BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Senin, 21 Desember 2009

HARI IBU

Rani termangu menatap foto usang yang tertempel di album. Diusapnya perlahan foto tua seorang perempuan berkain kebaya yang tampak sedang memangku seorang anak kecil berusia 3 tahun itu. Anak kecil yang lucu, rambutnya diikat 2 seperti telinga domba. Ada pita warna-warni yang tersemat di kedua kuncirnya. Rani tersenyum sendiri, kenangannya kembali ke masa-masa saat dia kecil dulu. Pada perempuan setengah baya yang telah memangkunya di foto itu....


*

"Simboook....! Simboook...!", teriaknya memanggil. Kakinya yang kecil menapak masuk ke dalam rumah. Hati Rani sedang luar-biasa senang. Baru kali ini Bu Lasmi memberinya kartu pembayaran sekolah.

"Umur Rani 'kan masih kecil.... Rani gak usah pakai kartu dulu ya... ?", bujuk Bu Lasmi sebelumnya, tiap kali Rani merengek minta kartu pembayaran seperti teman-temannya yang lain.

"Pupuk bawaaang ! Rani pupuk bawaaang !", begitu tiap kali teman-temannya meneriaki. Membuat Rani selalu ingin menangis. Kata Bu Lasmi, umur Rani belum cukup besar, jadi di TK itu Rani cuma dibiarkan ikut sekolah, tapi tidak diberi kartu pembayaran. Pupuk bawang !, sebutan yang membuat Rani jengkel. Kalau teman-temannya bermain, dia selalu saja didudukkan jadi pemain paling akhir. Mentang-mentang umurnya paling kecil di antara anak-anak yang lain.

Dan akhirnya hari itu Rani dibagi kartu pembayaran ! Warnanya hijau muda, sama seperti teman-teman lainnya. Tentu saja Rani bangga bukan main. Terus saja dia pamerkan kartu itu pada teman-teman sekelasnya. Hal yang bagi mereka bukan masalah penting. Toh, mereka semua juga punya. Maka begitu Rani diperbolehkan pulang, dia langsung saja berlari membawanya. Dia mau menunjukkannya pada Simbok, perempuan yang selalu menjaganya, menemaninya makan, menemaninya tidur, menyiapkan baju seragam, dan yang selalu ada tiap kali Rani ingin diperhatikan saat dia berceloteh tentang semua teman sekolahnya.

"Mboook...!", teriaknya lagi memanggil. Dia heran, biasanya Simbok selalu menyambutnya pulang. Kenapa kali ini Simbok gak kelihatan ?

"Ssstt...! Jangan rame-rame..., Simbok lagi sakit...", kata Oom Rangga, dia adik Bapak yang masih kuliah dan ikut numpang di rumah.

Sakit ?! Simbok sakit ?! Tiba-tiba hati Rani gelisah. Kalau Simbok sakit, siapa yang nanti akan menemaninya makan ? Dia ingin segera melihat keadaan Simbok di kamar belakang, tapi tangan Oom Rangga menahannya.

"Jangan diganggu... Biar Simbok sembuh dulu...", bisik Oom Rangga. Rani jadi makin gelisah. Dia berontak, berusaha melepaskan tangan kecilnya dari genggaman Oom Rangga. Dan berhasil ! Segera dia berlari menuruni tangga belakang. Pintu kamar Simbok yang bersebelahan dengan dapur dan kamar sembahyang ternyata tak terkunci. Terdengar rintihan Simbok dari atas dipan kayu..., tangannya memegangi perut. Rani mendekat ke arahnya....

"Mbok...!, Simbok kenapa, Mbok...?", Rani bertanya. tapi Simbok tak menjawab, dia terus saja merintih.

"Simbok.... Simbok kenapa, Mbok...?", tanya Rani lagi.

"Simbok sakit, Neng.... Gak usah sama Simbok dulu, ya...", jawab Simbok lirih. Wajahnya yang menyeringai membuat Rani ikut merasakan sakitnya. Rani tak rela melihat Simboknya merintih di sana. Rani mulai menangis....

"Mbok..., Simbok jangan sakit, Mbok.... Simbok bangun.... Rani... bawa kartu... bayaran sekolah, Mbok.... Rani... baru diberi sama... Bu Lasmi...", kata Rani terbata-bata di sela tangisannya. Tapi Simbok terus saja merintih. Keringat dingin tampak menetes sebesar-besar jagung di kedua pelipisnya. Rami makin sedih, dia menangis makin kencang. Tangannya memegangi lengan Simbok, tak mau lepas. Tiba-tiba Oom Rangga masuk ke kamar itu, dan mendekat....

"Mbok..., ini ada obat sakit perut, diminum dulu ya..., kalau sudah Simbok istirahat saja...", katanya sambil memberikan satu bungkus pil isi 4 butir. Simbok menerimanya dengan mengucap terima kasih.

"Ayo !, kita keluar dulu.... Simbok biar sembuh dulu...", ajak Oom Rangga sambil mengamit Rani dan menggendongnya. Air mata Rani terus menetes. Keduanya lalu menuju ruang tengah.

"Rani mau kasih ini sama Simboook...", ratap Rani, "kenapa Simbok gak mau banguuun...?".

Oom Rangga mengambil kartu pembayaran itu dari tangan Rani, lalu melihatnya.

"Ooo..., sudah bukan pupuk bawang ya ?", ujar Oom Rangga dengan senyum. Rani mengangguk dengan sesenggukan. Pada Simbok dan Oom Ranggalah Rani pernah bercerita tentang betapa gundahnya Rani diolok-olok jadi pupuk bawang di sekolah. Rupanya Oom Rangga jadi maklum, betapa penting arti kartu pembayaran yang baru saja diterima bagi Rani. Pantas Rani kecewa betul tidak bisa membagi senangnya dengan Simbok.

"Ini kartunya disimpan dulu, ya ? Nanti kalau Simbok sudah bangun, kartu ini boleh ditunjukkan. Sekarang Rani ganti baju dulu, makan siang dulu. Simbok pasti sedih kalau Rani gak mau makan...", kata Oom Rangga. Rani mengangguk pelan.

*

"Siapa yang melahirkan kita ? I...buu... ! Siapa yang merawat kita ? I...buu...! Siapa yang memasak untuk kita ? I...buu...!", suara Bu Lasmi terdengar sampai ke seluruh penjuru kelas. Anak-anak mengikuti setiap akhir kata 'Ibu' dengan suara lantang. Rani yang duduk di bangku paling kanan ikut-ikutan menjawab dengan sedikit bingung.

"Besok adalah Hari Ibu, hari untuk memperingati para ibu. Anak-anak semua boleh memberikan bunga untuk ibu masing-masing. Siapa yang ibunya suka bunga ?", tanya Bu Lasmi.

"Saya ! Saya ! Saya ! ....", sahut para murid dengan semangat sambil mengacungkan telunkuk mereka. Rani ikut-ikutan unjuk jari.

"Siapa yang mau memberi bunga untuk ibunya ?", tanya Bu Lasmi lagi.

"Saya ! Saya ! Saya ! ....", sahut murid-murid lagi. Lagi-lagi Rani ikutan unjuk jari. Bibirnya tersenyum gembira. 'Besok Hari Ibu ! Aku akan memberi bunga buat Ibu !', begitu pikirnya berkali-kali. Sepulang sekolah, Rani sudah berencana mau memetik bunga di pagar depan rumah Tante Novi. Bunga melatinya harum-harum. 'Akan aku bawa sebanyak-banyaknya !', begitu pikirnya.

Dan betul saja, banyak sekali bunga melati yang tumbuh di sela-sela rimbunnya daun pohon melati yang ada di pagar itu. Rani memasukkan sebanyak mungkin yang bisa dipetiknya dalam kedua saku baju seragam TKnya.

*

Pagi itu, Rani memberikan senyumannya yang terindah untuk Ibunya.....

"Selamat Hari Ibu...", ucapnya dengan senyum termanis. Ibunya begitu terharu. Diterimanya seuntai melati dari tangan mungil Rani.

"Terima kasih, sayang...", ucapnya sambil mencium kedua pipi si bocah. Rani sangat senang. Tiba-tiba dia berbalik..., membuat Ibunya terheran.

"Mau kemana ?", tanya Ibunya.

"Itu bunga untuk Ibu yang sudah melahirkan Rani ! Sekarang Rani mau memberi bunga buat Ibu yang sudah merawat Rani, dan bunga untuk Ibu yang memasak untuk Rani !", jawabnya ceria sambil mulai berlari ke arah kamar belakang.

Kamar Simbok !


Jumat, 18 Desember 2009

ISTANA IMPIAN

"Man, mau ke kali lagi ?", tanya Gendon pagi itu. Karman cuma mengangguk dan tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya ke kali Bengawan Solo yang letaknya tak jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sudah beberapa hari ini Karman libur ke sawah. Hanya istrinya yang pergi ke sana untuk mencabuti gulma yang tumbuh dan menjaga tanaman padi mereka yang sesaat lagi akan menguning. Karman sibuk mengumpulkan pasir sungai sebanyak-banyaknya. Pasir itu diangkutnya dengan sebuah pikulan. Kurang lebih ada 20 pikulan yang tiap hari dibawanya pulang mondar-mandir dari tepi sungai ke rumahnya yang berjarak kira-kira 700 meter. Dia ingin menyenangkan hati Siti yang sebulan lalu mengeluh padanya ingin dibuatkan rumah bata.

"Gedhek kita ‘kan sudah banyak yang bolong, Kang…. Kita bisa membuat rumah yang baru. Genting rumah ini masih bisa dimanfaatkan. Batu bata bisa kita bikin sendiri, dan pasir bisa Kang Karman ambil dari sungai. Kita kerjakan bersama-sama, masak kita tidak bisa…", kata Siti pada suatu malam. Karman termenung mendengar kata-kata istrinya. ‘Hm…, berarti aku hanya butuh beli gamping. Semen terlalu mahal. Aku bisa bikin semen merah dari batu bata yang dihancurkan sampai halus lalu mencampurnya dengan gamping untuk merekatkan batu bata menjadi tembok, seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Mbah Sarmin itu’, bisik Karman dalam hati. Karman bersemangat sekali. Impian istana baru segera tergambar di benaknya.

*

"Ti, haus…. Ambilkan kendi itu ", kata Karman seusai menuang pasir yang kini telah menggunung di halaman depan rumahnya. Siti buru-buru memberikan kendi air pada suaminya, dan Karman meneguknya dengan lahap. Peluh Karman bercucuran di pelipis kanan dan kirinya. Tangannya segera menyeka peluh yang menetes setelah dia selesai melepaskan rasa dahaga. Kaosnya basah oleh keringat. Hari ini sudah pukul 4 sore, saat untuk beristirahat setelah seharian Karman mondar-mandir mengambil pasir dari kali. Pasir yang menggunung itu dirasa cukup untuk membuat rumah baru mereka. Besok Karman akan ke sawah, padi mereka sudah siap panen. Sebagian hasil panen akan disimpannya untuk persediaan makan sehari-hari selama beberapa bulan ke depan. Sebagian lagi akan dijual untuk persediaan dana membeli gamping dan peralatan menukang. Sawah yang telah dipanen akan dia cangkuli untuk diambil lempungnya sebagai bahan membuat batu bata. Sungguh rencana yang sangat matang. Kemarau kali ini sangat terik, pasti hanya dibutuhkan beberapa hari saja untuk menjemur batu bata mereka nanti sebelum dibakar dengan kayu, agar batu bata itu lebih mengeras lagi. Kayu bakar sangat mudah didapat di hutan dekat desa mereka, jadi hal itu bukanlah menjadi suatu masalah.

Hasil panen padi yang ditanam Karman dan istrinya sangat bagus. Sesuai keinginannya, Karman membagi dua hasilnya, dan menjual setengah bagian agar dia memiliki cukup uang untuk membeli gamping dan perkakas menukang. Siti hanya menumbuk gabah seperlunya. Sisanya, yang dia simpan dalam karung-karung plastik, masih dalam bentuk gabah. Begitulah cara para petani menyimpan padi di lumbung mereka. Dan Siti menyimpan padi gabah itu di atas wuwungan, atap rumahnya yang terbuat dari bambu tua nan kokoh. Hatinya lega melihat hasil panen yang melimpah. Itu berarti dia tidak perlu membeli beras untuk sepuluh bulan ke depan. Tak henti-hentinya dia bersyukur. Semakin besar keinginannya untuk terus membantu suaminya mewujudkan impian mereka, membuat rumah bata.

**

Tak terasa sudah hampir sebulan ini Karman dan Siti mencetak lempung menjadi bata mentah di sawah mereka. Bata-bata mentah itu disusun rapi dalam urutan, menyerupai empat buah bangunan berbentuk balok yang besarnya tak kurang dari 1 X 1 X 4 meter. Masing-masing susunan berisikan kurang-lebih 1000 bata mentah yang siap dibakar. Mulai besok, Karman dan istrinya akan mencari kayu bakar di hutan. Karman senang melihat istrinya yang tak pernah mengeluh selama membantunya. Beristrikan Siti memang membawa berkah, paling tidak begitulah yang telah dirasakannya.

Karman dan Siti sedang asyik mengumpulkan kayu bakar ketika mereka melihat Suratman berlari-lari masuk hutan.

"Banjir bandang, banjir bandang…! Kang Karman, Yu Siti, ayo cepat lari…! Selamatkan diri kalian…!", teriak Ratman sambil berlari terengah-engah. Karman kaget bukan main.

"Banjir bandang ? Dimana ?", tanya Karman setengah berteriak. Ratman tidak sempat menjawab, dia hanya menuding ke arah desa yang letaknya berada di bawah bukit di tepi hutan itu.

"Desa kita ?", tanya Karman setengah tak percaya.

"Ya, Kang. Air Bengawan Solo meluap tinggi sekali. Padahal di sini cuma ada mendung. Tapi entah mengapa air sungai jadi meluap begini…", jawab Ratman. Karman terdiam.

"Ayo, Kang, cepat lari ke atas bukit. Beberapa orang sudah terseret air. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka. Mbah Diyem ikur terseret arus waktu mencari rumput di pinggir sungai. Cepat, Kang !", kata Ratman lagi.

Karman dan Siti membeku sesaat. Lalu mereka menyusul langkah kaki Ratman ke arah atas bukit. Tiba-tiba kegelisahan muncul menerpa keduanya. Siti menggandeng erat-erat lengan Karman, seakan tak mau terpisahkan. Kakinya yang kecil mencoba untuk terus melangkah cepat mengimbangi ayunan kaki Karman yang lebar.

Beberapa saat mereka bertiga tiba di atas bukit. Di sana telah ada beberapa orang yang telah lebih dulu mengungsi. Setengah linglung Siti mencari tempat untuk berteduh. Akhirnya dia mendudukkan dirinya di bawah pohon randu. Dia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Karman. Mereka membisu.

"Di sini kita aman, Kang. Semoga banjir itu tidak sampai kemari", kata Ratman menyadarkan Karman dari lamunan.

"Lihat !", telunjuk Ratman menuding ke bawah bukit. Samar-samar Karman melihat air yang menggenangi desa mereka yang berada di bawah. Air itu menutup hampir seluruh tempat, rumah, kebun, sawah…. Dengan gelisah Karman mencari dimana kira-kira rumahnya berada. Hatinya makin tak menentu ketika dia melihat betapa air telah menenggelamkan hampir seluruh atap genteng rumahnya. Lalu matanya liar mencari sawah miliknya. Dan sawah itu…. Hanya terlihat ujung-ujung batang pohon turi di sana. Tak tampak sedikit pun ada susunan bata mentah yang telah dengan susah-payah dibuatnya bersama Siti. Kepala Karman tergetar. Tangannya tergetar. Dia menoleh ke arah Siti yang sedang melamun. Pasti saat itu Siti juga sedang memikirkan hal yang sama. Karman mendekati Siti, lalu dengan lembut diusapnya kepala Siti yang sedang termenung.

"Ti…. Rumah kita…. ", kata Karman dengan suara serak. Siti hanya memandang wajah suaminya dengan tatapan kosong. Bayangan rumah gedhek, gabah, dan susunan bata mentah miliknya terlintas silih-berganti.


S E L E S A I



BAKMI JAWA ALA CINDELARAS



Ini bukan bakmi sembarang bakmi, ini bakmi jawa. Gak tau kenapa, tapi saya suka sekali menikmati bakmi jenis ini. Biasanya, kami sekeluarga mampir ke warung Bakmi Jawa Gayeng di pojok Kompleks Pondok Jaya, Bintaro sektor 5. Persis banget bersebelahan sama warung sate Ponorogo milik Bulik saya tercinta. Letaknya di seberang STAN, di Jl. Bintaro Utama. Cuma kalau mau kesana mesti menyisihkan waktu yang tidak sedikit, jadi kita-kita hanya bisa mampir kalau lagi weekend, itu pun kalau PR anak-anak lagi gak banyak dan gak ada agenda penting lainnya.
Saking sukanya, kalau sudah gak tahan mau makan Bakmi Jawa, saya bikin sendiri. Lumayan, buat tamba kangen. Rasanya ?, asyik juga. Dan yang penting bisa ngirit ongkos. Mau tau resep bakmi jawa ala saya ? Ini dia….
BAKMI JAWA ALA CINDELARAS



bahan-bahan :
  • 1/2 ekor daging ayam, direbus selama 30 mnt, tiriskan, suwir dagingnya.
  • 5 butir bakso, iris bulat tipis.
  • 1 ltr kaldu ayam dari rebusan daging ayam.
  • 1 bks mie telur, rendam dalam air panas yang telah dicampur 1 sdm minyak goreng selama 5 mnt, tiriskan.
  • 1 butir telur ayam.
  • 200 gr kol, cuci bersih, iris memanjang.
  • 100 gr sawi hijau/caysim, cuci, potong-potong.
  • 2 batang bawang daun, cuci, potong-potong.
  • 1 ikat seledri, cuci, potong-potong.
  • 1 buah tomat masak, cuci, potong-potong.
  • 2 sdm minyak goreng untuk menumis (dapat juga diganti dengan blueband).
  • bawang goreng secukupnya.

bumbu-bumbu :
  • 4 siung bawang putih.
  • 2 btr kemiri.
  • 1sdt merica bubuk.
  • 1 maggi blok rasa ayam.
  • garam secukupnya.
  • gula pasir atau vetsin secukupnya.
cara membuat :
  • tumis telur ayam dengan minyak goreng, masukkan bumbu bawang putih + kemiri + merica yang sudah dihaluskan dalam tumisan, aduk-aduk hingga baunya harum dan berwarna kekuningan.
  • masukkan suwiran ayam dan bakso iris, aduk-aduk.
  • masukkan kaldu rebusan ayam, tambahkan maggi blok, garam, dan vetsin (bila perlu), tunggu hingga mendidih.
  • masukkan sayuran dan mie telur yang sudah ditiris ke dalam wajan, aduk-aduk.
  • masukkan tomat iris ke dalamnya, aduk-aduk lagi, lalu angkat.
  • siapkan dalam piring saji dengan taburan bawang goreng di atasnya.
  • hidangan siap disajikan untuk 6 orang, dihidangkan dengan acar ketimun+bawang merah dan cabe rawit segar.


Bahan Acar :

3 buah ketimun, kupas, kerok isinya, cuci, potong2.
4 siung bawang merah, kupas, cuci, potong2.
20 buah cabe rawit, buang batangnya, cuci bersih.

Bumbu :
4 sdt gula pasir
2 sdt cuka masak
1/2 sdt garam

Cara membuat :
1. Campur semua bahan sampai rata, masukkan dalam kulkas selama 1 jam.
2. Hidangkan sebagai pelengkap makan Bakmi Jawa.

Bakmi jawa ini cocok sekali disajikan di saat hujan, apalagi kalau sedang berkumpul dengan seluruh anggota keluarga. Anda berminat ?, silakan mencoba !

SEBUNGKUS ROKOK DAN SEKOLAH ANAKKU

Ada sebuah peringatan di setiap bungkus rokok baik yang kretek maupun yang berfilter. Bunyinya :.......

"MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN".

Berapa di antara manusia moderen yang ada di dunia saat ini yang tidak tau seberapa buruk efek yang ditimbulkan rokok ? Saya jamin, pasti tidak ada seorang pun yang tidak pernah tau ataupun tidak pernah mendengar/membaca tentang bahaya rokok bagi kesehatan semua orang (perokok aktif dan pasif). Tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk segera berhenti dari kebiasaan merokok demi segala alasan. Tapi tak sedikit pula yang menolak menghentikan kebiasaan merokok di sembarang kegiatan (habis makan di warung, saat buang hajat di kakus, ato saat ngobrol sama teman - sambil minum kopi panas, kabarnya rasanya nikmat, dan kegiatan lainnya).

Beberapa minggu lalu, seorang Bapak aku lihat asyik merokok di atas sadel sepeda motor Honda bebek di halaman parkir sekolah anakku yang cuma seupil. Nikmat sekali tampaknya. Entah yang mana anak si Bapak yang penikmat rokok itu, aku juga tak tau di kelas mana anaknya berada. Tapi melihat asyiknya si Bapak menghisap rokok Djie Sam Soe, pikiranku jadi tergelitik.....

- BERAPA SIH HARGA SEBUNGKUS DJIE SAM SOE ?
- BERAPA SIH RUPIAH YANG BISA DIDAPAT SEKOLAH KALAU SI BAPAK MENDONASIKAN DANA
ROKOKNYA DALAM SEHARI UNTUK PERAWATAN GEDUNG SEKOLAH ?

Hmm..., taruhlah sekolah diberi donasi si Bapak sejumlah 12 ribu rupiah (kira2 harga sebungkus rokok Djie Sam Soe) per hari. Lalu dalam 1 bulan, sekolah bisa dapat 12.000 X 30 hari = 360.000 rupiah ! Wow !, itu jumlah yang fantastis ! Bila semua bapak yang aktif merokok bisa mendonasikan dana belanja rokoknya selama sebulan buat membantu perawatan sekolah, misal jumlah bapak-bapak itu ada 100 orang saja. Artinya sekolah bisa mendapat dana segar sejumlah 36.000.000 rupiah ! Ckckckckck...... Unbelieveable !

So ? Kira-kira mau gak para Bapak yang aktif merokom itu diajak "bertobat" dari kebiasaan mereka merokok sambil berdonasi buat sekolah ? Bagus 'kan ?, sekali tepuk, dapat dua lalat. Berhenti merokok iya..., membantu perawatan buat sekolah anak-anak juga iya....

Sayangnya semua itungan itu cuma nempel di kepalaku. Kotak kaca yang sudah kutempeli tulisan donasi buat sekolah itu masih saja belum seramai yang aku bayangkan. Sebungkus rokok barangkali masih lebih berharga dari pada kenyamanan tempat pendidikan buat murid-murid di sekolah anakku.

MATI DIPANGKU


"Wah, kalau Pak Danu yang pakai tampak gagah, lho...! Cocok sekali ya, Mbak Nik ?!", kata Mbak Fulan pada asistennya di sebuah butik. Si asisten tersenyum lebar, lalu mengiyakan.

Pak Danu senang bukan kepalang, batik sutra harga jutaan itu langsung dibelinya. Pujian si bakul butik itu pas mengena.

*

"Kok ?!, bayarnya cuma separo ?", protes Marni pada seorang pembeli sprei.

"Separo dulu laaah.... Separonya lagi minggu depan. Mbak Marni kan pedagang gede, masak satu sprei baru dibayar separo saja dipikirin ? Minggu depan, ya ?", kata si pembeli yang memang sudah kenal lama.

"Lha kalau semua cuma bayar separo melulu 'kan bisa bangkrut saya nanti ?", kata Marni.

"Alaaah, cuma sekali ini. Minggu depan deh, ini mau saya pakai buat nyumbang Bu Ramelan. Kalau dia suka pasti dia akan tanya dimana saya beli sprei. Nanti biar saya kasih tau, 'Itu, lho, yang jual Mbak Marni yang orangnya cantik yang punya toko gede di Gang Melati...'. Siapa tau Bu Ramelan juga mau beli dari Mbak Marni, to ?", bujuknya lagi.

Marni jadi habis kata-kata.

*

"Apa lebihnya dia dari aku ?", tanya Mona gusar, pada Ardi pacarnya.

"Mau tau ? Dia memuji apapun yang aku lakukan,dan kamu selalu mencela !", jawabnya ketus.

Hubungan keduanya yang sudah berlangsung setahun lamanya pun putus di sana.

*

"Kalau mau urusan sama orang Jawa itu harus mau memuji...", kata seorang teman suatu kali.

"Kenapa ?", tanya saya heran.

"Seperti tulisannya (hanacaraka), orang Jawa kalau dipangku mati...", jawabnya kalem.



ARISAN

Irwan mengatupkan bibirnya, rasa kesal menyergap memenuhi rongga dada.

"Huh !", serunya pada diri sendiri. Sampai kapan dia akan terus-terusan menghadapi kekerasan hati istrinya yang semakin lama semakin tak mau mendengar apa yang dikatakannya. Kepalanya yang terasa tak teraliri darah karena amarah yang meluap, membuat wajahnya merah padam. Gusar, diambilnya kunci mobil dari atas meja telpon. Lalu tak lama kemudian, derum mobil pun terdengar bising meninggalkan garasi.

"Huh !", serunya kesal sekali lagi. Kutukan apa yang melekat padanya saat ini ?, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan perempuan seperti Sari ? Wanita yang sudah dikawininya selama sepuluh tahun lebih itu, yang sudah melahirkan kedua anak mereka. Irwan tak pernah menyangka akan menemukan diri Sari yang sebenarnya setelah setahun mereka menikah. Jauh sekali dari kesan sabar dan penuh perhatian seperti ketika dulu mereka masih pacaran.

Terbayang-bayang wajah manis berhias senyum yang dulu selalu mengisi hari-harinya di kampus. Mata indah berbulu lentik, mata yang dulu selalu menyirami jiwanya dengan cinta dan kelembutan. Dulu…, dulu sekali….

*

"Mantap, Wan ?", tanya Soni suatu kali sewaktu dia mengatakan akan kawin dengan Sari.

"Ya !, dia memang wanita yang aku pilih", jawabnya sambil mengangguk.

"Sudah dipikir masak-masak ?".

"Tentu !".

"OK, itu bagus ! Aku senang kau bilang begitu".

"Apa pendapatmu tentang dia ?".

"Mmm, Sari itu wanita yang keras hati. Itu saja, menurutku…. Jangan tersinggung, ya ? Mungkin memang dia bukan tipeku. Tapi kulihat kamu begitu cocok dengannya. Sama-sama punya semangat tinggi. Kalian juga sama-sama mudah bergaul".

"Hmm, keras hati, ya ? Sejauh ini sih, dia selalu mendengar apa yang kukatakan dan penuh perhatian. Dan yang penting, aku cinta".

Soni tersenyum, sedikit aneh. Irwan melihat sahabatnya dengan kernyitan di dahi. Irwan memang tak pernah mengerti, mengapa Soni selalu tidak bersemangat membahas hubungannya dengan Sari. Irwan cuma menduga, barangkali Soni cuma iri pada kemesraannya dengan gadis pujaan hatinya itu. Maklum, sebelum pacaran dengan Sari, Soni adalah sahabat terdekat yang paling akrab. Lalu hubungan itu mulai merenggang sejak Irwan kenal Sari. Ah, entahlah….

"Mengapa kau senyum-senyum begitu ? Apanya yang lucu ?"

"Yah, itulah yang aku sebut cocok. Kamu pasti punya cukup banyak cinta untuk memutuskan akan kawin dengannya. Kalian memang ditakdirkan berjodoh, mungkin seperti itu…".

Hhh..., sudah lebih sepuluh tahun hal itu terjadi, dan kini apa yang diucapkan sahabat dekatnya itu jadi kenyataan. Mengapa dia tak menyadari kerasnya hati Sari sedari mula ? Ngototnya sikap Sari yang dibalut kata lemah-lembutnya itu....

Ah..., mungkin saja waktu itu dia masih gelap mata oleh cinta yang bergelora, hingga dia tak menyadari siapa wanita yang dihadapinya. Nasi sudah menjadi bubur, toh dia sendiri sudah terlanjur sayang bukan kepalang pada perempuan itu. Apalagi sekarang mereka sudah punya dua orang anak.

*

"Untuk apa kamu ikut-ikutan arisan ? Aku tak melihat manfaat lain selain membuang uang...".

"Arisan itu seperti menabung, Pa".

"Mana ada menabung tapi malah harus keluar biaya konsumsi ? Bukannya lebih baik disimpan di bank ? Terjamin, aman, dapat untung...".

"Tapi ini 'kan bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman. Papa boleh saja bilang arisan itu tidak ada gunanya, karena Papa sudah cukup dengan berkumpul teman-teman Papa di kantor. Aku ini perlu teman, Pa. Dan teman yang aku dapat yang paling banyak ya yang ada di sekitar rumah kita...".

"Lalu kamu lebih memilih meninggalkan anak-anak sendiri di rumah dengan Inem, sementara kamu pergi bersenang-senang dengan teman-temanmu di arisan ? Begitu ?".

"Tapi apa kata tetangga kalau aku tidak ikut arisan ? Papa harusnya berpikir kalau aku akan dikucilkan oleh mereka kalau aku tidak mau berkumpul dengan mereka di arisan. Ini juga untuk silaturahmi, Pa...".

Hhh..., semakin jauh Irwan bicara, semakin banyak jawaban yang Sari berikan. Irwan cuma tak habis pikir, kalau ternyata arisan punya arti begitu penting untuk istrinya. Sampai-sampai istrinya tega meninggalkan kedua anak mereka selama berjam-jam di rumah hanya ditemani Inem sejak jam empat sore sampai pukul sembilan malam.

Arisan !, Irwan alergi kata-kata itu. Ini adalah kali ke sekian dia mencoba menyadarkan Sari tentang betapa bodohnya ide ikut-ikutan arisan. Kegiatan setengah berjudi yang cuma bikin suami seperti dirinya nombok biaya konsumsi tiap kali istrinya mendapat giliran menjadi nyonya rumahnya. Tawa cekikikan dan riuhnya omongan, ibu-ibu yang berkumpul dengan istrinya itu pasti lebih suka bicara menggosipkan aib orang. Huh !, Irwan sebal sekali.

*

"Papa jangan gitu, dong…. Kita ini mesti jadi orang gaul, Pa…".

"Gaul, katamu ? Gaul macam apa yang kamu bilang lebih baik dari merawat anak-anak kamu sendiri ? Aku tidak suka cara kamu menyerahkan segala urusan anak-anak pada Inem. Urusan Dea di sekolah itu juga harus kamu pikirkan, Sari !".

"Aku juga sudah ngecek ke sekolah, Pa. Aku gak lepas kontrol begitu aja…".

"Lalu kenapa kamu sampai tidak tau kalau Dea dapat masalah di pelajaran Matematika dan IPAnya ? Itu semua ‘kan pelajaran yang harus lulus di UAN ?".

"Aku sudah mengatur semua, Dea akan kumasukkan ke Lembaga Bimbingan Belajar. Dia sendiri juga sudah minta begitu, malah katanya banyak teman sekelasnya yang sudah lama ikut, Pa. Semua sudah aku carikan solusi…".

"Aku tidak mau tau, pokoknya aku tidak suka kamu ikut-ikut arisan begitu !".

"Jangan cuma dilihat jeleknya, dong, Pa. ‘Kan dari uang arisan Mama juga makanya kita bisa bayar biaya buat renovasi kamar atas…. Papa jangan memandang sebelah mata, dong ! Arisan ini lebih bagus daripada uang kita dipotong tiap bulan buat biaya administrasi di bank, Pa ! Biar tidak ada bunganya, tapi arisan ini bisa memberi dana segar buat keperluan kita…".

Ah, Irwan kehilangan kata-kata. Dia tau ada yang tidak benar selama ini, tapi dia tak cukup punya alasan kuat untuk bisa melarang istrinya pergi ke arisan. Heran !, mengapa dia tak pernah mendengar keberatan dari para suami lain. Apa iya, dia yang salah ?

"Sudahlah, Pa…. Aku ikut arisan juga buat nambah-nambah tabungan kita…", Sari mengelus lengannya dengan tersenyum. Senyum yang sama menghanyutkannya dengan yang dulu pernah membuat dirinya mabuk saat masih kuliah.

*

"Berapa ?", tanya Irwan suatu kali, takut kalau-kalau dia salah dengar.

"Cuma satu juta per bulan, kok".

"Hah ?, sebanyak itu ? Kamu ikut berapa nomor ?".

"Aku cuma ikut satu nomor..., gak lebih kok, Pa...", jawab Sari dengan memalingkan pandangan matanya. Sebuah tanda, Irwan yakin pasti istrinya mengambil nomor lebih dari satu di arisan itu. Gila !

"Jadi kamu memakai uang gajiku untuk dihamburkan di tempat arisan seperti itu ?".

"Itu cuma sedikit, Pa.... Aku 'kan sudah menabung tiap bulan dengan menyisihkan uang belanja harian, jadi aku tidak meminta lagi dari Papa...".

Aha !, ngaku juga dia ! Jadi Sari juga mengurangi uang belanja harian agar bisa ikut arisan lebih banyak !

"Jangan sentimen, dong, Pa. Lagi pula, barang-barang yang dipakai untuk arisannya juga bagus-bagus, kok...", jawab Sari kalem. Sikap yang bikin Irwan jadi tambah gusar, sampai-sampai harus menggaruk-garuk rambutnya meski tak terasa gatal.

Ya !, akhir-akhir ini Sari bukan cuma ikut arisan uang tunai, dia juga sudah ikut-ikutan arisan perhiasan. Diajak Bude Bowo..., begitu tiap kali ditanya.

"Bagaimana kalau nanti uangmu dibawa lari ? Bagaimana kalau nanti uangmu tak kembali ?", cecar Irwan gusar.

"Papa ini ada-ada saja, yang pegang 'kan Bude Bowo, tetangga sendiri. Memangnya Bude Bowo mau pergi kemana ?", kilah istrinya sambil tersenyum geli. Duuuh, Irwan sakit hati melihat senyum itu. Jerih payahnya selama ini ternyata tak cukup membuat istrinya punya belas-kasihan sampai-sampai dia tega memakai uang hasil keringatnya itu cuma buat kesenangan bertemu teman arisan !

"Sudahlah, Pa.... Tahun ini saja.... Tahun depan enggak lagi, deh..., begitu kata istrinya tiap kali. Tahun depan.... Itu masih empat bulan dari sekarang !", rayu Sari.

*

"Satu juta ?", kata Irwan sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas.

"Terima kasih…, untuk yang lain aku sudah punya kok, Pa…".

"Sudah punya bagaimana ?".

" ‘Kan perhiasan yang aku dapat waktu ikut arisan yang dulu-dulu itu sudah aku jual lagi ke toko…".

"Apa ? Kamu sudah menjualnya ?", Irwan kaget.

"Iya, Pa ! Ternyata sekarang harganya jadi tinggi ! Aduh, aku senang bisa untung banyak !", Sari tersenyum senang.

Hmm…, Irwan melihat betul kegembiraan itu dalam ucapan Sari. Ah…, mungkin memang dia sudah salah menilai arisan yang selalu dibencinya selama ini. Tapi Irwan sedih, entah mengapa..., di sudut hatinya masih tersisa rasa curiga....

*

"Kas bon !", kata Irwan siang itu.

"Lagi ? Buat apa sih, Mas ?", Jian Lie bertanya bingung.

"Udahlah..., lagi bokek nih !".

Jian Lie, kasir kantor yang sudah hapal dengan kelakuan Irwan tiap kali mendekati akhir bulan segera mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam cashbox. Dia juga menyodorkan selembar kertas bon untuk ditanda-tangan.

Irwan cepat-cepat mengambil uang itu, lalu membubuhkan tanda-tangannya di atas bon. Beres.

Heran !, semakin lama permintaan Sari untuk belanja harian makin banyak saja. Irwan tak pernah tau berapa saja yang dibelanjakannya untuk makan sehari-hari. Padahal kalau dilihat, di rumah sepertinya lauknya tidak mahal-mahal amat. Jangan-jangan ?

"Bude Bowo mengenalkan aku pada relasinya yang ada di Salemba, Pa…. Hebat, deh. Mereka itu istri-istri pengusaha, semua kaya !", begitu cerita Sari suatu kali. Irwan cuma melirik, lalu meneruskan baca koran.

Nah !, betul ‘kan ? Sekarang istrinya sudah tambah kenalan. Pasti lagi-lagi urusan arisan !

"Aku diajak ikut arisan sama mereka, Pa ! Tentu saja aku mau…", sambung istrinya dengan senang.

Bingo !!! Betul juga !

*

"Mama sekalang kalau pulang kok malam, Pa ?", tanya Dito, anak Irwan yang baru berumur tiga tahun.

"Mama ada keperluan di luar, Dito", katanya menghibur sebelum anaknya berangkat tidur.

"Mama kadang pelginya pagi kalau Papa sudah belangkat kelja, pulangnya siang waktu Dito bobok. Kadang belangkatnya sore, telus pulangnya waktu Papa mau nyampe lumah...", kata Dito lucu dalam bicara cedalnya.

"Gitu, ya ?", timpal Irwan sambil mengusap rambut kepala anak lelakinya yang ikal kecil-kecil.

"Iya ! Kemalin Mama pelgi, telus sekalang pelgi, telus katanya besok juga mau pelgi. Dito 'kan jadi gak ada yang nemenin main ulal tangga, Pa !", protes Dito.

" 'Kan ada Mbak Dea ?".

"Mbak Dea nggak asyik, dia maunya mainan balbi, Dito nggak suka !", bibir Dito manyun tanda tak senang. Ya, Tuhan..., anak selucu ini. Bagaimana mungkin Sari tak merasa kehilangan bila meninggalkannya di rumah ?, Irwan tak habis bertanya-tanya dalam hati.

Rasa iba dan bersalah menghinggapi dirinya. Dipeluknya bocah mungil yang terlahir dengan penuh perjuangan karena prematur. Dito, bocah kecil itu, kata-katanya makin membukakan mata hati Irwan, tentang betapa salahnya keadaan ini.

*

"Pak Irwan..., Dik Dito panas tinggi, Pak...", terdengar suara panik dari seberang telepon. Irwan baru saja selesai makan siang di kantin kantor sewaktu mendapat laporan Inem.

"Ibu kemana ?", tanyanya gusar.

"Ibu pergi dari tadi jam sembilan pagi.... Saya sudah mencoba telepon sama Ibu, tapi nggak nyambung terus, Pak...", jawab Inem.

"Dea sudah pulang ?".

"Belum, Pak…. Non Dea juga belum pulang. Tadi pagi sih katanya mau jalan-jalan cari kado buat temannya yang mau ulang tahun…".

"Tadi pagi Ibu bilang mau kemana ?".

"Cuma bilang mau arisan sama Bu Bowo…".

"Tunggu sebentar, aku mau pulang. Sementara diberi obat turun panas dulu, takarannya seperti biasa...", kata Irwan memberi petunjuk.

Iya, Pak..., jawab Inem lagi sebelum menutup telepon.

Irwan tak bisa menunggu lama, cepat-cepat dia pamit pulang pada bosnya. Mobil digas secepat kilat menuju rumah. Halaman rumah tampak sepi saat mobil Irwan masuk garasi. Irwan bergegas masuk rumah. Inem tampak duduk di tepi tempat tidur Dito yang wajahnya memerah. Panasnya tinggi sekali !

Irwan mengambil thermometer dari lemari obat. Panas Dito 39℃ ! Beruntung Dito tidak kejang !

Irwan segera mengambil air hangat dan sebuah handuk kecil untuk kompres. Mata Dito mengatup, dia hanya bisa menjawab lemah kala dipanggil. Irwan lalu mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongan. Dito dibawanya menuju mobil yang terparkir di sebelah rumah. Perlahan direbahkannya badan Dito di kursi depan sebelah kiri. Dipasangnya sabuk pengaman yang ada di kursi. Lalu dia segera menghidupkan mesin, melaju menuju rumah sakit.

*

Sebuah dering telepon membuyarkan lamunan Irwan. Beberapa saat lalu dia mencoba menghubungi Sari lagi, tapi hasilnya nihil. Irwan ingin istrinya tahu kalau Dito baru saja dapat vonis terkena demam berdarah dengue dari dokter. Bintik-bintik merah kecil memang sudah mulai tampak di beberapa tempat di tubuh anak mungilnya. Dan Dito harus menjalani rawat inap mulai sekarang.

Huh, kemana lagi dia ? Dari tadi dihubungi tidak bisa. Apa maksudnya tidak mau mengangkat telpon yang masuk ? Ada apa dengan arisannya ?, apa itu betul-betul lebih penting dari urusan anaknya yang sedang sakit ? Apa aku harus mengancamnya bercerai supaya dia menurut ? Aku tak habis pikir.... Ya, Tuhan..., setan seperti apa yang telah membisik telinga istriku itu hingga dia acuh pada anak lelaki kami ?, keluhnya pada diri sendiri.

Gigi Irwan berkeriut, rasanya ingin dia melampiaskan marahnya dengan meninju sesuatu, tapi itu pun agaknya tak akan cukup.Dilihatnya wajah anak lelakinya yang masih tampak memerah karena demam. Mata yang mengatup itu membuatnya makin gelisah. Diusapnya kening si kecil yang masih tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit. Infus menancap di tangan mungil si lelaki kecil. Irwan trenyuh, hatinya sakit dan lelah mendapati semua ini.

Cerai !, Irwan sangat ingin bercerai sekarang !

Kesal itu menjadi-jadi, menggelegak sampai tenggorok, membuatnya sedikit susah bernapas. Tak pernah dia merasa sesakit ini sebelumnya. Dan Irwan juga tak menyangka istrinya akan berani berbuat begini, mengacuhkan telponnya - suaminya sendiri.

*

KRIIIIINGGG......

Malas, Irwan mengangkat telepon genggam yang sedari tadi berdering mengganggu lamunannya. Nomor yang belum dia kenal.

"Halo ?".

"Halo ! Selamat siang ! Disini Kombes Tono Marwoto. Apakah saya bicara dengan Bapak Irwan Gunawan, suami dari Ibu Sari Indrawati ?", sebuah suara terdengar dari seberang.

Alis Irwan bertaut. Polisi !, ada apa polisi menelponnya ? Tiba-tiba Irwan merasa gugup. Jangan-jangan ..., Sari..... ????

"Ya…, saya sendiri. Maaf, ada masalah apa, Pak ?".

"Begini, Pak. Kami meminta Bapak untuk segera datang ke kantor kami di , Jatinegara, Jakarta Timur, untuk memberikan keterangan tentang Ibu Sari Indrawati yang telah tertangkap tangan sedang ikut dalam kegiatan Pesta Gigolo berkedok arisan di Hotel Wijaya di kawasan Salemba !".

DHUARRR !

Petir menyambar, menggelegar, membakar jantung Irwan yang seakan berhenti berdetak. Tiba-tiba telingannya terasa tuli. Bermacam kata berputar di kepala.

Arisan…? Pesta gigolo…? Sari…?

Suara dalam telpon memanggil-manggil namanya, tapi Irwan sudah tak peduli. Lidahnya terlalu pahit untuk bicara....



T A M A T

NARTO TERPENJARA


Sudah tujuh tahun Narto kerja jadi supir angkot. Sejak tujuh tahun yang lalu, bapak Narto tidak lagi bisa narik. Kakinya lumpuh. Terpaksa Narto tidak meneruskan sekolahnya yang baru kelas 3 STM. Narto tak sampai hati membiarkan emaknya banting-tulang jadi buruh cuci-setrika di sana-sini demi menyekolahkan dia dan tiga orang adiknya. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu mencari nafkah. Untungnya, teman-teman bapaknya mau membantu tiap kali dia menemukan masalah. Bahkan teman-teman bapaknyalah yang selalu memberinya semangat untuk tetap rajin mencari uang. Rupanya Narto yang kalem itu cukup membuat teman-teman bapaknya menyukainya. Walaupun dalam bekerja, Narto tetap tak kalah gesitnya dengan supir-supir angkot yang lain.

"Eh...!, melamun saja. Lihat apa, Nar ?", tanya Ngadimun siang itu seusai menyantap nasi bungkus. Narto tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum malu. Tiba-tiba mata Ngadimun memandang ke arah seorang gadis yang ada di dalam warung tegal di seberang pangkalan angkot. Matanya berkilat. Tiba-tiba dia tertawa.

"Ha ha ha ..., kamu naksir anaknya Kang Jiman, ya ?", tanya Ngadimun. Narto salah tingkah. Dia nyengir sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal seperti monyet terkena jepretan karet. Di seberang jalan, nampak Karti yang sedang membantu bapaknya berjualan nasi bungkus. Anak gadis berusia 18 tahun yang sedang mekar. Rambutnya hitam panjang diikat dengan karet ke belakang. Lehernya putih jenjang. Tubuhnya yang berisi cukup membuat Narto tak mampu berkedip tiap kali dia memandang. Sudah sejak hampir dua bulan ini Narto memperhatikan gadis itu. Setahun yang lalu, gadis itu belum tampak secantik sekarang. Rupanya bertambahnya umur membuat pancaran kecantikan gadis itu semakin tampak dari hari ke hari.

"Payah kamu. Kenapa cuma kamu lihat saja dari sini ? Langsung saja minta sama bapaknya, dilamar.... Daripada nanti keburu diambil orang lain.... Gadis cantik seperti itu jarang ketemu, Nar...", kata Ngadimun.

"Ah, Lik Dimun.... Aku ini 'kan bukan orang kaya. Mana mau orang secantik dia jadi istriku ?", kata Narto. Matanya tetap menatap gadis itu dari jauh. Tiba-tiba seperti merasa sedang dilihat, gadis itu menoleh dan tersenyum ke arah Narto. Sontak Narto tersentak seperti kesetrum. Dia membalas senyum gadis itu dengan kikuk. Tapi rupanya senyum Gadis itu juga dilihat Ngadimun. Kontan Ngadimun berkoar.

"Tuh !, dia juga suka sama kamu, Nar ! Jarang-jarang ada supir yang dia ajak senyum seperti kamu.... Sudah !, dekati sana ! Jadi laki-laki gitu, lho !", kata Ngadimun sambil mendorong Narto ke samping. Narto terhuyung. Dia masih ragu. Tiba-tiba gadis itu menoleh lagi ke arahnya dan terseyum sekali lagi. Narto membalas senyum. Kali ini tanpa ragu-ragu. Narto bangkit dari duduknya. Cepat-cepat dia menyeberang ke arah warung tegal, meninggalkan Ngadimun yang sedang asyik dengan rokok kretek kesukaannya.

Gadis itu sedang sibuk melayani seorang pembeli yang memesan sepiring nasi rames dan segelas teh tawar, ketika Narto sampai di warung. Dia melihat ke arah Narto sejenak, lalu kembali melempar senyum. Hati Narto jadi dag-dig-dug dibuatnya. Narto segera mengambil tempat duduk di bangku kayu panjang yang terdapat di depan meja sebelah kiri.

"Mau pesan apa, Mas ?", tanya gadis itu tiba-tiba. Narto gugup.

"Eh, anu.... Eh.... Pesan teh manis saja...", jawab Narto. Karti langsung membuat segelas teh manis panas untuk Narto. Teh yang sudah jadi itu lalu diletakkannya di meja Narto. Tak sengaja, tangannya bersinggungan dengan tangan Narto yang sedang bergerak mengambil sepotong bakwan goreng dari sebuah piring. Serrr..., jantung Narto serasa dibetot dari dadanya. Tangan halus Karti seperti setrum, membuat darahnya terpacu dengan cepat sampai ke ubun-ubun. Narto menelan ludah dengan susah-payah.

"Kalau kurang manis bilang, ya Mas ?", kata Karti membuyarkan lamunannya. Narto gugup.

"Oh..., eh..., ya.... Ini sudah manis", jawab Narto kikuk.

"Sudah punya istri, Mas ?", tanya Karti tiba-tiba. Narto tersentak.

"Apa ?", tanya Narto seperti tak percaya.

"Saya tanya, Mas ini sudah punya istri apa belum ?", tanya Karti lagi dengan senyum di bibirnya. Tangan Narto tiba-tiba terasa dingin. Matanya berkerjap-kerjap.

"Beb..., beb..., belum....", jawab Narto gugup.

"Aku suka, lho, sama Mas ini. Ganteng, kerjanya rajin, masih muda lagi...", kata Karti sambil melempar senyum. Lirikan matanya yang menggoda membuat Narto kehilangan akal. Teh panas yang ada di depannya cepat-cepat dia minum, sampai dia terbatuk-batuk dengan lidah terasa terbakar.

"Eh, aduh ! Kepanasan, ya Mas ?", tanya Karti demi melihat Narto yang sibuk membuka mulutnya supaya lidahnya tidak terbakar. Karti cepat-cepat mengambilkan segelas air putih dari dalam ceret, lalu memberikannya kepada Narto. Narto buru-buru meminumnya. Legaaa, air putih itu cukup membuat lidahnya adem.

"Eh, saya habis berapa, ya ?", tanya Narto kemudian. Karti lalu menghitung.

"Dua ribu lima ratus semuanya", jawab Karti. Narto lalu mengambil sejumlah uang dari saku celananya dan mengulurkannya pada Karti. Karti menerimanya lalu memasukkan uang itu dalam sebuah kotak kayu.

"Besok ke sini lagi, ya Mas ?", kata Karti sambil tersenyum manis. Narto mengangguk kaku. Kakinya melangkah ke seberang menuju mobil angkot bapaknya yang sedang terparkir di sana. Tak terasa, segaris senyum tersungging di bibirnya.

"Heh, habis dari warung kok senyum-senyum sendiri. Dapat apa, Nar ?", tanya Ngadimun di belakang setir angkotnya. Narto menoleh.

"Lik, Karti bilang dia suka sama aku ! Dia malah nanya apa aku sudah punya istri. Dia beneran apa enggak, ya Lik ?", kata Narto lagi.

"Weeeh, beruntung kamu ! Karti itu sudah didekati siapa-siapa, tapi tidak ada yang dia tanggapi seperti itu. Jangan-jangan dia memang diam-diam sudah suka sama kamu dari dulu, Nar ? Wah, kamu harus bilang sama Kang Jiman ! Kamu lamar saja anak bungsunya itu !", kata Ngadimun lagi.

"Apa tidak sebaiknya aku pacaran dulu, Lik ? ", tanya Narto.

"Jangan gila kamu !, kalau nanti dia berubah pikiran bagaimana ? Mumpung dia mau, lamar saja !", kata Ngadimun lagi. Narto termangu. Matanya menatap ke arah warung di seberang jalan. Karti tampak sedang melihat ke arahnya. Lagi-lagi Karti tersenyum manis. Membuat jantung Narto kembali rontok.

"Tu...! Perempuan sudah ngebet sama kamu kok malah kamu nggak mau. Lamar ! Kapan lagi kamu bisa dapat istri semanis Karti ? Lamar, Nar !", kata Ngadimun. Narto mengangguk.

"Ya, aku mau nglamar. Aku bilang sama bapak dulu...", jawab Narto yakin. Ngadimun tertawa senang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya menepuk-nepuk pundak Narto.

*

Betul juga !, akhirnya Narto melamar Karti. Rupanya bapak Narto begitu senang mendengar permintaan Narto agar dia melamar Karti untuk anak sulungnya itu. Bapak Narto, Pak Dachwan, sudah kenal betul dengan Pak Jiman, bapak Karti. Karena ketika dia masih sering narik angkot dulu, dia juga sering makan di warung Pak Jiman. Lebih-lebih, bapak Narto tahu kalau Karti itu gadis yang cukup cantik dan suka membantu bapaknya bekerja. Artinya, pasti nanti Karti akan banyak membantunya bila sudah jadi menantu.

Kedatangan bapak Narto dan rombongannya diterima dengan sangat baik oleh keluarga Pak Jiman. Kali ini, Karti mengangguk setuju ketika ditanya tentang lamaran itu. Bapak Narto tertawa lebar melihat hal itu. Dia lega, meski harus digendong untuk bisa datang ke rumah Pak Jiman, tapi usahanya untuk melamar Karti demi anaknya tidaklah sia-sia. Akhirnya tanggal pernikahan pun ditentukan. Kedua anak muda itu akan dinikahkan sebulan lagi.

"Nar !, waduh yang mau kawin bulan depan.... Sudah dapat duit berapa hari ini ? Jangan terlalu dipaksa tenaganya, kalau capek ya istirahat. Jangan mentang-mentang mau kawin terus cari duit melulu nggak ada istirahatnya. Mampir ke warung Kang Jiman sana !, minta dibikinkan STMJ dulu sama Karti. Biar badannya seger !", kata Ngadimun siang itu. Narto meringis, dia memang sedang mencari duit banyak-banyak agar bisa ditabung untuk biaya kawinnya dengan Karti nanti. Rencananya, uang itu akan diberikannya pada Pak Jiman untuk tambah-tambah biaya pesta. Maklum, harga semua barang saat ini sangat mahal.

"Saya sudah makan kok, Lik. Tadi pagi dibawakan nasi sama Emak dari rumah. Minum juga ada. Kalau cuma mau ketemu sama Karti 'kan nanti sore habis narik juga bisa", kata Narto. Ngadimun manggut-manggut.

"Yah, yang penting kamu jangan lupa istirahat. Terlalu capek juga akan membuat kamu sakit...", kata Ngadimun lagi. Narto mengangguk, Ngadimun memang sangat memperhatikannya selama ini.

"Aku narik dulu, Lik. Sebentar lagi sekolahan pada bubar. Lumayan buat tambah-tambah...", pamit Narto.

"Ya, ya, aku mau ngopi-ngopi dulu di warung...", jawab Ngadimun. Narto pun menstarter mobil angkotnya, lalu perlahan pergi meninggalkan pangkalan.

*

Siang itu, pesta berlangsung meriah di rumah Karti yang berdekatan dengan Pasar Wage. Ratusan orang tumpah-ruah memenuhi halaman. Maklum, bapak Karti tidak cukup mampu menyewa gedung yang saat itu harga sewanya selangit. Jangankan gedung ber-AC, yang biasa-biasa saja dia tidak sanggup menyewanya. Acara juga sengaja diadakan siang hari dengan alasan menghemat ongkos listrik. Tapi toh, semua prosesi berjalan dengan lancar. Tidak ada satu tamu undangan pun yang tak hadir. Kontan hal itu membuat Pak Jiman merasa bangga. Dia merasa senang bahwa keramahannya pada semua orang selama ini begitu dihargai semua kenalannya.

Karti tampak semakin manis dalam balutan baju pengantin beludru berwarna hijau dengan hiasan payet keemasan. Senyumnya tak habis-habis tersungging di bibirnya. Narto juga kelihatan gagah dengan ikat blangkon yang menutup sebagian kepalanya. Bapaknya yang lumpuh hanya sanggup menerima ucapan selamat dari para tamu sambil duduk di atas kursi rodanya.

"Kang, seneng ya, Kang.... Sebentar lagi kita punya cucu...", begitu kata Ngadimun pada bapak Narto. Bapak Narto mengangguk senang sambil menyalami tangan sahabatnya dengan hangat.

"Mun, terima kasih sudah datang. Aku juga berterima-kasih karena kamu sudah banyak-banyak memberi nasehat pada Narto selama ini...", ujar Pak Dachwan. Matanya tampak berkaca-kaca karena haru. Ngadimun menepuk-nepuk pundak bapak Narto dengan lembut. Dia tahu bagaimana perasaan Pak Dachwan saat itu.

Pesta telah usai. Karti dan Narto menempati ruangan paling depan di rumah Pak Jiman. Keluarga Narto sudah kembali ke rumah. Narto lega, tak ada sesuatu pun yang mengganggu acara. Dilihatnya Karti yang sedang duduk menunduk di atas tempat tidur. Hati Narto berdebar-debar. Dengan canggung, dia mendekat ke arah Karti. Karti semakin menunduk. Sekilas, Narto melihat seiris senyum malu menghias wajah Karti. Narto jadi gemas. Sepasang pengantin muda itu pun segera tenggelam dalam kemesraan....

*

"Heh !, pengantin baru jangan banyak melamun ! Siang-siang begini kok melamun. Sudah waktunya sekolah bubaran, cepat narik sana !", kata Ngadimun mengagetkan. Narto tersentak dari lamunan.

"Ah, Lik Mun, mengagetkanku saja. Aku kurang tidur, Lik...", jawab Narto. Ngadimun tertawa.

"Lha, iya ! Pengantin baru itu pasti kurang tidur. Namanya juga baru direyen, je...", goda Ngadimun. Narto tersipu.

"Bukan karena itu, Lik. Aku tidak bisa tidur karena Karti...", jawab Narto lagi.

"Ya, jelas karena istrimu. Masak karena orang lain. Hayo !, jangan bilang kalau kamu kepincut sama perempuan lain, ya ?", kata Ngadimun. Narto menggeleng.

"Enggak lah, Lik. Bukan itu. Karti itu punya kebiasaan yang harus dia lakukan sebelum dia tidur...", kata Narto setengah berbisik. Alis Ngadimun berkerut.

"Apa itu ?", tanyanya penasaran.

"Dia suka menjewer bibir orang lain yang tidur di sebelahnya...", jawab Narto lagi dengan perlahan, takut didengar orang lain. Ngadimun semakin heran.

"Menjewer bagaimana ?", tanyanya lagi.

"Begini, lho, Lik...", kata Narto sambil memeragakan gerakan tangannya yang menjewer bibir bawahnya berulang-ulang sambil setengah meremas. Ngadimun mula-mula tak mengerti, tapi akhirnya dia paham. Tawanya terpecah tak lama kemudian. Narto mengisyaratkan Ngadimun agar tidak ribut. Ngadimun jadi sibuk menutup mulutnya.

"Yang benar saja ?", tanya Ngadimun pelan, seakan tak percaya. Narto menghela napas.

"Masak aku bohong sama Lik Mun. Istriku itu memang punya kebiasaan begitu...", gerutu Narto. Ngadimun geleng-geleng kepala.

"Lalu selama ini apa ada keluarganya yang tahu ?", tanya Ngadimun.

"Iya. Semua sudah tahu. Karti sendiri yang bilang. Katanya sih, dulu Karti kalau tidur suka menjewer bibir ibunya.... Aku heran bagaimana ibunya bisa tahan dijewer bibirnya seperti itu. Sekarang saja, baru empat hari bibirku dijewer rasanya sudah pegal sekali...", keluhnya. Ngadimun jadi geli.

"Walah !, betul-betul rejekimu, Nar ! Aku belum pernah tahu kalau Karti begitu. Yah, dinikmati saja. Yang penting 'kan sekarang kamu punya istri cantik...", kata Ngadimun menentramkan.

"Nikmat bagaimana ? Wong bibir dijeweri sampai dower kok nikmat !", kata Narto kesal.

"Halaah, sudahlah.... Baru juga empat hari. Siapa tahu nanti kalau sudah seminggu tidak begitu lagi...", hibur Ngadimun. Terdengar dengus Narto keluar dari hidungnya.

"Sudah !, narik lagi sana !", kata Ngadimun setengah mengusir. Narto bangkit dari duduknya dengan ogah-ogahan menuju mobilnya yang diparkir di bawah pohon ketapang. Mulutnya yang meruncing terkatup rapat. Digerakkannya kunci mobil untuk menghidupkan mesin. Tak berapa lama, mobil angkotnya pun sudah tak tampak lagi dari hadapan Ngadimun yang masih tersenyum-senyum geli membayangkan cerita Narto tadi.

*

"Sudah rapi rumahnya ?", tanya Ngadimun pagi itu di pangkalan.

"Sudah. Semua sudah rapi. Tinggal perabotan baru yang belum kesampaian...", jawab Narto.

"Perabot ?", ulang Ngadimun.

"Iya. Karti tidak mau memakai lemari bekas dari bapak. Sudah bagus bapak mau memberi lemari, eh..., malah Karti tidak mau. Sudah ketinggalan jaman katanya.... Sekarang ini harga perabot 'kan mahal, Lik. Terus mesti berapa lagi uang yang akan kuambil dari tabungan ?", keluh Narto.

"Aah, uang 'kan bisa dicari. Kalau memang kamu masih punya, ya dibelikan saja. Begitu 'kan namanya sayang istri...", kata Ngadimun. Narto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Tiba-tiba tangannya mengacak-acak rambutnya dengan rasa marah.

"Huuuh ! Tidak kusangka istriku itu banyak maunya. Diajak mengirit saja tidak mau. Lama-lama bisa habis tabunganku.... Dulu diajak tinggal di rumah bapakku, dia tidak mau. Takut mengganggu, katanya. Dia dulu lebih suka tinggal di rumah bapaknya sendiri. Katanya lebih bebas, lebih nyaman. Lalu tiba-tiba dia maunya ngontrak rumah saja. Kecil tidak apa-apa, yang penting kita bisa bahagia, begitu katanya. Sudah bagus ada rumah kontrakan yang murah, eh..., sekarang dia mau perabot yang baru juga ! Diberi yang bekas supaya bisa mengirit malah tidak mau...", gerutunya.

"Walah !, baru segitu sudah mengeluh. Semua perempuan itu sama, Nar ! Semua suka belanja ! Lemari itu kalau mau beli yang murah ya yang dibuat dari kayu partikel saja ! Sekarang 'kan banyak pilihan, harganya juga macam-macam...", kata Ngadimun dengan sabar. Narto mendengus lagi.

"Memangnya lemari yang begitu harganya berapa, Lik ?", tanyanya ingin tahu. Mata Ngadimun menerawang, mengira-ngira harga yang pasti.

"Mungkin sekitar satu juta untuk yang agak besar...", jawabnya. Narto tersentak.

"Satu juta !", teriaknya tak percaya. Ngadimun mengangguk.

"Ya, antara harga itu lah !", kata Ngadimun lagi.

"Satu juta untuk lemari dari kayu partikel ? Mahal sekali ?", gumannya. Benaknya mulai menghitung-hitung berapa sisa uang yang akan tertinggal di buku tabungannya bila dia jadi beli lemari seperti itu. Kepalanya menggeleng perlahan.

"Sudahlah !, cuma satu juta.... 'Kan untuk istrimu sendiri...", hibur Ngadimun. Narto terdiam. Tiba-tiba lidahnya terasa pahit.

*

"Ada apa lagi, Nar ?", tanya Ngadimun sore itu. Wajah Narto yang tertutup mendung tampak menghitam.

"Kenapa istriku sekarang rewel sekali ya, Lik ?", tanyanya. Ngadimun melongo.

"Rewel ?", ulangnya. Narto mengangguk.

"Iya, rewel ! Begini salah !, begitu salah !. Terus aku suruh bagaimana...", kata Narto putus asa.

"Memangnya istrimu kenapa ?", tanya Ngadimun lagi.

"Tiga hari yang lalu, dia titip pesan agar dibelikan mi goreng. Aku turuti. Aku belikan dia mi goreng di pojok pasar. Sampai di rumah dia marah, katanya mi gorengnya tidak enak. Lalu besoknya aku disuruh beli krupuk kulit. Aku turuti. Tapi sampai di rumah aku dimarahi lagi. Katanya krupuk kulit yang aku beli itu cuma bisa dibuat sayur, bukan dimakan sebagai krupuk. Aku 'kan tidak tahu dia mau yang seperti krupuk.... Eh, tadi pagi dia merengek minta daster baru. Katanya daster lamanya kekecilan. Sudah aku belikan tadi pagi daster baru dari pasar yang ukurannya lebih besar. Sampai di rumah, istriku itu marah lagi. Katanya dia tidak suka yang warnanya ungu. Padahal aku sudah menjelaskan padanya kalau daster yang warna itulah yang ukurannya sebesar yang dia inginkan. Aku bingung, Lik. Makin lama istriku makin suka ngomel. Aku ini perlu cari makan, aku perlu kerja. Harusnya cukup kuberi uang saja untuk dia belanjakan sendiri, tapi dia maunya aku yang belikan. Tapi tiap kali aku yang belikan kok dia malah marah. Apa nggak bisa lebih damai sedikit ?", cerita Narto seraya bertopang dagu. Ngadimun mulai mendengarkan kisahnya dengan seksama. Tiba-tiba terlintas sesuatu di benak Ngadimun.

"Le...", kata Ngadimun hati-hati," apa istrimu hamil ?". Narto terhenyak mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba dia jadi berpikir. Jangan-jangan....

"Apa iya ?, ah.... Aku belum tahu, Lik. Apa istriku hamil, ya ?", tanyanya seakan pada dirinya sendiri.

"Kamu tanya saja baik-baik. Jangan sampai istrimu tersinggung. Kalau benar, berarti kamu akan jadi bapak, Le !", kata Ngadimun lagi. Narto terpana. Jadi bapak ?, sebentar lagi dia jadi bapak ? Berulang-ulang pertanyaan itu berputar dalam pikirannya. Tak terasa, seulas senyum terlukis di bibirnya.

*

Berita tentang kehamilan Karti membuat semua orang senang. Apalagi Pak Dachwan yang sama sekali belum punya cucu. Bagi Pak Jiman sendiri, ini bakal menjadi cucunya yang ke sembilan. Meski begitu, Pak Jiman tak kalah senangnya dengan Pak Dachwan. Karena bagaimana pun, Karti adalah anak bungsu yang paling disayanginya.

"Lik..., kalau begini terus lama-lama bisa patah punggungku...", kesah Narto pada Ngadimun ketika mobil mereka sama-sama ngetem di depan alun-alun. Ngadimun menoleh ke arahnya.

"Ada apa lagi...?", tanyanya.

"Tiap malam sepulang kerja aku harus menggendongnya di punggungku bolak-balik kamar. Katanya jabang bayinya yang minta. Aku 'kan capek, Lik ! Kalau aku tolak, dia menangis. Aku jadi tidak tega. Padahal badannya sekarang sudah sepuluh kilo lebih berat dari pada ketika dulu dia belum hamil. Punggungku ini rasanya seperti mau patah jadi dua saja...", kata Narto sambil mengusap-usap punggungnya. Ngadimun bukannya ikut sedih, dia malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar keluhan Narto. Narto melihat ke arahnya dengan wajah memelas. Tapi justru hal itu semakin membuat Ngadimun terpingkal sampai perutnya terasa sakit karena geli.

"Ha..ha..ha !, kena batunya kamu, Nar. Baru kali ini aku dengar ada laki-laki muda segagah kamu merasa tak berdaya di depan istrinya sendiri. Ada-ada saja.... Terus kalau nanti dia minta digendong sampai kandungannya sembilan bulan bagaimana ?", tanya Ngadimun menggoda. Dia tak bisa menahan senyum gelinya melihat Narto yang seperti kehabisan akal. Narto menghela napas.

"Tapi itu belum apa-apa, Lik. Aku sudah merelakan bibirku jadi dower dijewer tiap malam. Tapi sejak dua minggu yang lalu, kebiasaannya sebelum tidur bertambah lagi !", kata Narto gusar.

"Apa itu ?", tanya Ngadimun.

"Sekarang dia tidak cuma suka menjewer bibirku, tapi kupingku juga...", kata Narto dengan wajah seperti mau menangis. Ngadimun tak pelak kembali tertawa terbahak-bahak. Begitu geli sampai dia tak menyadari kalau mobil angkotnya sudah terisi penuh dengan penumpang di dalamnya.

"Hei !, Pak Sopir. Mau berangkat, nggak ?!", gebrak seorang preman yang biasa jadi calo penumpang. Ngadimun tersadar dari tawanya. Dia pun melangkah meninggalkan Narto yang masih menyandarkan punggungnya di batang pohon beringin tua dengan wajahnya yang memelas. Sesekali dia masih tertawa kecil mengingat kisah Narto.

"Narto..., Narto.... Kasihan deh lu...!", terdengar celetuk Ngadimun dari dalam angkot. Narto hanya bisa pasrah mendengarnya.

*

"Sudahlah..., kamu ini mengeluh saja. Itu namanya orang hamil. Tingkahnya memang macam-macam. Namanya juga lagi ngidam. Harusnya kamu sabar, Nar...", hibur Ngadimun untuk ke sekian kalinya.

"Ngidam kok sampai hampir tujuh bulan...", kata Narto bersungut-sungut.

"Lho..., ada juga yang sampai hampir melahirkan masih minta yang aneh-aneh, Le. Bulikmu dulu malah sampai mau melahirkan di rumah dukun beranak masih minta dibelikan duren. Terpaksa aku lari kesana-kemari mencari duren. Untungnya di Pasar Kliwon yang biasa untuk jualan buah masih ada duren, meski buahnya kecil dan harganya selangit. Tapi itu ada manfaatnya, soalnya Bulikmu tidak juga kunjung dapat melahirkan sebelum akhirnya aku oleskan secolekan daging buah duren ke dalam mulutnya. Setelah merasakan duren, terus blusss.... Anakku bisa lahir dengan selamat...", kata Ngadimun sambil mengenang masa lalu. Narto mengerutkan alisnya dan memandang dengan rasa masygul.

"Begini saja.... Coba kamu bicara dengan mertua perempuanmu. Siapa tahu dia bisa membantumu, supaya kamu bisa lebih tenang...", celetuk Ngadimun. Lama Narto memikirkan ide itu. Lalu dia manggut-manggut.

"Betul juga ya, Lik. Barangkali memang aku harus bilang mertuaku...", timpalnya.

Akhirnya pergi juga Narto ke rumah mertuanya. Tentu saja mertuanya menyambutnya dengan gembira.

"Ibumu ini betul-betul beruntung, Le...", kata ibu mertuanya. Narto terheran mendengarnya.

"Beruntung bagaimana maksud Ibu ?", tanya Narto tak mengerti.

"Hhh..., aku betul-betul senang Karti bisa jadi istrimu. Anak perempuanku benar-benar beruntung punya suami sesabar kamu, Le...", kata Bu Jiman lagi. Senyum lega di bibirnya betul-betul tulus, tidak dibuat-buat. Narto jadi tak tega mengatakan masalahnya dengan Karti. Duri yang sesaat siap dimuntahkannya lalu ditelannya kembali.

"Dulu..., waktu aku hamil Karti, aku ini rewel sekali. Sampai sekarang, kalau aku mengingatnya, aku suka malu sendiri pada suamiku. Bagaimana tidak, tiap malam aku inginnya cuma mau meremas-remas mulut suamiku. Aku menangis kalau dia menolak kuremas mulutnya. Tidak disangka, ketika anaknya tumbuh besar juga punya kebiasaan yang sama. Makanya, aku biarkan Karti meremas mulutku tiap kali dia mau tidur. Tapi sampai saat ini aku tidak sekali pun mendengar keluhan anakku tentang kebiasaan itu. Aku cuma bisa menduga, barangkali dia sudah tidak punya lagi kebiasaan seperti dulu. Apa pernah Karti meremas mulutmu, Le ?", tanya Bu Jiman di akhir kisahnya. Narto terkejut. Dia menggeleng cepat-cepat. Senyum Bu Jiman mengembang.

"Syukurlah.... Itu berarti dia sudah sembuh. Wah, aku senang sekali...", kata Bu Karti lagi. Narto menunduk. Dia tak sanggup lagi berkata apa-apa.

*

"Lik ! Lik Dimun !", teriak seseorang memanggil dari luar pintu rumah Ngadimun. Ngadimun bergegas menuju pintu dan melihat keluar. Ada Narto yang sedang berdiri kedinginan di tengah derasnya hujan.

"Kenapa kamu disitu ? Hujan deras begini, nanti kamu masuk angin !", sahut Ngadimun di teras rumahnya yang sederhana. Narto seakan tampak kebingungan. Ngadimun cepat-cepat melambaikan tangannya meminta Narto mendekat. Narto pun berlari kecil menuju teras. Badannya yang basah kuyub tidak dihiraukannya.

"Ada apa ? Kamu ini seperti orang gila saja ! Hujan-hujan begini kok teriak-teriak !", kata Ngadimun.

"Narti minggat, Lik !", sahut Narto parau. Ngadimun terbelalak.

"Ha ! Minggat ?!", teriaknya tak kalah nyaring.

"Kami bertengkar tadi siang. Lalu ketika aku selesai mandi, aku cari-cari tidak ada. Karti pergi....", kata Narto penuh sesal.

"Dia sedang hamil sembilan bulan, aku khawatir ada apa-apa. Lalu aku harus bagaimana, Lik ? Aku mau bertanya ke rumah mertua, tapi aku takut kena marah. Hujan-hujan begini, bagaimana kalau nanti istriku kenapa-kenapa...", kesah Narto pilu. Rasa bersalah memenuhi dadanya yang mulai terasa sesak. Ngadimun memahami kegelisahan itu.

"Sudah, tenang dulu. Kita cari sama-sama. Siapa tahu dia pulang ke rumah ibunya. Kalau begitu aku ganti baju dulu, kamu tunggu sebentar disini, ya ?", kata Ngadimun menenangkan. Narto mengangguk.

"Jangan lama-lama, Lik...", kata Narto mengingatkan. Ngadimun menggelengkan kepala, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.

Tak seberapa lama kemudian, Ngadimun sudah siap di teras depan. Dia membawa satu setel baju kering untuk Narto dan memintanya mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering. Tapi Narto menolak, dia tak hirau dengan bajunya yang masih meneteskan butir-butir di ujungnya. Ngadimun meletakkan baju kering yang ditolak Narto itu di atas kursi rotan. Lalu dia pun melangkah di bawah payungnya, mengikuti Narto yang tampak tak sabar untuk segera sampai di rumah Pak Jiman.

*

Seluruh anggota keluarga Pak Jiman geger mendengar kabar minggatnya Karti. Rupanya Karti tidak berada di rumah mereka. Hal itu membuat Narto tidak hanya merasa bersalah tapi juga sangat sedih. Dia tak tahu harus mencari dimana. Bu Jiman menangisi kabar putrinya yang hilang. Pak Jiman tampak mondar-mandir di ruang tamu dengan gusar. Meski begitu, Narto tidak dimarahinya. Dia hanya gusar mengapa anak perempuannya berbuat segegabah itu dalam keadaannya yang sedang hamil tua. Ngadimun juga tak henti-hentinya menebak kemana kira-kira keberadaan Karti saat itu. Beberapa rumah sakit telah dihubunginya, tapi tidak ada keterangan apa pun mengenai Karti. Semua sedang dalam keadaan bingung ketika tiba-tiba datang seorang pria dengan sebuah sepeda motor memasuki halaman rumah Pak Jiman. Semua orang sibuk bertanya-tanya.

"Maaf..., apa disini rumah Pak Jiman ?", tanya orang itu. Pak Jiman maju selangkah ke depan.

"Ya. Ini rumah saya. Ada perlu apa ?", tanya Pak Jiman was-was. Orang itu memandangnya sejenak.

"Maaf..., tapi saya dapat tugas untuk mengatakan bahwa saat ini Ibu Karti tengah dalam proses melahirkan di Klinik Bidan Susi di Rejosari...", jawab pemuda itu. Dari baju yang dikenakannya, sepertinya dia seorang petugas kesehatan. Semua orang berteriak riuh mendengarnya.

"Hah, Mas.... Itu istri saya....", kata Narto tiba-tiba. Pemuda itu menoleh ke arahnya.

"Oh, jadi ini Pak Narto ?", tanya pemuda itu. Narto mengangguk.

"Tadi saya sudah ke rumah Bapak, tapi tidak ada orang disana. Jadi saya terus kemari. Syukurlah, saya ketemu Pak Narto disini...", kata pemuda itu lagi.

"Bagaimana istri saya ?", tanya Narto gugup.

"Sebaiknya kita lihat bersama-sama di Klinik Bu Susi, Pak. Bapak bisa membonceng saya...", ajak pemuda itu. Narto mengangguk.

"Pak, Bu, saya pamit dulu.... Lik, saya duluan...", pamit Narto pada semua orang. Mereka mengiyakan. Akhirnya Narto pun membonceng pemuda itu untuk menuju ke klinik. Semua orang pun akhirnya ikut menyusul ke sana.

Proses kelahiran cucu Pak Jiman berlangsung dengan agak sulit. Narto dan keluarganya diminta untuk menunggu di lobi depan klinik. Narto telah menandatangani sebuah surat perjanjian yang disodorkan pihak klinik. Rupanya ada sedikit gangguan dalam proses kelahiran itu hingga Karti harus melalui sebuah operasi caesar. Semua tampak gelisah. Setengah jam telah berlalu, tiba-tiba seorang wanita mendekat ke kerumunan keluarga itu.

"Keluarga Ibu Karti ?", tanya wanita itu. Narto merangsek ke depan dengan tak sabar.

"Ya. Saya suami Karti...", jawabnya. Wanita itu tersenyum.

"Oh, kenalkan.... Saya Dokter Siska. Saya rekan kerja Bidan Susi yang memiliki klinik bersalin ini. Operasi caesar yang dijalani Bu Karti berjalan dengan lancar...", kata wanita itu. Semua manarik napas lega.

"Tapi...", kata wanita itu melanjutkan.

"Tapi kenapa Dokter ? Istri saya kenapa, Dokter ?", tanya Narto was-was. Dalam pikirannya sudah terbayang kemungkinan terburuk.

"Tapi Bu Karti tidak melahirkan seorang bayi...", lanjut dokter itu. Semua terkejut.

"Maksud Dokter ?", tanya Narto lagi, dia tak mengerti.

"Ya, Bu Karti tidak melahirkan seorang bayi. Tapi Bu Karti melahirkan dua orang bayi perempuan yang cantik dan sehat...", jawab dokter itu sambil tersenyum. Bu Jiman bersorak kegirangan. Narto juga tak kalah kagetnya. Bayi kembar ?, begitu pikirnya berkali-kali.

"Lalu bagaimana Karti, anak saya ?", tanya Pak Jiman. Dokter itu tersenyum lagi.

"Bu Karti sehat, saat ini beliau sedang dalam proses pemulihan...", terangnya. Sontak semua orang mengucap syukur. Bu Jiman memeluk Narto yang masih terbengong-bengong dengan keadaan ini.

"Anakmu kembar, Le.... Kamu mendapat dua Karti kecil.... Kamu harus bersyukur, Le...", kata Bu Jiman dengan bangga. Narto masih linglung. Dua Karti kecil ?, pikirnya lagi. Jadi ada dua Karti lagi yang akan menjewer bibirku ?, katanya dalam hati. Tiba-tiba Narto merasa lelah, sangat lelah. Dia pun terjatuh pingsan.




S E L E S A I