bilur-bilur berwarna merah dengan berbagai ukuran di permukaan kulit. Bilur gatal itu sendiri merupakan reaksi anafilaktik yang terbatas pada kulit dan jaringan di bawahnya.
Apa yang menyebabkan penyakit ini hinggap di badan kita ? Penyebabnya adalah adanya alergen atau faktor pencetus alergi. Jenis alergennya macam-macam, mulai dari obat-obatan, makanan (misalnya telur, seafood, kacang-kacangan, dan susu), serbuk sari tanaman, serbuk binatang (terutama kucing), gigitan serangga, air, cahaya matahari, cuaca panas, cuaca dingin, dan stres emosional. Untuk lebih pastinya, kita bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mencari sumber alergennya. Prosedur ini bisa sampai pemeriksaan laborat.
Dalam keluarga kami, faktor cuaca adalah alergen yang paling sering memicu timbulnya biduren. Kadang matahari terasa terik di siang hari, sementara badan terasa dingin. Kalau sudah begini, langsung saja kaligatanya keluar. Dalam setahun, setidaknya 2 kali mengalami kaligata. Yang pertama adalah saat perubahan cuaca dari musim penghujan ke musim panas, dan yang kedua dari musim panas menuju musim penghujan. Saking seringnya, kami jadi hapal dengan pengobatan yang bisa diberikan untuk mengobati penyakit ini. Meskipun, menurut dokter, penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya, tapi setidaknya kami bisa memberikan sedikit rasa nyaman bila anak-anak kami sedang didera kaligata. Biasanya kami akan memberikan obat alergi berupa antihistamin. Sebenarnya sih tak cuma antihistamin yang bisa diberikan sebagai penolong penderita biduren, tapi juga obat lain yang mengandung epinephrine, terbutalin, simetidin, kortikosteroid atau obat penenang.
Biasanya, untuk keluargaku, sirup antihistamin merek Celestamine adalah sirup yang paling sering kami sediakan untuk kaligata mereka. Maksudnya sih supaya syaraf mereka bisa tidur, maka tentu saja mereka juga jadi mengantuk setelah meminumnya. Dosisnya sesuai anjuran yang tertera di lembar informasi yang ada dalam kotak bungkusnya. Kalau takut salah penanganan sih memang lebih baik periksa ke dokter dulu. Tapi karena saking seringnya mengalami hal yang sama setiap semesternya, kami jadi hapal bagaimana mengatasinya.
Hal kedua yang sering kami sediakan untuk mempercepat penyembuhan mereka adalah asupan kalsium. Kami memakai CDR sebagai pembantu pemulihan. Kalsium penting karena akan memberikan efek hangat bagi tubuh kita. Bila hangat terasa, niscaya bilur-bilur gatal itu akan segera sirna. Bisa saja digunakan sirup multivitamin lain yang mengandung kalsium semacam Calcidol atau Calcilimo. Tentu saja dosis yang diberikan tetap harus sesuai anjuran. Tapi saya pernah bertanya pada dokter yang menganjurkan penambahan asupan kalsium ini, katanya pasien diperbolehkan mendapat asupan 2 kali lebih besar dari dosis anjuran hanya hingga penderita sembuh dari kaligata. Jadi selama masih alergi gatal, kalsiumnya 2 kali dosis yang ada. Setelah itu, kembali memakai dosis normal. Dan sesuai pengalaman, biasanya kaligata akan sembuh dengan sendirinya hanya dalam waktu tak lebih dari 3 hari setelah terapi ini.
Kalau menurut sumber informasinya sih kaligata atau biduren ini juga bisa menyebabkan adanya penyumbatan tenggorokan dan kesulitan pernapasan. Waduh, kalau yang sudah seperti ini, langkah paling bijaksana ya harus membawa penderita ke dokter. Karena mereka lebih tau tindakan darurat apa yang harus diberikan.
Begitulah pengalaman kami. Bila ada anggota keluarga anda terkena kaligata, jangan panik. Insya'allah semua bisa diatasi. Yang penting, sebagai pencegahan, kita harus waspada dan menghindari faktor pencetus alerginya.
Posted by CINDELARAS at 14.03 0 comments
Labels: ARTIKEL

.jpg)
.jpg)



