BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Minggu, 06 Juni 2010

MENGGENGGAM MENTARI

"Rokok..., rokok..., rokok..... Tissue basah, tissue kering, permen kopi, permen lolipop.... Kacang goreng, kacang goreng, kacang..., kacang..., kacang.... Rokok, Pak ? Tissue..., tissue..., tissue.... Tissue, Bu ?", Linggar lincah menawarkan barang dagangan dalam asongan yang dibawanya. Tangannya sebentar meraba gulungan uang dalam saku celananya, baru saja tadi dihitungnya dengan teliti. Lumayan, sesiang ini sudah mendapat 24.500 rupiah, paling tidak akan mendapat untung 5000 rupiah. Barang dagangan yang didapatnya dari Haji Deden itu belum dibayar, masih diutang. Keadaan Enyak yang lumpuh dan Babe yang sudah tidak lagi bisa diajaknya bicara membuatnya memilih untuk mengasong di kereta jurusan Merak-Jakarta Kota. Semua dilakoninya sepulang sekolah. Linggar ingin sekolah setinggi-tingginya, meraih cita-cita untuk jadi ahli komputer seperti Bang Ali yang dikenalnya di masjid dekat sekolah. Bang Ali itu orang hebat, kabarnya dulu Bang Ali sekolah komputer di Bandung, jadi teknisi komputer di perusahaan asing dengan gaji 5 juta saban bulan. Kepala Linggar sampai berdenyut-denyut mendengar jumlahnya. Tak tahu apa yang akan dibelinya untuk lauk makan tiap harinya dengan uang sebanyak itu. Yang paling kerap disantapnya selama ini cuma nasi putih berlauk ikan asin bakar dan sambal rawit saja. 

Seorang lelaki separuh baya melambaikan tangannya dan mengkode 2 batang rokok Bintoel Ungu. Linggar bergegas mendekat, dia tak mau kehilangan rejeki barang sedikit. Dilayaninya bapak itu dengan ramah dan sabar. Beberapa lembar uang diterimanya dengan rasa syukur, dilipat pelan-pelan dan dimasukkannya ke dalam saku celana, bersatu dengan gulungan uang yang telah diperolehnya. Bapak itu pasti sedang pas-pasan sakunya. Kalau sedang banyak uang, pasti bapak itu akan memilih untuk meminta 2 batang rokok Djie Ro Loe, rokok yang kata orang punya cita rasa paling mantap. Linggar bersyukur masih banyak orang yang tidak peduli larangan merokok, paling tidak itu akan membuatnya masih bisa mendapat rupiah untuk bertahan hidup dengan asongan yang dibawanya. Asap mengepul melewati lubang hidungnya, memaksa Linggar untuk mengernyitkan kedua kelopak mata karena perih yang dirasanya. Linggar tak pernah tega merokok. Dia tahu betul berapa harga rokok yang dijualnya. Dia tak tega membuang uang untuk merokok yang pastinya tak akan membuat kedua orangtuanya kenyang. 

Linggar beringsut menjauh dan mulai menawarkan lagi asongannya dari gerbong ke gerbong. Derak-derak roda besi yang beradu dengan rel menambah bisingnya suara dalam kereta yang sudah ramai dengan riuhnya suara cakap-cakap para penumpang. Sebagian tertidur sambil berdiri, bersandar ke dinding gerbong yang berguncang-guncang tiap kali roda besi kereta beradu dengan sambungan rel. Linggar bermandi peluh, kaos oblong warna birunya sebagian telah basah oleh keringat. Sungguh siang yang panas di dalam gerbong yang penuh sesak dengan penumpang. Beberapa pengamen bernyanyi dengan gitar mereka. Beberapa bersuara indah, beberapa lagi bersuara sumbang bagai deritan sambungan antar gerbong yang selalu teriak setiap kali melintas di belokan. Sepasang waria bernyanyi di gerbong depan, melenggak-lenggok dengan rok mini berstoking warna hitam. Linggar bergidik melihatnya. Tampak seorang di antara keduanya mencolek lengan seorang pria muda berpenampilan perlente dengan dasi dan sisiran rambut klimis seperti salesman. Si pria bertampang salesman tampak rikuh menghindar. 

"Tissue basah, Bu.... Tissue kering juga ada....", tawar Linggar pada seorang ibu berjilbab yang menatapnya dari tempat duduk dekat jendela. Beruntung sekali ibu itu, banyak kursi tanpa dudukan di gerbong ini. Sebagian besar rusak karena ulah segelintir orang tak bertanggung-jawab, memaksa para penumpang untuk duduk cuma bertumpu pada gagang besi rangka kursi yang sudah tak lagi mengilap seperti ketika pertama kali kereta ini diluncurkan beberapa tahun lalu.

"Ada rokok Djie Ro Loe, nggak ?", tanya si ibu. Linggar mengangguk, dengan cekatan dia mengambilkan sebungkus rokok Djie Ro Loe dari susunan barang dalam asongan. Ibu itu lalu mengambil selembar uang seratusan ribu rupiah dari dalam dompet, lalu mengulurkannya pada Linggar.

"Nggak ada uang kembalian, Bu.... Saya baru dapat sedikit.... Ada yang pas nggak, Bu ?", tolaknya dengan halus. Ibu itu menggeleng, lalu dia mengulurkan lagi lembaran uang itu pada Linggar. Linggar tak mengerti....

"Ambil saja kembaliannya.... Kamu masih sekolah kan ?", tanya ibu itu. Linggar mengangguk.

"Ambil kembaliannya untuk membayar biaya sekolahmu...", kata si ibu itu lagi. Linggar tersenyum senang, ini sungguh rejeki yang tak terduga.  Linggar berterima-kasih berulang-ulang, lalu dia menyimpan dengan hati-hati lembaran uang seratus ribuan itu dalam saku celananya. Sepertinya hari ini sudah cukup, Linggar ingin bisa cepat-cepat pulang. Dengan semangat dia melangkah mendekati pintu keluar, sebentar lagi kereta akan memasuki stasiun Kebayoran Lama. Linggar akan turun disana, menyeberang rel, lalu menghadang datangnya kereta jurusan Jakarta Kota-Merak kelas ekonomi di jalur sebaliknya.

*
Dullah duduk mencangkung di depan rumah, sebentar-sebentar matanya berputar-putar melihat sekelompok anak yang bermain-main di sepetak tanah yang masih tersisa di antara rumah-rumah tripleks sederhana yang tumbuh berhimpitan seperti susunan korek api di warung Haji Deden. Sering bibirnya tersenyum-senyum sendiri, entah apa alasannya. Tak pernah ada yang tahu apa yang dipikirkan lelaki itu semenjak sawahnya habis disulap menjadi jalan tol.  Tak pernah sepeserpun rupiah didapatnya sebagai ganti rugi.

“PBB ade ?”, tanya kepala desa waktu itu. Dullah menggeleng, sawah itu didapatnya dari peninggalan almarhum Babenya yang meninggal empatbelas tahun lalu. Giriknya sendiri masih dipegang oleh seorang Uwaknya yang waktu itu jadi sesepuh kampung.  Tak dinyana urusan tanah sawah bisa serumit itu. Seluruhnya ada 0,5 hektare, dan Dullah tak mampu menghadirkan surat pembayaran PBB barang sekali. Jaman Babe Marta’I masih hidup, tak pernah ada orang yang mempertanyakan status surat tanah sawah itu. Semua orang di kampung juga tahu kalau tanah yang ada di sana milik keluarga Babe Marta’i.
Dullah pernah menanyakannya pada Wak Bokir, bukan orang yang ramah. Wak Bokir tak suka urusan tanah peninggalan Engkong Sholeh diusik. Selama ini memang Wak Bokir yang paling peduli dengan semua warisan Kong Sholeh yang meliputi rumah, sawah, kebun, dan sebuah masjid di tengah kampung. Kong Sholeh dulu seorang tuan tanah, kerja kerasnya sebagai petani dan pedagang beras mampu membuatnya menjadi orang terpandang di kampung ini.

Wak Bokir mendapatkan hampir seluruh peninggalan Kong Sholeh, dialah anak kesayangan Kong Sholeh yang telah sejak muda mau bersusah-payah meneruskan usaha Kong Sholeh, termasuk mengurus masjidnya. Hasil sawah dan kebun sangat mencukupi, sampai suatu ketika Wak Bokir mencalonkan diri jadi Lurah, bersaing dengan Pak Budi yang Kepala Sekolah SD Pamulang I. Aset tanah, sawah, dan kebun Kong Sholeh dijual satu-persatu demi mendapat suara pendukung. Simpatisan dihargai dengan jumlah uang yang diberikan oleh para calon Lurah. Padahal jauh hari Kong Sholeh pernah berpesan-pesan agar tak seorang pun anaknya boleh mencalonkan diri jadi Lurah. Kong Sholeh tak pernah suka pada politik dan kekuasaan. Baginya berdagang dan bekerja dengan ketekunan adalah hal yang paling dekat dengan kesejahteraan. Dan kesejahteraanlah yang akan membuat hidup manusia menjadi mulia. Bisa memberi sedekah bagi kaum fakir, menyantuni anak yatim, membangun masjid bagi kepentingan sesama. Itu pun sudah cukup. Tapi rupanya sepeninggal Kong Sholeh, keadaan menjadi berubah. Wak Bokir yang sudah mulai berkibar namanya dengan usahanya meneruskan usaha berdagang beras, mulai didekati para kenalan yang terjun di kancah politik. Pengaruh merekalah yang membuat Wak Bokir tergiur dengan jabatan Lurah. Hingga dia berani bertaruh dengan menjual aset peninggalan Kong Sholeh untuk modal menjadi Lurah di desa itu.

Dan kekalahan telak pun terjadi. Wak Bokir ternyata meleset memperhitungkan dukungan orang ‘pusat’ untuk jabatan Lurah. Pak Budi adalah adik lelaki dari istri Camat Pamulang yang ada kala itu. Dan amplop yang diberikannya untuk para pendukung yang datang bagai sungai yang tak pernah kering. Sampai kempis pundi-pundi Wak Bokir mengimbangi sepak-terjang pesaingnya itu. Wak Bokir pun menyerah ketika harta peninggalan Kong Sholeh jadi tinggal separuh. Hanya tinggal 2 hektare sawah, 1 hektare kebun, dan rumah yang ditinggali keluarga Wak Bokir sekarang. Semua diaku sebagai milik Wak Bokir.    Babe Marta’i hanya mendapat seperempat bagian sawah yang tersisa, Cuma 0,5 hektare sawah saja. Cukup untuk memberi makan istri dan seorang anaknya yang saat itu sudah dibangunkan rumah oleh Wak Bokir. Rumah sederhana, tidak sebesar rumah Kong Sholeh yang ditempati Wak Bokir dan keluarganya. Tapi Babe Marta’i adalah orang yang berpikiran sederhana dan tak pernah mengeluh. Seberapapun yang disisihkan untuknya oleh Wak Bokir, diterimanya dengan penuh rasa syukur.

“Bagian orang entu masing-masing. Masih bagus kite dapet setengah hektare sawah dari warisan Kong Sholeh. Wak Bokir entu ude nerusin usahe Kong Sholeh pake kerja keras sejak masih mude. Babe dulu juga diasuh ame die, ikut numpang makan di keluarganye. Babe lahir waktu Kong Sholeh ude berumur barang 54 taon, dan Engkong ninggal waktu Babe berumur 7 taon…. Waktu Engkong ninggal, Uwak lu ude berumur 24 taon. Jadi wajar kalau akhirnye Uwak lu nyang nerusin usahanye. Kalau bukan karena Uwak lu, barangkali Babe kagak bakal jadi kayak sekarang. Tanpa bantuannye ngerawat Babe, barangkali Babe kagak bakal dapet kesempatan punye anak dan bini nyang Babe sayangi dimari…, di rumah eni…. Kite kudu bisa bersyukur, Tong…”, kata Babe Marta’i kala itu.  Maka pesan Babe Marta’i pada Dullah adalah juga untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan olek Wak Bokir. Untuk Babe Marta’i, Wak Bokir ibarat ayah kedua dalam hidupnya. Maka Dullah diwanti-wanti betul untuk tidak melawan apapun yang diinginkan Wak Bokir.

Tapi kemudian Dullah harus menelan pil pahit ketika pembangunan jalan tol itu menelan sawahnya. Selama ini PBB dan girik tanah tempat tinggal dan sawah yang biasa digarapnya selalu diurus Wak Bokir. Dullah sudah meminta dengan sopan berkali-kali pada Wak Bokir mengenai berkas iuran PBB dan salinan girik itu. Tapi Wak Bokir tidak menggubrisnya. Maka Dullah tak bisa mendapat ganti rugi apapun atas tanah sawah yang dulu biasa digarapnya, pada PT yang menjadi pembangun jalan tol itu. Musibah beruntun terjadi ketika istrinya terpeleset jatuh dari kamar mandi dan mengalami patah tulang belakang. Ketiadaan biaya membuat istrinya tak tertangani dengan baik, dan akhirnya lumpuh separuh badan. Sementara Dullah yang terpaksa banting setir jadi tukang ojek, terpaksa harus merelakan sepeda motornya teronggok di kantor polisi setelah remuk dilindas truk pengangkut material pembangunan jalan tol saat bersenggolan di jalan. Untung Dullah selamat. Tapi tidak dengan otaknya yang makin lama makin dalam tertimbun tekanan. Dullah kehilangan pikirannya. Kerjanya sekarang cuma termenung dan duduk mencangkung di depan rumah. Badannya seringkali bergoyang-goyang ke depan dan belakang, dan matanya yang kian cekung berputar-putar memandangi setiap orang yang berlalu-lalang. Anehnya, air matanya sering kali menetes tiap kali melihat anak lelakinya semata wayang, meski tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Linggar tahu air mata Babenya menunjukkan kasih-sayangnya.  

*

Kaki Linggar melompat dengan sigap ke atas lantai gerbong kereta jurusan Jakarta Kota-Merak. Tangannya menggenggam erat kotak asongan yang dicantolkannya di leher dan merapat ke dada. Sedapat mungkin dia menahan agar kotak itu tetap menempel di tubuhnya. Dia tak mau kotak itu jatuh berantakan seperti ketika dia masih baru-barunya menjadi pedagang asongan setahun yang lalu. Semua barang dagangan yang dibawanya berserakan kala itu. Membuatnya merugi lumayan banyak pada Haji Deden yang keesokan harinya masih saja mau menghutanginya kembali. Tapi hari ini Linggar sedang mujur, uang di sakunya sangat cukup untuk membayar hutangnya hari ini. Masih akan tersisa beberapa rupiah, pasti cukup untuk membelikan ibunya beras barang beberapa liter ditambah ikan asin untuk lauk besok.

Tiba-tiba seorang pria mencolek bahunya, Linggar menoleh….

“Kamu Linggar, kan ?”, tanya pria asing itu setengah berbisik. Lelaki berjaket coklat yang bertinggi badan kira-kira 175 cm, memakai kacamata hitam, dan sebelah tangannya tersembunyi dalam saku. Linggar tak kenal pria itu, tapi dia sungguh heran mendengar pria itu menyebut namanya. Linggar masih terpana, pria itu menariknya ke sudut gerbong yang terhalang tumpukan bangku kereta yang telah rusak di belakang.

“Berikan bungkus rokok ini pada ibu yang kau temui di gerbong kereta jurusan Jakarta Kota tadi besok pagi di jam yang sama dan gerbong yang sama. Kalau kamu menolak, kami tak akan segan-segan melenyapkanmu dan kedua orangtuamu yang lemah itu”, bisiknya di telinga Linggar dengan tangan mencengkeram kerah leher. Ini sebuah ancaman. Linggar langsung tahu kalau lelaki asing itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Lelaki itu menyodorkan sebungkus rokok merek Djie Ro Loe ke tangannya, dan memaksanya untuk menggenggam erat-erat barang itu. Tangan Linggar tergetar menerimanya, dadanya berdebur kencang karena takut. Nyalinya ciut. Bagaimana lelaki asing itu tahu keadaan orangtuanya yang tak berdaya ? Apakah selama ini lelaki asing itu telah mengawasi keadaan rumahnya tanpa dia sepengetahuannya ? Bibirnya akan berteriak ketika tiba-tiba lelaki itu membekap mulutnya.

“Jangan pernah berpikir untuk berteriak disini. Teman-temanku sudah mengawasi rumahmu. Kalau kamu menolak, aku akan memaksa mereka melenyapkan bapakmu yang sinting dan ibumu yang tak bisa berjalan itu. Jadi jangan coba-coba melawan !”, bisik lelaki itu tegas. Bahu Linggar bergetaran tak menentu, lelaki itu tahu perihal Babe dan Enyaknya.

“Berikan rokok itu besok pada ibu yang sudah memberimu selembar seratus ribuan itu. Jangan lupa ! Di gerbong yang sama, di waktu yang sama, di jurusan yang sama. Aku akan menunggumu di stasiun Kebayoran Lama untuk kiriman berikutnya. Paham ?!”, bisik lelaki itu lagi. Linggar menganggukkan kepala, kedua tangannya masih bergetar karena takut. Lalu lelaki itu mengendorkan bekapannya.

“Jangan takut. Yang ada dalam rokok ini bukan narkoba. Ini demi kepentingan negara…”, bisik lelaki itu sebelum berbalik dan meninggalkan Linggar sendirian di sudut gerbong. Lelaki itu melompat turun dari pintu gerbong segera setelah kereta memasuki stasiun Pondok Ranji. Linggar mengawasinya hingga punggung lelaki itu tak tampak lagi. Termangu, Linggar melihat bungkus rokok Djie Ro Loe itu di tangannya. ‘Kalau tidak mau menyampaikan pada ibu yang sudah memberiku uang tadi, aku dan orangtuaku akan dilenyapkan ! Itu artinya kami akan dibunuh !’, Linggar tercekat membayangkan apa yang bakal terjadi bila dia menolak. Dengar gemetaran, tangannya menyelipkan bungkus rokok bersegel itu di belakang punggung papan asongan. Kereta bergerak lagi ke arah Sudimara, disana Linggar akan turun dan pulang ke rumahnya.

Gerbong berjalan melambat kala memasuki stasiun Sudimara, kaki Linggar melompat dengan hati-hati ke atas lantai dasar stasiun. Jarak antara lantai gerbong dengan lantai dasar mencapai 1 meter, bukan hal mudah bagi siapapun untuk melompat dengan selamat, apalagi dengan barang bawaan asongan seperti yang dicangklong Linggar saat ini. Seorang nenek tua pedagang buah tampak kepayahan menurunkan kakinya dari atas lantai gerbong, keranjang besar yang dibawanya sudah diturunkan terlebih dahulu oleh seorang lelaki yang iba melihatnya. Kain nenek itu tergulung sampai ke pahanya yang kurus dan kendor, sama sekali bukan pemandangan yang menarik bagi siapapun yang melihatnya.

Linggar bergegas pulang, dirabanya gulungan uang yang tersimpan di saku. Teringat pada selembar seratus ribuan yang diterimanya dari ibu yang ditemuinya di gerbong jurusan Kota tadi siang. Entah mengapa sekarang dia merasa menyesal telah menerimanya. Andai saja dia tidak bertemu ibu itu di kereta, andai dia tidak menerima uang seratus ribuan itu darinya, tentu saat ini tak akan ada orang yang berniat mengancam jiwanya. ‘Tapi lelaki itu berkata kalau isi bungkusan ini bukan narkoba…’, batin Linggar sambil mengelus bungkus rokok yang masih bersegel itu. Itu melegakan. Setidaknya dia tak akan ditangkap polisi karena membawanya. Linggar pernah melihat bagaimana Mang Kodir yang juga berjualan asongan di kereta diborgol polisi karena kedapatan menjual ganja. Linggar tak mau mengalami hal yang sama. ‘Hmm… Lelaki itu juga berkata bila yang aku bawa ini untuk kepentingan negara….’, batinnya lagi. Kepentingan negara ? Apakah saat ini dia sedang berurusan dengan agen rahasia negara ? Dada Linggar bergetar penasaran. Melakukan hal untuk kepentingan negara adalah hal mulia. Apakah dia sedang ditunjuk menjadi kurir agen intelijen negara ? Kalau itu benar terjadi, pasti itu sangat berbahaya, sekaligus membangkitkan rasa penasarannya. Linggar merasa bukan siapa-siapa, dia tak berarti. Bila menjadi pesuruh bagi petugas negara untuk kepentingan negara, pasti dia akan merasa bangga melakukannya. Seseorang yang berdiri di belakang tiang listrik di sebelah warung kopi sekitar stasiun mengangguk padanya. Orang itu mengawasi. Kini Linggar tahu, dirinya tak sendiri. Pasti lelaki di belakang tiang listrik itu teman si lelaki asing yang telah memberikan sebungkus rokok tadi di kereta. Kuduk Linggar meremang, lelaki asing itu betul-betul tidak main-main dengan perkataannya.

Linggar mempercepat langkahnya, dia ingin segera sampai ke toko Haji Deden untuk membayar hutang dan membeli keperluan untuk Enyak dan Babenya. Lima liter beras, seperempat kilo ikan asin, seperempat kilo minyak goreng, dan sebungkus teh kering merek Sorso. Itu dirasa cukup banyak. Haji Deden tertawa senang ketika dia berkata mau melunasi hutangnya. Dengan senyum lebar pedagang toko terbesar di kampung Linggar itu menawarinya untuk mengambil barang dagangan lagi dari tokonya. Linggar mengangguk saja, uangnya masih cukup untuk membeli keperluan dagang besok pagi.

“Lagi banyak duit, Lu ?”, tanya Haji Deden.
“Iya, Be. Lumayan…”, jawab Linggar pendek. Dia tak mau pedagang berbadan gemuk dan ramah itu tahu kegelisahannya. Semua barang yang dibelinya dibawa dengan sebelah tangan. Sementara tangannya yang lain erat memegang kotak asongan. Kaki Linggar bergegas menuju rumah, dia ingin cepat-cepat melihat keadaan kedua orangtuanya yang serba kekurangan.

Pintu berderit terbuka ketika Linggar akan memasuki sebuah rumah semi permanen yang cuma punya dua kamar itu. Sebuah kamar untuk tidur, dan sebuah kamar lainnya untuk memasak, makan, dan sekedar menonton televisi hitam-putih, satu-satunya benda yang masih tersisa setelah Dullah, Babenya, kehilangan sawah dan sepeda motornya. Kamar mandi kecil ada di belakang rumah ini, dekat dengan kebun belakang yang cuma berukuran 2x3, hanya cukup untuk menanam beberapa batang singkong. Daun singkong dipetik untuk tambahan gizi yang cukup berguna bagi keluarganya yang sangat sederhana.

“Sudah pulang ? Tumben gini ari ude nyampe rumah ?”, sapa Enyak dari dalam kamar.
“Sudah, Nyak. Ni aye beliin beras ama barang keperluan laen…”, jawab Linggar sambil meletakkan bungkusan tas kresek ke sudut dapur. Enyaknya mengesot mendekat, kakinya memang lumpuh, tapi dia tetap bisa memasak dan melakukan hal lain seperti membersihkan bagian dalam rumah dan menyeterika baju. Si Enyak terpana melihat banyaknya barang belanjaan Linggar, tak biasanya anaknya belanja sebanyak dan selengkap itu.

“Banyak amat nyang dibeli ? Lu banyak duit ?”, tanya Enyaknya. Linggar tersenyum.
“Ada yang baek mau ngasih kita rejeki, Nyak. Katenye uang kembaliannya kagak usah dibalikin, buat aye aje…”, jawab Linggar.
“Syukur…syukur…. Jaman sekarang masih ada orang baek ama kite…. Moga-moga nyang ngasih duit jadi tambah kaye, banyak rejekinye, slamet idupnye….”, sahut Enyak. Linggar tersenyum pahit, uang itu memang cukup banyak untuknya. Tapi uang itu juga yang membawanya kepada si lelaki asing dalam kereta.

“Babe mana, Nyak ?”, tanya Linggar celingukan.
Disono noh, lagi tiduran di kamar. Biarin aje. Dari tadi pagi ngeliatin orang mulu di jalan. Kali kecapekan duduk di bawah pu’un. Nih, minum teh anget. Kalo ude cepetan mandi, ganti pake baju bersih. Tadi ade si Mirah nyamper kesini, nanyain PR matematika. Nyak jawab kagak ngarti. Nyak suruh aje si Mirah dateng lagi entar sore kalo dia emang perlu nanya… “, kata Enyak mengabarkan. Linggar mengangguk saja, diletakkannya kotak asongan dengan hati-hati di atas lemari baju, lalu dia mengambil handuk yang tergantung di jemuran di belakang rumah. Sebentar kemudian hanya terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi.

*

Sepulang sekolah, Linggar cepat-cepat pulang dan mengambil kotak asongan yang disimpannya di atas lemari. Babenya tampak duduk di bawah pohon duku seperti biasa. Mencangkung sambil menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan belakang. Nasi dan lauk ikan asin yang disiapkan Enyaknya dimakan dengan tergesa. Selesai makan siang, dia segera berlari ke stasiun kereta. Sebentar lagi kereta jam 13.50 jurusan Merak-Jakarta Kota akan segera sampai disana. Linggar tak mau kesempatan bertemu dengan ibu itu terlewat. Dia ingat betul ucapan pria asing yang kemarin siang ditemuinya di kereta. Ya !, sebungkus rokok yang disisipkannya di punggung papan asongan itu harus diberikannya kepada ibu itu. Atau dia akan celaka bila titipan itu tak sampai ke tangan ibu yang dituju.

Tepat jam 13.50, kereta itu datang juga memasuki stasiun. Suara gemuruh mesin lokomotif diesel terdengar memekakkan telinga. Linggar menghitung dengan teliti jumlah gerbong yang dilewatinya. Ibu itu kemarin ditemuinya di gerbong kelima. Dengan sigap kakinya melompat ke dalam gerbong kelima. Setelah celingak-celinguk ke kiri-kanan, akhirnya dilihatnya juga ibu yang kemarin ditemuinya. Wanita paruh baya itu melambaikan tangannya, Linggar mengangguk sopan. Dengan hati-hati dia mendekat ke arah wanita itu. Jilbab yang dipakainya memang tak bisa menunjukkan seputih apa rambutnya, tapi wajah wanita itu memang sudah tidak lagi muda.

“Bu…”, sapa Linggar.
“Ada Rokok Djie Ro Loe ?”, tanya ibu itu. Linggar mengangguk. Dirabanya bungkus rokok Djie Ro Loe yang terselip di punggung papan asongan, lalu diberikannya pada si ibu. Wanita itu menerima dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyodorkan selembar uang seratus ribuan.

“Maaf, Bu. Kali ini gratis saja…”, kata Linggar setengah berbisik. Dia tak mau menerima uang itu. Dia tak mau berurusan lagi dengan pria asing yang kemarin dia temui. Ibu itu mengernyitkan alisnya.
“Gratis ? Kamu bercanda ?”, tanya ibu itu. Linggar menggeleng.
“Tidak, Bu. Saya sungguh-sungguh. Uang yang kemarin masih cukup untuk membayar rokok ini. Terima kasih…”, kata Linggar menolak dengan halus.
“Ah…., sudahlah, Tong. Ibu juga punya anak-anak asuh di banyak tempat. Ibu suka membantu anak-anak yang mau berusaha dan tetap terus bersekolah. Seragammu yang membuat Ibu senang membantu. Beberapa kali Ibu lewat di daerah ini, Ibu selalu melihatmu berkeliling gerbong kereta untuk mengasong. Terimalah, kalau kamu menerima uang ini, artinya kamu sudah membuat hidup Ibu berarti…”, kata ibu itu dengan tatapan lembut. Linggar termangu. Ibu ini…, apakah dia juga teman pria asing yang ditemuinya kemarin ? Mengapa ibu ini tampak begitu tulus ? Tapi sudahlah…, bagaimanapun Linggar tetap takut kalau-kalau keluarganya terancam. Uang itu akhirnya diterimanya dengan sopan. Tak lupa Linggar mengucapkan terima kasih berkali-kali padanya. Uang itu lalu dilipat dan dimasukkan ke dalam saku celana. Linggar berjalan berkeliling kereta. Lalu berdiri mendekat ke pintu gerbong ketika kereta sudah memasuki stasiun Kebayoran Lama. Pria asing itu memintanya bertemu di tempat itu. Adakah pria itu disana ?

Linggar melompat turun dari lantai gerbong kereta. Agak sempoyongan karena harus menahan kakinya yang sedikit terpeleset oleh air hujan yang menggenang di tepian peron. Kereta tak lama singgah disana, tak lama sesudahnya kereta itu bergerak kembali melanjutkan jalannya menuju stasiun Jakarta Kota. Linggar melihat-lihat kesana-sini untuk mencari wajah lelaki yang kemarin ditemuinya. Tapi lelaki itu tak tampak batang hidungnya. Linggar terus saja mencari-cari lelaki itu, sampai akhirnya sebuah kereta yang berjalan di arah sebaliknya mendekat memasuki stasiun. Linggar bergegas menyeberang rel kereta, lalu berdiri menunggu datangnya gerbong ke tepi peron. Kakinya melompat naik ke dalam gerbong, dia mencoba terus mencari wajah lelaki asing itu. Tak ada juga yang mirip dengan lelaki asing itu disana. Linggar heran bukan main. Mengapa lelaki itu berkata akan menemuinya di stasiun Kebayoran Lama ? Apa maksudnya dengan urusan kepentingan negara ? Apakah lelaki itu berbohong ? Tapi pelan-pelan Linggar berubah lega, kalau lelaki itu sudah tidak tampak lagi di kereta itu, berarti tidak akan ada lagi orang yang akan mengancam keluarganya.

Linggar tetap waspada saat sampai di stasiun Sudimara. Dia melihat-lihat sekeliling dengan seksama, tak ada lagi lelaki asing lain yang bersembunyi di balik tiang listrik seperti kemarin. Tidak juga di samping warung kopi.Tidak ada lagi yang tampak mengawasi. Linggar betul-betul lega sekarang. Ancaman itu sudah tak ada lagi.

*
Pagi itu Linggar berangkat sekolah dengan berjalan kaki seperti biasanya. Dia cuma sempat makan lima sendok nasi dan sepotong ikan asin untuk sarapan. Air teh tawar yang disediakan Enyaknya sudah cukup untuk memberikan energi. Hari ini akan ada ulangan di sekolah, ulangan Matematika. Langkah Linggar tersendat saat melintasi masjid. Bang Ali tampak akan memasuki gerbang masjid peninggalan Kong Sholeh itu. Maklum, Bang Ali lah yang sekarang merawat masjid bersama dengan dua orang pemuda lainnya. Kata orang, Bang Ali itu anak yatim-piatu. Dia dulu besar di pondok pesantren. Tentu saja Bang Ali pandai membaca Al Qur’an. Bahkan di sela-sela rutinitas pekerjaannya sebagai teknisi komputer di perusahaan swasta, Bang Ali masih menyempatkan mengajar mengaji anak-anak di TPA.

“Berangkat, Tong ?”, sapa Bang Ali. Linggar tersenyum bersemangat.
“Iye, Bang. Ade ulangan…”, jawabnya singkat. Bang Ali melambaikan tangannya.
Ulangan matematika di sekolah berjalan dengan sempurna, tidak ada sebuah pertanyaan pun yang tidak dapat dijawabnya. Linggar merasa lega setelah ulangan itu selesai. Dengan langkah ringan Linggar berjalan ke rumah. Siang ini dia akan berjualan lagi, dan dia ingin berjualan sampai ke stasiun Kota. Sudah beberapa minggu dia tidak berjualan sampai kesana. Linggar ingin melihat-lihat lagi stasiun tua itu, stasiun yang dibangun sejak jaman Belanda, dengan ornamen mozaik kaca di banyak jendelanya.

Linggar sedang berjalan melintasi masjid saat dia melihat seorang ibu separuh baya yang sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda. Itu Bang Ali dan ibu yang ditemuinya di kereta kemarin ! Apakah mereka saling mengenal satu sama lain ? Linggar mengintip dari balik gerbang masjid. Kedua orang itu memang tampak akrab. Keduanya bercakap-cakap tentang sesuatu yang tidak Linggar dengar. Tiba-tiba ibu itu mengeluarkan sebungkus rokok Djie Ro Loe dari dalam tas tangannya, lalu memberikannya pada Bang Ali. Dan Bang Ali menerimanya dengan seulas senyum di wajah. Apakah rokok itu rokok yang sama dengan yang diberikan oleh lelaki asing itu ?, Linggar bertanya-tanya dalam hati. Dia terus saja mengintip. Tapi lalu bersembunyi ketika Bang Ali tampak menoleh ke arahnya. Untung tidak ketahuan. Cepat-cepat Linggar berlalu dari sana, dia masih ingat niatnya untuk berjualan sampai stasiun Kota. Dia berharap hari ini akan mendapat hasil lebih banyak agar bisa ditabung. Sebentar lagi dia akan ujian SMP, dan sekolah sudah mengumumkan akan menyelenggarakan try-out bersama.

*
Seorang copet yang naas tengah ramai dihakimi massa di atas peron ketika Linggar sampai disana. Muka copet itu babak belur karena dihadiahi bogem mentah oleh orang-orang yang merasa gemas dengan apa yang dia lakukan. Seorang perempuan muda tampak berdiri di pinggir peron, dialah yang telah berteriak kecopetan hp siang itu. Dua orang POLSUSKA melerai dan mengamankan si copet sial ke dalam kantor kepala stasiun. Darah menetes dari hidungnya yang memerah karena lebam. Copet itu mengalami luka robek di atas alis kanannya. Hp sang gadis sudah kembali kepada yang empunya. Tapi si gadis pun terpaksa tertahan di stasiun untuk menunggu proses selanjutnya. Seorang petugas stasiun telah melaporkan kasus ini ke kepolisian, dan para petugas polisi itu sebentar lagi akan sampai untuk mengusut perkara.

Jam 13.50, Linggar sudah masuk lagi ke kereta Merak-Jakarta Kota. Dia kembali melihat ibu itu di gerbong yang sama. Ibu itu melambaikan tangannya, Linggar mengangguk dan mendekat ke arahnya.

“Ada rokok Djie Ro Loe ?”, tanya ibu itu lagi-lagi. Linggar menyodorkan rokok dari selipan karet dalam papan asongan.
“Tadi Ibu baru saja bertemu dengan seorang anak asuh Ibu di desa dekat sini…”, kata ibu itu.
“Saya tahu, Bu…”, jawab Linggar. Ibu itu terheran.
“O..ya ? Kamu melihat Ibu ya ?”, tanya ibu itu lagi.
“Ya…, saya melihat Ibu bicara dengan Bang Ali. Rumah saya dekat dengan masjid. Bahkan masjid itu merupakan masjid yang dibangun Engkong saya…”, kata Linggar. Si ibu terlihat takjub, dilihatnya anak tanggung itu dengan seksama. Lalu ibu itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi itu masjid yang dibangun Engkongmu ? Dan kamu kenal dengan Ali ya ? Hmm…, dia adalah anak asuh Ibu yang pertama. Dulu dia tinggal di asrama yatim-piatu, Ibu yang membiayai sekolahnya hingga lulus jadi teknisi komputer seperti sekarang. Dia itu sudah seperti anak Ibu sendiri. Ibu sayang sekali padanya…”, kata ibu itu dengan senyum dan mata menerawang. Ahh…, kalau benar ibu ini adalah ibu asuh Bang Ali, pastilah beliau orang yang baik. Bang Ali sangat baik pada semua orang. Pastilah kebaikan ibu ini yang telah membimbingnya menjadi orang baik. Tapi…, apa hubungan ibu ini dengan lelaki-lelaki asing yang dulu dijumpainya ?

“Ali itu suka sekali mengajar mengaji. Kesukaan lainnya yang Ibu ingat adalah merokok Djie Ro Loe. Makanya Ibu selalu membawakan rokok kesukaannya setiap kali berkunjung untuk menengoknya. Tadi Ibu sudah memberikan rokok yang Ibu beli darimu kemarin. Dan dia senang sekali menerimanya…”, terang ibu itu lagi. Linggar mengangguk-angguk, dia baru tahu kalau Bang Ali suka rokok Djie Ro Loe. Selama ini Bang Ali tak pernah tampak merokok saat mengajar mengaji.

“Saya ingin bisa sekolah jadi teknisi komputer seperti Bang Ali. Makanya saya bekerja jadi pedagang asongan seperti sekarang, Bu. Supaya saya bisa membiayai sekolah saya…. Saya sangat hormat pada Bang Ali. Saya suka Bang Ali mengurus masjid peninggalan Engkong saya. Sekarang masjid Engkong banyak jemaatnya, anak-anak juga suka belajar mengaji disana. Semua karena ada Bang Ali….”, kata Linggar. Ibu itu tersenyum lagi.

“Dia pasti bersyukur karena diterima dengan baik oleh warga di kampungmu. Dia juga pasti akan senang karena telah berhasil menularkan ilmu agama yang diperolehnya di pesantren waktu dulu…”, kata ibu itu.

“Ibu turun di Tanah Abang, rumah Yatim Piatu yang Ibu asuh ada di daerah itu. Mampirlah kapan-kapan ke tempat kami, nama rumah kami Al Barokah…”, kata ibu itu kemudian. Linggar mengangguk dengan sopan. Ibu itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu gerbong kereta. Kereta ekonomi berkekuatan diesel itu melambat, lalu berhenti di stasiun Tanah Abang. Si ibu lalu turun disana. Linggar hanya menatapnya. Hari itu Linggar meneruskan perjalanannya menjajakan asongan sampai ke stasiun Kota.

*
Jam 17.30, hari mulai gelap saat Linggar tiba kembali di Sudimara. Di stasiun terlihat orang-orang yang berlalu-lalang, lebih ramai dari biasanya. Dua orang lelaki saling berbincang di depan sebuah warung rokok. Linggar tak sengaja mendengar percakapan mereka….

Kesian tuh, baru ngebukak bungkusnya, eh…tau-tau meledak ! Pegimana jadinya ya orang entu ?”, ucap seorang lelaki berusia 40-an.
“Iya…, ari gini ade-ade aje kejadiannye…. Pan orang entu biasanye jadi penjaga masjid Al Iman. Die juga sering jadi teknisi komputer di kantoran. Dipanggil-panggil buat ngebetulin komputer gitu…. Kesian amat nyampe dapet bom, yak ?”, kata pria lain yang ada disebelahnya.

Hati Linggar berdesir mendengar nama masjid Engkongnya disebut-sebut kedua orang itu. Terlebih lagi ketika mereka memperbincangkan soal seorang penjaga masjid yang bekerja jadi teknisi komputer. Bukankah itu Bang Ali ? Bang Ali terkena bom ? Linggar terkesiap menyadarinya. Dia mempercepat langkah untuk bisa selekasnya sampai ke masjid. Orang-orang tampak berkerumun di depan halaman masjid yang luas. Sebuah kamar di bagian samping kiri masjid yang biasa dihuni oleh Bang Ali tampak porak-poranda. Sebuah ambulans berhenti di sebelahnya. Pintu mobil ambulans itu terbuka. Linggar mencari-cari wajah seseorang yang dikenalnya. Tapi yang tampak dalam ambulans itu hanya sebuah kantong plastik warna oranye berisi tubuh seseorang. Darah bercampur debu terlihat menempel di permukaan luar kantong plastik itu. Dan beberapa petugas yang sedang sibuk memeriksa keadaan di lingkungan masjid tampak berlalu-lalang. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba menyeruak masuk ke halaman masjid. Dia berteriak histeris ketika mendapati sebuah ambulans telah terisi kantong mayat. Ibu itu jatuh terduduk. Linggar mengenalinya, dialah ibu asuh Bang Ali yang siang tadi ditemuinya di atas gerbong kereta.

Seorang petugas polisi yang ada di tempat perkara mendekati si ibu. Beberapa pertanyaan tampak dilontarkan padanya. Si ibu tampak menjawab dengan terbata-bata. Tiba-tiba ibu itu memandang ke arah Linggar yang berdiri di barisan depan kerumunan, bibirnya tergetar, lalu telunjuknya teracung padanya.

“Itu ! Itu penjual rokok yang sudah memberikan pada saya ! Dia yang menjual rokoknya !”, teriak ibu itu mengagetkan. Semua mata tertuju pada Linggar, Linggar pun tak kalah terkejut. Dan ketika dua orang polisi berlari mendekat ke arahnya, Linggar pun kalut. Dia berusaha lari keluar dari kerumunan orang-orang yang menonton di sekitar masjid. Langkah seorang pemuda tanggung tak lebih cepat daripada larinya para petugas kepolisian yang terlatih. Linggar tertangkap dengan cepat. Tangannya ditelikung ke belakang punggung, Linggar mengaduh-aduh. Dua orang polisi itu menyeretnya masuk ke dalam mobil polisi, kedua tangannya diborgol, sementara kotak asongannya masih dengan setia menggantung di leher. Dua orang petugas mengapit di kiri-kanannya. Seorang lainnya menyetir di depan. Mesin mobil dihidupkan, dan sirine pun dibunyikan. Mobil polisi segera berlari menuju kantor polisi di daerah Serpong. Linggar terlalu takut hingga terkencing-kencing. Dan dia mulai menangis.

“Nyaaak….. Nyaaak….. Aye salah apa, Nyaaak….?”, teriaknya dalam tangis.

Tiba-tiba seorang petugas polisi yang ada di sebelah kirinya menoleh, tanpa diduga sekepal tinju menohok pipi Linggar. DHUAGG !!! Mata Linggar berkunang-kunang, lalu lambat laun semua tampak menjadi gelap…, dan semakin gelap…..






SELESAI
Bintaro Jaya 3A, 7 Juni 2010.


Kamis, 03 Juni 2010

JEJAK DI TEPIAN TELAGA



"Lihat itu ! Ada ikan !", Tommy menunjukkan ujung jarinya ke arah telaga. Berly melongok kesana. Seekor ikan gabus berenang perlahan di antara rumpun gelagah yang tumbuh menjulang. Berly tertawa-tawa senang. Belum pernah dia lihat ikan hidup berenang sedekat itu di sebelah kakinya. 

"Itu namanya ikan gabus bego...", kata Tommy. Alis Berly mengernyit, sungguh nama yang aneh.

"Mengapa dikatakan begitu ?", tanyanya heran.

"Lihat ini...", kaki Tommy melangkah perlahan ke dekat ikan seukuran telapak tangan itu. Dalam waktu sekejap, di tangan Tommy tiba-tiba tergenggam ikan gabus malang yang terpaksa harus kesusahan bernapas di luar air habitat hidupnya.

"Ini disebut ikan gabus bego karena untuk menangkapnya gampang banget. Ikan kayak gini mudah didapat...", kata Tommy sambil menunjukkan ikan gabus dalam genggamannya ke dekat wajah Berly. Kasihan, mulut ikan itu komat-kamit kelelahan, ikan itu tidak berontak ingin lepas dari genggaman. Badannya lemas saja, tidak melawan. Barangkali itu pula yang membuatnya dijuluki ikan gabus bego.

"Lepaskan.... Kasihan, Tom.... Lepaskan ikan itu....", kata Berly iba. Tommy menurut, ikan itu dilepaskan kembali ke dalam air. Diam sebentar, lalu ikan itu berenang kembali dan menjauh.

"Pulang, yuk ?!" ajak Berly. Tommy mengangguk, mereka berjalan menuju tanah di tepian telaga. Kaki-kaki telanjang itu berkecipakan di dalam air, sejuknya air telaga yang dipenuhi ki ambang memberikan kesan sangat menyenangkan. Kaki Tommy melangkah dengan lincah, dia melompat-lompat sesekali. Membuat langkahnya semakin cepat sampai ke tepian. Tiba-tiba Berly berteriak kecil....

"Aduh....!", tubuhnya terguling ke samping, kakinya tersangkut terjerat akar gelagah yang mengurat di dasar tepian telaga. Bajunya basah kuyup, hingga rambutnya pun ikut lengket terkena air. Tommy malah tertawa geli melihatnya, sudah seringkali dia wanti-wanti agar Berly berhati-hati menjaga langkahnya selama berjalan berkeliling tepian Telaga Arum yang indah nan asri itu. Telaga yang bersahabat, dengan banyaknya karamba ikan tersebar di seluruh penjuru, cukuplah bila dikatakan telaga ini adalah pusat dari segala kegiatan masyarakat di Desa Karangwuni. Cukup menempuh perjalanan dengan sepeda motor selama 30 menit saja dari kota untuk mencapai tempat ini. Dan entah mengapa Tommy sangat senang berada di telaga itu, tempat yang telah dikunjunginya berpuluh-puluh kali sejak SMP. 







"Mari...", tangan Tommy terulur mencoba menolong Berly yang masih saja terduduk di atas dasar tepian telaga yang cuma setinggi lutut orang dewasa. Tangan Tommy disambutnya, lalu....hup ! Berly pun berdiri tegak kembali. Sayang..., bajunya jelas tidak akan kering sampai dia sampai ke rumah nanti. Berly menggerutu sendiri, kelalaiannya yang telah membuatnya harus tersungkur di tepian telaga tadi membuatnya sedikit kesal.

"Mengapa sih kamu suka sekali datang kesini ? Coba kalau tadi kita jalan-jalan ke Puncak Arum, pasti aku tak akan basah seperti sekarang...", omelnya. Tommy tersenyum saja.

"Kalau kamu hati-hati, kamu pasti tidak akan terjatuh seperti tadi...", balas Tommy, membuat Berly bertambah kesal karena tampak konyol dalam setelan T-shirt dan blue jeansnya yang tampak sedikit tua warnanya karena basah oleh air.

"Ke Puncak Arum ?", ajak Tommy. Kontan Berly menggeleng, dia tak mau terlihat semakin konyol di hadapan orang-orang yang mungkin bakal melihatnya di Puncak Arum di saat hari menjelang sore seperti sekarang.

"Aku mau pulang !", Berly merajuk. Dia melangkah ke tepian telaga, mengambil sepasang sepatu kets yang teronggok disana, lalu berjalan menjauh ke arah sepeda motor yang terparkir di bawah sebuah pohon dadap. Tommy mengangkat bahu, cepat-cepat dia mengambil sepatunya dan memakainya juga. Wajah Berly masih cemberut, air masih tampak menetes dari anak rambut. Tommy tak mau banyak komentar, dia segera menghidupkan mesin motor, lalu menarik gasnya segera setelah Berly naik di boncengan.

"Nanti kita nonton, yuk ?!", suara Tommy memecah kebisuan. Berly tak menjawab, hatinya masih sebal. Rasa dingin menyergap dengan hebat ketika angin mulai berhembus menerobos sela-sela pori baju basahnya. Membuatnya menggigil, seakan hampir beku di sadel belakang. Bibirnya bergetar, giginya gemeretuk. Kedua tangannya terkepal. Tommy kian lama kian merasakan getaran tubuh Berly di punggungnya, dia melihat sejenak ke arah spion. Tampak bibir Berly yang sedikit membiru. Tommy terkejut melihatnya. Segera dia meminggirkan sepeda motornya, lalu turun melihat keadaan Berly. Tangan Berly terasa begitu dingin.

Tommy membuka jaketnya, dan memakaikannya di tubuh Berly yang kedinginan. Berly tak berucap sepatah pun. Udara pegunungan yang semakin terasa dingin karena akan datangnya malam, membuatnya harus bekerja keras menghilangkan rasa beku itu dari dalam tubuhnya.

"Maaf.... Harusnya kita pulang siang tadi.... Aku terlalu senang bermain di telaga atas, aku seharusnya tidak membiarkanmu berjalan sendiri disana...", kata Tommy menyesal. Deretan pohon teh yang terhampar di sisi kiri kanan jalan hanya tampak remang-remang. Jam sudah menunjukkan pukul 5.46 sore, dan mereka masih berada di pertengahan jalur pulang menuju kota, 20 km dari Telaga Arum.

"Kita jalan pelan-pelan, OK ? Kita cari warung kopi supaya kamu bisa sedikit hangat...", ajaknya lagi. Motor distarter, lalu melaju perlahan turun ke arah kota. Lampu jalan yang cuma berjumlah sedikit membuat Tommy harus ekstra hati-hati melihat jalan. Dia tak mau tertimpa celaka karena salah kira melihat jalan. Terpaan angin dingin menusuk dari arah depan, untungnya dia memakai kaos lengan panjang. Tiba-tiba kedua tangan Berly terulur ke depan, lalu melingkar di pinggang Tommy dengan erat. Kepala Berly bersandar di punggung Tommy, kali ini tak lagi terasa getaran menggigil. Tommy lega, dia berharap semoga Berly tak masuk angin karenanya.

*

"Aku mau ke Papua.... Aku mau melihat Danau Bira...", kata Tommy suatu kali. Berly tertegun, baru saja wisuda sarjana selesai mereka lalui. Sudah belasan kali Tommy ikut ekspedisi ke danau-danau terpencil di hampir seluruh penjuru negeri. Lalu tiba-tiba sekarang Tommy mengatakan akan pergi ke Papua ?

"Kita baru saja usai wisuda. Tidakkah kau ingin rehat barang sejenak setelah padatnya agenda kita di semester ini ? Mengapa harus ke Danau Bira, Tom ? Tempat itu jauh sekali...", kata Berly resah. Hobi Tommy ini, makin lama makin menjadi saja. Berly tahu betapa cintanya Tommy pada alam danau. Tak disangkalnya bila pengetahuan Tommy tentang perairan air tawar sungguh sangat luas, nyaris sepaham sarjana biologi, meski sesungguhnya dia kuliah di fakultas kedokteran.

"Aku harus kesana, itulah tempat yang telah aku impikan sejak aku kecil. Aku sering mendengar cerita Oom Boy tentang tempat itu. Dan rasanya sekarang bekalku telah cukup. Apalagi aku juga akan membawa bendera kampus dalam ekspedisi ini. Lumayan kan ?", sanggah Tommy dengan bangga. Nilainya yang tinggi telah mendudukkannya sebagai salah satu orang yang ditunjuk oleh kampus sebagai anggota tim ekspedisi Danau Bira. Tugasnya kali ini adalah untuk mengetahui sejauh mana masyarakat di sekitar danau itu mengenal arti sanitasi dan kesehatan.

"Tapi tidak harus sekarang kan, Tom ? Kita harus memikirkan diri kita sendiri dulu, baru nanti kita bisa ikut serta memberikan kontribusi kita bagi kampus atau lembaga lainnya.... Aku ingin kita bekerja, lalu menikah....", kata Berly sendu. Tommy terpana mendengarnya. Menikah ? Setelah berpacaran sejauh ini, cuma itukah yang dipikirkan Berly ? Tommy mencoba bertanya....

"Kita baru 24 tahun. Apakah kau sudah semantap itu ? Kau ingin kita menikah ?", tanya Tommy ragu-ragu.

"Iya, Tom.... Tidakkah kau bosan berpacaran ? Aku ingin kau jadi suamiku, jadi ayah anak-anakku. Sudah hampir 6 tahun aku mengenalmu. Sepertinya tak ada alasan lagi untuk menunda pernikahan kita. Kita sudah wisuda, lalu apa lagi yang akan kita tunggu ?", kilah Berly. 

Tommy tertunduk, masa 6 tahun pengenalan memang bukan waktu yang pendek. Tommy juga ingin Berly menjadi istrinya, memberikannya anak-anak yang lucu, menemaninya sebagai pendamping hidup. Tapi tidak sekarang..., belum saatnya.... Tommy masih ingin terbang bebas bagai burung mengarungi indahnya alam negeri khatulistiwa yang serbaneka ini. Dia ingin keterampilannya mengobati pasien dapat bermanfaat bagi orang-orang di pedalaman. Kesempatan ke Danau Bira adalah jalan menuju cita-cita. Tapi menikah ? 

Tommy tanpa sadar menggelengkan kepalanya.... Gerakan yang dilihat dengan nyata oleh Berly yang tiba-tiba saja merasa begitu kecewa. Pengorbanannya untuk selalu mendampingi dan mencintai Tommy selama ini, tidakkah itu cukup bagi Tommy untuk menghadiahinya dengan sebuah lamaran ? Air mata bening tampak menggantung di sudut pelupuk mata, Berly berusaha menahannya dengan sekuat tenaga. Tapi tak kuasa. Isak lirih Berly terpecah sudah, Berly bangkit dari bangku di bawah flamboyant, dan berlari.... Berlari tanpa peduli Tommy berteriak memanggil namanya hingga berkali-kali..., dan berkali-kali....

*

"Dok..., kelihatannya capek sekali ?", sapa seorang perawat kepala. Berly memaksa tersenyum, bekerja di bagian UGD memang memerlukan tenaga ekstra. Hari ini ada beberapa pasien patah tulang yang masuk, mereka korban kecelakaan sepeda motor. Berly heran betul kalau memikirkan betapa saat ini jumlah sepeda motor di jalan kian hari kian menyemut. Kemudahan yang diberikan pihak leasing dalam memberikan kredit kepemilikan kendaraan roda doa sungguh luar-biasa. Seringkali Berly bertemu anak-anak tanggung seusia siswa kelas 1 SMP sudah dibekali sepeda motor oleh orangtua mereka untuk mencapai sekolah. Bukankah itu melanggar undang-undang lalu lintas ? Dengan keadaan kota sering penuh sesak dengan sepeda motor yang dikendarai oleh orang-orang tua, pemuda-pemudi remaja, dan anak-anak pra-ABG begini, tentu saja akan banyak terjadi kecelakaan di jalan raya. Sampai lelah betul Berly berdiri di depan meja operasi. Menjahit luka robek dan menutupnya dengan kasa steril.

Berly berjalan melenggang ke arah kantin. Dia ingin melepas penat barang sejenak. Ketika kopi sudah didapat di tangan, Berly menghirupnya pelan-pelan. Rasa dan aroma kopi hazelnut menyeruak masuk ke dalam lubang hidungnya yang bangir. Sedap..., nikmat..., menenangkan..., membuatnya terbayang pada telaga sejuk di atas bukit, telaga yang riuh dengan tawa canda Tommy.... Ahh...., Tommy.... Apa yang sedang dilakukannya kini ? Berly memejamkan matanya dengan sedih. Perpisahan terakhir dengan Tommy tak pelak merupakan peristiwa paling menyesakkan. Tommy yang sedari mula dapat diraihnya, akhirnya memilih pergi untuk mengejar cita-cita. Bertualang ke Danau Bira.... Sudah dua tahun ini Tommy disana, berkutat dengan agenda memberikan pengetahuan akan sanitasi dan kesehatan bagi suku-suku di sekitar danau. Telah 24 pucuk surat terkirim untuk Berly dari tepian Danau Bira, mengabarkan tentang Tommy dan semua aktifitasnya....

Aku akan pulang awal bulan depan.... Tunggulah aku di Telaga Arum, tanggal 1 Desember 1990, jam 8 pagi seperti biasa....

Begitu Tommy menulis dalam surat terakhirnya. Surat yang berangsur-angsur terasa hambar untuknya, tak lagi segila dulu menelan rindunya. Semua datar, begitu saja. Berly menengadahkan wajahnya, butiran air mata mengalir ke sudut kiri dan kanan matanya, mengalir menetes membasahi kedua telinga. Dingin. Tapi Berly harus mulai berkemas, besok pagi dia akan cuti. Pinta Tommy untuk bertemu di Telaga Arum tak akan dibiarkannya begitu saja berlalu.

*

Pagi-pagi sekali Berly sudah bangun. Setelah mandi dan bersiap dengan baju tebal lengan panjang dan jaket, Berly bersiap pergi ke Telaga Arum, menunaikan niatnya bertemu Tommy disana. 2 tahun sudah tak bertemu, Berly tersipu sendiri membayangkan betapa akan mesra pertemuannya nanti. Make-up sudah dipakainya sesederhana mungkin, Tommy tak pernah menyukai make-up berlebihan. Sengaja dipilihnya baju lengan panjang warna merah sangat muda, warna yang disukai Tommy untuknya. Tak lupa sepasang sepatu kets baru yang semalam dibelinya di toko seberang rumah sakit. Berly ingin Tommy senang dengan apa yang dipakainya sekarang. Sudah beres..., sekarang tinggal menstarter mobilnya dan melaju menuju Telaga Arum.
Jalan berkelok di sepanjang jalur lalu-lintas dan bunyi alunan musik dari radio membuat pikiran Berly selalu terjaga. Hari sudah pukul 8 pagi ketika mobilnya mulai masuk pelataran parkir tempat wisata Telaga Arum. Sebuah tempat favorit ditujunya, batu ceper di bawah pohon manggis besar berjarak 20 meter dari tepian telaga. Tempat Tommy biasa mengajaknya duduk bersama sambil menikmati indahnya suasana. Jam 8 lebih 10 menit, dan Berly belum juga melihat kehadiran Tommy disana. Berly terus menunggu dengan sabar, hingga tiba-tiba sebuah mobil jeep mendekat ke arah parkiran. Berly memandangnya dengan seksama. Seorang pria muncul dari dalamnya, dari punggungnya pun Berly sudah tahu, itu bukan Tommy. Berly menghela nafas, dibuangnya pandangan kembali ke arah telaga. Suara kaki seseorang terdengar mendekat ke arahnya, lalu langkah itu terhenti ketika jaraknya sudah sampai 3 meter dari tempatnya duduk.

"Dokter Berly ?", sapa orang itu. Berly terkejut dan menoleh.

"Ya ?!", sahutnya dengan heran. Dia tak mengenal lelaki itu, lelaki berambur keriting dengan kulit kehitaman.

"Saya membawa pesan Dokter Tommy untuk anda...", kata orang asing itu. Berly tambah tak mengerti.

"Ya ?!", sahutnya lagi.

"Barangkali Dokter Berly tidak percaya ini, tapi saya betul-betul membawa pesan dari Dokter Tommy...", jelas pria itu lagi. Kesungguhan terpancar dari kedua matanya yang bersinar lembut, mengisahkan sebuah ketulusan. Tiba-tiba pria itu melihat ke arah pohon, dia sempat tertegun sejenak....

"Apakah ini sebuah pohon manggis, Dokter ?", tanya pria itu. Berly mengangguk canggung.

"Kalau begitu saya mohon maaf, dapatkah Dokter Berly berdiri barang sejenak ?", pinta pria itu. Berly lekas-lekas berdiri dan bergeser menjauh. Dia tetap tak mengerti ketika pria asing itu berjalan mendekat ke arah batu ceper yang baru saja didudukinya. Tangan kekar sang lelaki asing menggeser batu itu dengan sekuat tenaga, lalu menggulingkannya. Dan Berly begitu takjub ketika mendapati sebuah peti kuningan berukuran kecil terpendam di antara tanah yang tersingkap. Pria itu mengambil kotak kuningan dengan hati-hati, lalu mengulurkannya pada Berly. Berly ragu menerimanya, tapi tiba-tiba pria asing itu berkata....

"Terimalah, Dokter Berly. Inilah pesan Dokter Tommy pada saya....".

Kotak kuningan yang indah, motifnya berukir seperti batik indah memenuhi seluruh permukaan luarnya. Berly mengamatinya dengan teliti, kotak kuningan itu pasti mahal sekali.

"Bukalah, Dokter....", pinta pria itu. Dan Berly membukanya dengan hati-hati. Hatinya berdesir mendapati sepasang cincin emas bergrafir namanya dan nama Tommy. Berly terharu, tiba-tiba saja dia ingin menangis. Sebelah tangannya menutupi bibirnya yang terasa kelu....


"Dimana Dokter Tommy sekarang ? Mengapa dia harus mengirimmu menyampaikan pesan ini ? Mengapa dia tidak datang sendiri ?", tanya Berly bertubi-tubi. Mata pria asing itu menatap sendu.
"Dokter Tommy meninggal karena malaria dua hari lalu.... Itulah pesan terakhir yang dibisikkan Dokter Tommy ke telingaku....", jawab pria itu. Kotak kuningan itu terlepas jatuh dari tangan, Berly menjeritkan tangis penuh kesedihan....






SELESAI

Bintaro Jaya 3A, 3 Juni 2010.

Sabtu, 01 Mei 2010

MENU MAHASISWA

Dulu, ketika saya kuliah di Salatiga, uang saku yang diberi ibu saya cuma pas-pasan. Tahun 1987 hanya diberi uang saku sebanyak 32 ribu sebulan, alamak…. Sampai sekarang saya masih terheran-heran bagaimana saya bisa bertahan dengan banyaknya kebutuhan yang harus saya beli selama saya kos di sana. Hmmm…, hitung saja keperluan saya seperti membeli sabun mandi, sabun cuci, shampo, bedak, pembalut, belum lagi beras, sayur-mayur, minyak kelapa, minyak tanah, gula, teh, susu, biaya fotocopy diktat, dan juga jajan selama saya di kampus. Kok bisa cukup, ya ? Bandingkan dengan uang saku sahabat saya yang asal Jepara, yang tiap bulan menerima tidak kurang dari 75 ribu, bahkan lebih kalau dia kebetulan bertemu kakak-kakaknya yang mampir ke tempat kosnya. Benar-benar bikin iri beraaat !. (Tapi dibalik sedikitnya uang saku yang saya terima itu terdapat hikmah yang akhirnya saya sadari setelah saya lulus kuliah. Ternyata saya bisa ngirit juga ! Yes !, yes !, yes !)


Herannya lagi, dengan uang yang cuma segitu-gitunya itu, saya masih bisa menyisihkan beberapa rupiah untuk sekedar beli obat bebas untuk jaga-jaga kalau saya terkena flu atau sakit kepala. Dan, saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk sangu pacaran ! Hebat ‘kan ?! Untungnya, pacar saya tidak pernah punya keinginan jajan yang aneh-aneh. Boro-boro ke rumah makan, itu cuma bisa kami lakukan kalau kami sedang ulang tahun saja. Biasanya kami makan di Pasar Sayangan. Menu kesukaan saya waktu itu tidak lebih dan tidak kurang ya hanya nasi plus sayur bening bayam ditambah separo telur ikan goreng dan satu sendok kecil sambal bajak (itu lho sambal terasi tomat yang digoreng ala Semarangan). Segitu saja rasanya sudah uenduaaang…. Pokoknya perut kenyang, uang tidak banyak terbuang. Seporsi ?, cuma 500 rupiah saja. Itu pun tidak bisa tiap hari saya lakukan, soalnya ya karena keterbatasan dana itu tadi. 32 ribu per bulan gitu, lho ! Bayangkan kalau saya makan tiga kali porsi yang sama tiap hari, bisa-bisa belum sampai habis bulan saya sudah ngutang sana-sini. Hi…, amit-amit. Saya bayangkan kalau waktu itu uang 500 rupiah di Jakarta bisa dapat menu apa, ya ? Gado-gado ? Bakso ? Tapi yang jelas pasti porsinya nggak sebanyak makanan yang saya dapat di Pasar Sayangan.

Dalam rangka pengiritan, maka saya membuat semacam perencaan menu bulanan yang bagi saya cukup enak dan hemat. Daftar menu saya seperti ini :

1. Senin Nasi + Sarimi

2. Selasa Nasi + Abon

3. Rabu Sarimi + Nasi

4. Kamis Abon + Nasi

5. Jumat Nasi + Sarimi + Abon

6. Sabtu Nasi + Abon + Sarini

7. Minggu Abon + Sarimi + Nasi

Daftar menu ini saya tulis dengan rapi di sehelai kertas dan saya hias dengan garis-garis indah dalam stabilo warna-warni, lalu saya tempelkan ke dinding tripleks kamar kos saya yang sederhana. Hasilnya ?, sahabat saya yang orang Jepara itu, dengan segala kekurang-ajarannya, tertawa ngakak setelah membaca daftar menu kebanggaan saya…. Gitu deh, akh….