BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Rabu, 27 Januari 2010

DOUBLE DATE

"Ssstt...! Cowok yang disana itu keren ya, Mir ?", Dewi menyenggol lengan Mira yang sedang asyik makan bakso. Mira mencari-cari arah yang dimaksud Dewi. Dua orang lelaki yang sedang sama-sama duduk dalam pujasera itu tampak sedang asyik mengobrol satu sama lain.

"Yang mana ?", tanya Mira penasaran. Telunjuk Dewi mengacung ke arah si lelaki yang berambut lurus dan berbaju polos warna biru tinta. Mira berusaha fokus pada pria itu. Hmm..., dia tau kenapa Dewi bilang orang itu keren. Orang itu memang punya bentuk bahu dan hidung yang bagus. Senyumnya juga tampak hangat.

"Kenalan, yuk !", ajak Dewi ngebet. Mira mengangkat bahu, dia gak tertarik, bikin Dewi agak kecewa. Mata Dewi sebentar-sebentar melirik ke arah kedua lelaki itu. Jarinya yang mengetuk-ngetuk meja menandakan kegelisahannya.

"Kamu kenapa sih, Mir ?", tanya Dewi saat di tangga. Dewi sebal, Mira tak mendukung niatnya.

"Kok aku ? Kamu kenalan sendiri aja !", kata Mira cuek. Sudah berkali-kali dia dibawa-bawa Dewi buat alasan mau kenal sama cowok. Katanya sih minta ditemani, gak pede kalo sendiri. Hhh..., aneh.

"Kamu tau kan kalo aku gak pede kalo kenalan sama cowok ? Temenin dong.... Pleaseee...!", bujuk Dewi lagi. Dan begitulah yang terjadi kemudian. Mira menemani Dewi berkenalan dengan Rudi, pria keren versi Dewi itu.

*

"Pacar Dewi itu ganteng ya ?", celetuk Bu Darman, Ibu Mira. Matanya yang masih awas menatap bayangan sepasang kekasih yang tengah melenggang keluar halaman rumahnya. Mira mengangguk saja.

"Kerja dimana si Rudi itu ?", tanya Bu Darman.

"Di Luppo Bank.... Kenapa, Bu ?", Mira balik bertanya.

"Apa dia gak punya teman yang cocok buatmu ?", pancing Bu Darman. Aha !, jadi Ibunya ingin dia punya pacar. Akhirnya Mira tau juga. Sejak dia putus dari Sony yang saat ini sedang ngambil S2 di Belanda, Mira memang malas cari pacar. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan pekerjaan. Hingga akhirnya sekarang dia diangkat jadi asisten manajer produksi di sebuah stasiun TV swasta, tempat dia dan Dewi sama-sama bekerja. Pacar ? Terpikirpun tidak.

"Kau sudah pantas menikah, Mir. Umurmu sudah hampir 28 taun. Akan sampai kapan Ibumu ini harus menunggu ? Ibu sudah tua, hadiahi Ibu dengan hiburan cucu-cucu yang lucu. Kakakmu sudah tinggal di Makasar, Ibu ini kesepian...", keluh Bu Darman nelangsa. Mira menghela napas sesal. Amanda, kakak perempuannya satu-satunya, memang sudah diboyong ke Makasar oleh suaminya. Mira jadi terkenang pada polah nakal Nancy, anak Amanda yang sudah sejak bayi sering diasuhnya bila Amanda sedang sibuk. Ah..., Nancy..., Kak Amanda..., bagaimana kabar mereka kini ?

"Ibu..., kalau sudah waktuku, Bu.... Pasti jodoh tak akan kemana...", bisik Mira sambil memeluk bahu Ibunya.

*

Bu Darman agresif sekali membujuk Dewi supaya mau mengajak teman Rudi agar bisa berkenalan dengan Mira. Itu membuat Mira risih. Dan dia sebal melihat Dewi malah tertawa tiap kali menyinggung hal itu.

"Kenapa enggak, Mir ? Kan ada Edo !", kata Dewi sambil tersenyum menggoda. Mira jadi makin sebal.

"Nggak mau ! Kamu aja yang pacaran, aku ogah !", sahut Mira sewot. Dewi terkikik.

"Ibumu sudah ngebet mau punya mantu. Harusnya kamu mendukung, dong. Masak kamu malah gak mau ?", kata Dewi dengan mata mengerjap-ngerjap lucu. Mira melengos.

"Cari orang yang sepaham denganku itu gak gampang, Wi. Aku sudah pacaran sama Sony sejak kuliah. Toh kami pisah juga. Meski alasannya karena aku lebih memberati kerjaanku disini. Aku gak yakin teman Rudimu itu bisa mengerti apa yang kumau dengan hidupku. Aku masih pengen eksis !", jawab Mira serius, membuat Dewi terdiam. Dewi sendiri sudah pacaran dengan Rudi selama setahun. Dan mereka berencana untuk menikah akhir taun ini.

"Tapi gak ada salahnya dicoba, Mir. Untuk melegakan hati Ibumu saja. Demi Ibu...", kata Dewi dengan lembut. Mira tau, Dewi mencoba menyadarkannya akan penyakit kanker getah bening stadium 3 yang saat ini sedang menggerogoti tubuh Ibunya. Hasil lab dan biopsi sudah memberikan ultimatum itu. Kalau terapi pengobatan tidak berhasil, Ibunya tak lama lagi akan segera pergi, menyusul Bapaknya yang sudah lebih dulu menghadap Ilahi tiga taun yang lalu karena serangan jantung. Lidah Mira kelu.

"Aku berjanji tak akan kecewakan kamu. Kau sahabatku. Edo sahabat Rudi. Tak ada jeleknya kalau dua sahabat berpasangan dengan dua sahabat yang lain. Kita ketemu besok malam Minggu ?", ajak Dewi sambil memegang kedua tangan sahabatnya itu. Mira mengangguk lemah. Demi Ibunya.... Demi Ibunya....

*

Akhirnya Mira menyerah, Edo memang pria yang penuh pengertian dan penyayang. Ibunya sangat senang mengetahui hubungan itu. Wajah Edo yang tampan dan sikapnya yang sopan pada setiap orang sungguh membuat hati Bu Darman dipenuhi rasa bahagia. Dua gadis yang bersahabat, berpasangan dengan dua pria yang bersahabat. Alangkah sempurnanya. Dan Mira betul-betul tak percaya bagaimana seorang Edo kini telah hadir dalam hidupnya. Menyemangati, menyayangi, melindungi. Tak kurang rasa syukur Mira pada apa yang kini telah digenggamnya. Pernikahan Dewi dan Rudi yang akan berlangsung di akhir taun nanti telah ditentukan tanggal dan jamnya. Hanya tinggal menunggu hari. Dan semua akan segera berubah lebih baik, paling tidak itu yang Mira harapkan.

Tapi entah mengapa akhir-akhir ini Edo tampak agak murung. Dia masih penyayang, masih perhatian. Hanya kadang tampak sedih. Urusan kantor yang mengganggu, tapi tidak serius. Begitu tiap kali dia menjawab. Bekerja di kondisi keuangan negara sedang krisis seperti sekarang memang harus disikapi dengan banyak akal. Harus pintar-pintar mengambil keputusan yang tepat agar tetap dipakai oleh perusahaan. Beberapa bank sudah dilikuidasi. Untungnya Luppo Bank tidak terkena tindakan itu. Tapi Edo masih saja terlihat agak murung. Ah..., sudahlah. Mungkin dia memang perlu refreshing.

"Kita ke Bandung, yuk !", ajak Mira sore itu via handphone-nya. Bu Darman menyuruhnya mengantar surat penting ke rumah Tante Pur, adik perempuan Ibu Mira.

"Semalam aja ?", tanya Edo dari seberang.

"Iya. Semalam aja. Kita menginap di rumah Tante Pur...", jawab Mira. Lama Edo tak menjawab.

"Ok, deh ! Sabtu jam 9 aku sudah sampai di rumahmu...", kata Edo melegakan. Mira senang bukan kepalang.

*

TING-TONGGG.....

Suara bel pintu rumah Tante Pur terdengar memecah keheningan senja. Bik Inah bergegas membukakan pintu. Lalu dia kembali tergopoh-gopoh berlari ke dalam....

"Anu..., juragan.... Ada orang mau ketemu sama Bapak Edo di depan...", kata Bik Inah sambil mengacungkan jempol kanannya ke arah pintu depan. Edo dan Mira segera bangkit. Mereka berjalan mendekat ke arah pintu. Ada Rudi ! Wajah Edo agak memerah melihat kehadirannya. Mira cuma melihatnya sekilas, tapi dia tau Edo sedang gusar.

"Eh..., Rudi ! Sama siapa ?", sapa Mira terheran-heran. Dia tidak pernah memberitau dimana alamat Tante Pur pada Dewi. Lalu dari siapa Rudi tau alamat itu ? Dari Edo kah ?

"Hai ! Aku mau bicara sebentar sama Edo. Bolehkah ?", tanya Rudi dengan senyum canggung. Edo segera menyambar lengan Rudi, lalu mengajaknya bicara berdua di halaman depan rumah Tante Pur. Mira menutup pintu, lalu mengamati dari jendela. Kedua pria itu tampak saling memperdebatkan sesuatu. Entah apa. Jarak yang jauh membuat Mira tak dapat menangkap apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya seru. Malah keduanya sempat saling menunjuk ke dada lawan bicara. Alis Mira mengernyit, tampak serius sekali masalahnya.

Kedua lelaki itu berdebat sampai beberapa lama. Lalu tiba-tiba Edo tampak marah dan mulai mendorong tubuh Rudi, membuat Rudi bergeser mundur beberapa langkah. Anehnya, Rudi malah maju mendekat, seperti berusaha membujuk. Dan Edo mendorongnya lagi. Lalu tiba-tiba lengan Edo ditangkap Rudi dengan kedua tangannya. Dan yang terjadi kemudian membuat mulut Mira ternganga. Rudi menarik badan Edo sebegitu dekat dengan dirinya, dan wajah Edo diciuminya dengan membabi-buta. Lalu bibir keduanya berpagut. Mira menutup bibirnya sendiri dengan telapak tangannya. Jemarinya lunglai melepaskan gordyn yang baru saja sempat dia singkapkan....







Selasa, 26 Januari 2010

PANCAKES ALA CINDELARAS



Pancakes ala Cindelaras, memang pancakes yang memiliki sedikit perbedaan dengan babon resepnya yang dari Amerika. Pancakes saya mirip dengan surabi Bandung. Bedanya, kalau pancakes Amerika menggunakan susu cair, surabi Bandung memakai santan, saya cukup memakai air untuk campuran adonannya. Sebagai pengganti butter, saya juga menggunakan margarine. Alasannya sudah tentu karena margarine memiliki kandungan lemak yang lebih ramah untuk tubuh kita, karena dibuat dari bahan nabati. Bahkan bila sedang tak ada persediaan margarine, saya cukup memakai minyak goreng saja untuk penggantinya. Rasanya ? Tak kalah enak kok. Yang penting anak-anak suka.
Untuk anda yang ingin tau resepnya, ini dia....

Bahan-bahan:
  • 350 gr                tepung terigu protein sedang (segitiga biru)
  • 1 1/2 sdt            baking powder
  • 150 gr                gula kastor (bisa ditambah bila suka)
  • 1/4 sdt               garam
  • 1/4 sdt               vanillie crystal
  • 2 butir                telur ayam negeri, kocok lepas
  • 500 cc               air
  • 75 gr                  margarine, lelehkan, biarkan mendingin
  • madu / topping lain secukupnya
Cara membuat:
  1. Campur tepung terigu, baking powder, gula kastor, garam, dan vanillie crystal dalam mangkuk. Buat lubang di tengahnya.
  2. Tuangi dengan air, aduk rata dengan beater kawat.
  3. Masukkan kocokan telur, aduk lagi dengan beater kawat sampai tampak gelembung-gelembung kecil. Diamkan selama 20 menit.
  4. Masukkan margarine cair yang sudah dingin, aduk rata sekali lagi.
  5. Dadar adonan dengan wajan teflon sesuai keinginan. Bila sudah tampak lubang-lubang kecil dalam adonan, balikkan.
  6. Angkat pancakes bila sudah cukup matang.
  7. Sajikan dengan madu atau topping lain sesuai selera sebagai menu sarapan anda. Selamat menikmati.
Resep ini cukup untuk 5 orang.




 Keterangan:
Adonan didadar dalam wajan teflon, sesuai dengan ukuran yang diinginkan.



 Keterangan:
Sudah tampak lubang-lubang kecil dalam adonan, siap untuk dibalikkan. Atau bila anda suka hanya satu sisi saja yang berwarna kecoklatan, kecilkan api lalu tutup wajan segera hingga pancakes matang.





 Keterangan:
Bentuk pancakes dengan ukuran mini lebih disukai anak-anak, karena tidak terlalu tampak mengenyangkan. Pancakes dengan ukuran besar akan membuat anak-anak malas makan : )

AMERICAN PANCAKES (original recipe)

Orang bilang, pancakes adalah satu dari beberapa makanan khusus sarapan yang disukai orang Amerika, selain cereals, sausages, dan scrambled eggs. Kalau mencicip lezatnya sajian ini, memang tak salah kalau orang-orang Amerika suka, apalagi mereka sering menambahkan topping berbagai rasa. Mau tau resepnya ? Ini dia....

Bahan-bahan:

  • 1 1/2 cangkir self-rising flour
  • 1 sdt baking powder
  • 2 sdm gula kastor
  • sedikit garam
  • 2 butir telur ayam negeri, dikocok lepas
  • 1 cangkir susu cair
  • 60 gr butter, lelehkan
  • sirup mapple atau madu secukupnya
Cara membuat:
  1. Ayak terigu, campur dengan baking powder, gula, dan garamdalam satu wadah. Lubangi tengahnya.
  2. Campur susu, telur, dan butter yang sudah dilelehkan dalam adukan terigu. Kocok dengan beater kawat hingga adonan menampakkan gelembung. Diamkan selama 20 menit dengan ditutup plastik.
  3. Dadar adonan pancakes dengan api kecil dalam wajan teflon sesuai keinginan. Biarkan beberapa saat sampai tampak lubang-lubang kecil dalam adonan. Balikkan.
  4. Angkat pancakes setelah dirasa cukup matang.
  5. Sajikan dengan topping mapple syrup atau madu.
Resep ini cukup untuk 2-3 orang.

Minggu, 24 Januari 2010

GARANG ASEM AYAM


Kalau bicara Garang Asem Ayam, saya jadi teringat sama Almarhumah Mbauti (nenek) saya. Beliau itu pandai sekali membuat Geneman, sebutan lain untuk Garang Asem Ayam bagi masyarakat asli Ponorogo. Bungkusan Garang Asem Mbauti sangat istimewa, karena menggunakan daun pisang kelutuk yang lebar luar-biasa, sehingga sebungkus Garang Asem saja sudah cukup untuk makan dua atau tiga orang cucunya. Setelah mencoba-coba, saya menemukan juga resep Garang Asem ala saya sendiri. Sangat mirip secara rasa, dagingnya terasa lembut, dan rasanya segar. Berikut resepnya....

Bahan-bahan:
  • 1 kg             ayam, dipotong menjadi 12, atau bisa juga menggunakan hati dan ampela ayam saja.
  • 1.000 cc      santan kental, dari 1 1/2 butir kelapa, bisa ditambah air lagi bila suka banyak kuah.
  • 3 butir          telur ayam negeri, kocok lepas.
  • 3 buah         tomat merah, masing-masing iris jadi 8 bagian.
  • 4 buah         belimbing sayur/tomat hijau, masing-masing iris menjadi 8 bagian.
  • Garam secukupnya
  • Vetsin/gula pasir secukupnya
  • Daun salam secukupnya, potong jadi 2.
  • Daun pisang dan lidi secukupnya untuk membungkus.
  • Beberapa lembar plastik, bila perlu, untuk melapisi daun pisang agar tidak bocor.
Bumbu yang dihaluskan:
  • 4 siung         bawang putih
  • 7 siung         bawang merah
  • 1 1/2 sdt      ketumbar
  • 4 butir          kemiri
  • 3 cm            kencur
  • 3 cm            jahe
  • 2 cm            lengkuas
Cara membuat:
  1. Campurkan bumbu halus dan telur kocok ke dalam santan kental. Tambahkan garam dan vetsin/gula pasir secukupnya (karena ayamnya belum dibumbui, sebaiknya kita membubuhkan lebih banyak garam ke dalam adonan santan, sampai terasa agak keasinan).
  2. Ambil 2 lembar daun pisang yang lebar (alasi dengan lembaran plastik di antara kedua daun, bila perlu), letakkan potongan daun salam di dasar bungkusan.
  3. Lalu berturut-turut letakkan 2 potongan daging, tomat merah dan belimbing sayur/tomat hijau iris, dan cabai rawit sesuai selera.
  4. Tuangi dengan adonan santan kira-kira 175 cc.
  5. Bungkus dan sematkan lidi. Lakukan hingga semua bahan habis.
  6. Kukus dalam dandang selama 40 menit.
  7. Sajikan hangat sebagai teman makan nasi.
Resep ini cukup untuk 6 orang.

GADON SAPI TAHU

Salah satu variasi Gadon Daging Sapi adalah dengan memadukannya dengan tahu putih. Rasanya tak kalah enak dengan Gadon Daging Sapi versi aslinya. Malah, dengan menambahkan tahu sebagai campuran, kita dapat meminimalisir jumlah natrium yang terkandung dalam sajian ini. Berikut resep Gadon Sapi Tahu yang juga menjadi salah satu kesukaan keluarga kami....

Bahan-bahan:

  • 300 gr          daging sapi giling
  • 200 gr          tahu putih, hancurkan
  • 4 butir          telur ayam negeri, kocok sampai lepas
  • 200 cc         santan kental dari 1 butir kelapa
  • 3 buah          tomat merah, iris menjadi 8 bagian
  • 4 buah          tomat hijau/ belimbing sayur, iris menjadi 8 bagian
  • garam secukupnya
  • vetsin/gula pasir secukupnya
  • cabai rawit secukupnya
  • daun jeruk secukupnya, masing-masing dipotong menjadi 2
  • daun pisang dan lidi secukupnya, atau bisa juga memakai wadah aluminium foil
Bumbu yang dihaluskan:
  • 4 siung          bawang putih
  • 6 siung          bawang merah
  • 3 butir           kemiri
  • 1 sdt             ketumbar
  • 1/2 sdt          merica
  • 3 cm             kencur
Cara membuat:
  1. Campur semua bahan: daging giling, tahu yang sudah dihaluskan, bumbu halus, telur kocok, dan santan kental. Bubuhkan garam dan vetsin/gula pasir secukupnya.
  2. Ambil 2 lembar daun pisang/ cetakan aluminium foil. Letakkan 1 potong daun jeruk di dasarnya, tuangi dengan 2 sdm adonan. Letakkan beberapa potong tomat merah dan hijau, dan cabai rawit sesuai keinginan. Bungkus adonan, dan sematkan dengan lidi.
  3. Kukus dalam dandang selama 30 menit.
  4. Sajikan hangat sebagai lauk makan nasi.
Resep ini cukup untuk membuat kira-kira 25 bungkus gadon sapi tahu.

GADON DAGING SAPI (Resep Asli)

Gadon Daging Sapi adalah salah satu pilihan menu yang lumayan disukai anak-anak di rumah. Disamping kandungan gizinya yang tinggi protein, rasa gurih daging sapi giling yang terkandung di dalamnya sangat menimbulkan selera makan mereka. Berikut ini saya tuliskan resep gadon daging sapi kesukaan keluarga kami.

Bahan-bahan:
  • 500 gr             daging sapi giling
  • 4 butir              telur ayam negeri, dikocok sampai lepas
  • 200 cc             santan kental dari 1 butir kelapa
  • 200 gr              kol, buang tulang daunnya, gulung, lalu iris tipis.
  • 3 buah              tomat merah, belah masing2 menjadi 8 bagian
  • 5 buah              tomat hijau/belimbing sayur, belah masing2 menjadi 8 bagian
  • garam secukupnya
  • vetsin/gula pasir secukupnya
  • cabai rawit secukupnya
  • beberapa lembar daun jeruk nipis, potong menjadi 2 bagian
  • daun pisang dan lidi untuk membungkus, atau bisa juga digunakan cetakan aluminium foil
Bumbu yang dihaluskan:
  • 4 siung bawang putih
  • 7 siung bawang merah
  • 3 butir kemiri
  • 1 sdt ketumbar
  • 1/2 sdt merica
  • 3 cm kencur
Cara membuat:
  1. Campur jadi satu daging giling, irisan kol, bumbu halus, telur kocok, dan santan kental.
  2. Tambahkan garam dan vetsin/gula pasir secukupnya. Aduk rata.
  3. Ambil 2 lembar daun pisang/1 cetakan aluminium foil, masukkan satu lembar potongan daun jeruk, 2 sendok adonan daging, beberapa iris tomat merah dan hijau, dan cabai rawit sesuai keinginan. Bungkus, lalu sematkan dengan lidi. Lakukan sampai semua adonan habis.
  4. Kukus dalam dandang selama 30 menit.
  5. Sajikan hangat sebagai teman makan nasi.
Resep ini cukup untuk membuat kira-kira 25 bungkus gadon.

Jumat, 15 Januari 2010

KUE PUKIS



Sore-sore perlu cemilan buat teman minum teh bersama keluarga ? Atau untuk bekal si kecil ke sekolah di pagi hari ? Kue Pukis adalah satu dari beberapa kue kesukaan keluarga kami. Kue empuk ini sangat mudah dibuat dan cukup memberi rasa kenyang bagi anak-anak sebagai bekal mereka ke sekolah.


Bahan-bahan:

  • 4 butir              telur ayam negeri
  • 125 gr               gula kastor
  • 1/4 sdt              garam halus
  • 200 gr               tepung terigu protein sedang
  • 10 gr (1 bks)        instant yeast
  • 40 gr                margarin - lelehkan
  • 1/4 sdt              vanillie chrystal
  • 200 cc               santan cair dari 1/2 kelapa
  • meises coklat secukupnya
Cara Membuat :

  1. Kocok telur, gula, dan garam dengan mixer kecepatan tinggi dalam sebuah wadah plastik sampai putih mengembang.
  2. Masukkan terigu, yeast, vanillie chrystal, dan margarin leleh sedikit-demi-sedikit, aduk dengan spatula, masukkan sampai semua bahan habis.
  3. Masukkan santan, aduk sampai rata.
  4. Diamkan adonan selama 60 menit hingga berbiuh lembut.
  5. Olesi cetakan dengan margarin. Panaskan dahulu sebelum digunakan. Bila terdengar suara desis setelah setetes adonan dimasukkan dalam cetakan, artinya cetakan sudah siap dipakai.
  6. Masukkan adonan dalam cetakan sampai 3/4 penuh, taburi dengan meises. Panggang adonan dalam cetakan pukis hingga matang.
  7. Sajikan hangat bersama dengan teh hangat atau kopi saat sore hari.
Cukup untuk membuat 20 buah kue pukis.

Jumat, 25 Desember 2009

MERRY CHRISTMAS, EVERYONE !



I'M WISHING YOU ALL....

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR 2010



BOLU KUKUS MEKAR



BAHAN-BAHAN :

  • 500 gr                         tepung terigu segitiga biru
  • 500 gr                         gula kastor
  • 5 butir                         telur ayam
  • 1 botol (295 cc)          sprite
  • 1 sdt                           S.P.
  • 1 bks                          vanillie crystal
  • 1/2 sdt                        garam
  • pasta coklat / strawberry / pandan secukupnya
CARA MEMBUAT :

  1. Tempatkan semua bahan (kecuali pasta) ke dalam baskom. Kocok semua bahan dengan mixer kecepatan tertinggi selama 20 menit dengan teknik memutar satu arah (tidak dibolak-balik). Adonan akan mengembang hampir 3 kali bentuk semula.
  2. Matikan mixer setelah waktu pengocokan cukup. Ambil sebagian adonan untuk dicampur dengan pasta.
  3. Panaskan dandang, jangan lupa membungkus tutup dandang dengan serbet bersih agar uap air tidak menetes.
  4. Tempatkan adonan pada cetakan kue bolu yang telah dialasi cup kertas sesuai ukuran cetakan.
  5. Masukkan adonan ke dalam cetakan hingga 1/2 penuh, tambahkan adonan berpasta di atasnya hingga menjadi 3/4 penuh.
  6. Masak dalam dandang selama 10 menit. Bila sudah matang, angkat dari dalam dandang dan dapat langsung dihidangkan untuk teman minum teh di sore hari.
Resep ini cukup untuk membuat kira-kira 35 buah kue.

Kamis, 24 Desember 2009

BIHUN EBI ala CINDELARAS


Wuah, hari sudah masuk musim penghujan begini, enaknya masak sesuatu yang bisa bikin badan hangat dan perut kenyang.  Ada satu resep masakan yang kami semua suka, sejenis laksa dengan bihun sebagai sumber karbohidratnya.  Malah kalau suka, bisa saja ditambah irisan ketupat di dalam penyajiannya.  Resep ini didapat dari seorang tetangga yang berlangganan majalah Femina kira-kira sepuluh tahun yang lalu.  Gak disangka, hasil dari resep sederhana ini menjadi santapan yang cukup ‘maknyusss’ buat lidah kami.  Kalau anda penasaran ingin mencoba, ini saya tuliskan resepnya.
BIHUN EBI ALA CINDELARAS


Bihun Ebi dengan kuah santan.

Bahan-bahan :
  • 500 gr daging sapi
  • 1,5  lt air
  • 200 gr bihun kering
  • 1 ikat kecil kucai, potong ukuran 3 cm
  • 200 gr taoge panjang
  • 1 ikat kecil daun kemangi, petik daunnya
  • 30 btr telur puyuh, rebus hingga masak, kupas bersih
  • 2 sdm ebi kering
  • 200 cc santan kental dari 1 buah kelapa
  • bawang putih goreng
  • bawang merah goreng
  • krupuk udang goreng
  • jeruk limau untuk perasan
  • sambal cabai rawit yang dituangi kuah secukupnya
Bahan utama dan bumbu yang dihaluskan.

Bumbu-bumbu:
  • 5 siung bawang putih
  • 8 siung bawang merah
  • 20 buah cabe merah (bisa dikurangi bila tidak suka pedas)
  • 2 batang serai, memarkan
  • 8 helai daun jeruk
  • 1 iris lengkuas.
  • 2 helai daun salam.
  • 1 maggi blok rasa sapi
  • garam secukupnya
  • vetsin secukupnya (bila suka- atau bisa diganti dengan gula pasir)
Bahan taburan.

Cara membuat :
  • Rebus daging sapi dengan 1,5 lt air hingga empuk (anda bisa memasak dalam panci presto bila ada selama 30 menit saja), matikan apinya, potong-potong ukuran dadu, lalu masukkan kembali ke dalam panci rebusan.
  • Rendam bihun dengan air panas hingga cukup lembut, tiris, sisihkan.
  • Rendam ebi kering dalam air panas secukupnya, tiriskan, tumbuk, lalu sisihkan.
  • Rendam taoge dengan air panas dan tiriskan.
  • Haluskan bawang putih, bawang merah, dan cabe merah. Masukkan ke dalam panci rebusan daging (tanpa disangrai) dengan menambahkan air hingga kuah yang didapat berjumlah kurang lebih 1 lt.
  • Rebus kembali dalam panci selama lebih kurang 30 menit.
  • Masukkan maggi blok, garam dan vetsin (atau gula pasir) secukupnya.
  • Tuangkan santan dan aduk agar tidak pecah hingga mendidih, lalu angkat.
  • Siapkan pinggan bersih, letakkan bihun secukupnya. Beri taburan taoge, telur puyuh rebus, kucai, daun kemangi, dan ebi tumbuk di tasnya.
  • Siram dengan kuah panas beserta dagingnya.
  • Taburi bawang putih goreng dan bawang merah goreng.
  • Disajikan dengan krupuk udang goreng sebagai pelengkap.
  • Anda bisa memasukkan perasan jeruk limau dan sambal cabai rawit ke dalam mangkuk anda bila suka.
Racikan Bihun Ebi sebelum diberi kuah.

Hidangan ini bisa disajikan untuk 8 orang. Hidangan ini juga sangat pas disajikan di saat arisan atau acara lainnya.
* Catatan :   tampilan masakan ini nyaris seperti Laksa Betawi, hanya citarasanya sedikit berbeda karena tidak menggunakan oncom dan beberapa bahan lainnya.

Rabu, 23 Desember 2009

RAWON

Bahan-bahan :

  • 1 kg           daging sapi (bagian paha atau lemusir), potong dadu ukuran 3x3x3 cm
  • 1,5 ltr         air
  • 2 batang     serai, dimemarkan
  • 4 lembar     daun jeruk nipis
  • 3 sdm         minyak untuk menumis
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir/vetsin secukupnya
  • bawang goreng untuk taburan
Bumbu yang dihaluskan:

  • 6 siung        bawang putih
  • 8 siung        bawang merah
  • 2 jari           kunyit
  • 1 sdt           merica bulat
  • 6 buah        keluwak tua, ambil dagingnya
Cara membuat:
  • Tumis bumbu yang sudah dihaluskan bersama dengan batang serai dan daun jeruk dengan 3 sdm minyak goreng, angkat bila sudah berbau harum.
  • Masak bumbu halus bersama dengan potongan daging dan air ke dalam panci presto selama 40 menit.
  • Sajikan hangat dengan taburan bawang goreng sebagai teman makan nasi bersama sambal terasi, perkedel kentang, telur asin, krupuk udang, dan lalapan taoge kacang hijau.
Resep ini cukup untuk 6 orang.

Selasa, 22 Desember 2009

UBLIK


Sigit beringsut mendekati emaknya tercinta. Sudah sesaat lamanya sang emak bersimpuh di lantai tanah rumah mereka. Diusapnya pelan-pelan air mata yang menetes di kedua pipi yang kurus itu. Dada Sigit sakit melihat emaknya tampak begitu ringkih. Sebuah lebam melingkar di mata kiri yang biasanya selalu memandangnya dengan penuh kasih. Sigit tak mengerti mengapa bapaknya bisa berbuat begini.
Kang…, jangan diambil, Kang….  Itu modalku jualan besok pagi….
Hasss…, banyak omong kamu.
Jangan, Kang…, aku sudah ndak punya uang lagi….
Diam !
Kang….
DUG !, sebuah jotosan telak mengenai mata istrinya, Gito bergegas pergi begitu melihat istrinya terjatuh di lantai. Di sudut ruangan, mata Sigit kecil membelalak tak percaya.
Maaak….
Perlahan Tarsih membuka matanya. Ah…, anak lelakinya yang malang, pasti dia sudah melihat kejadian itu barusan. Direngkuhnya anak itu dalam dekapan, air matanya mengalir makin deras. Duh, Gusti…, jadikan anak ini anak yang berguna bagi kebahagian kami, doanya dalam hati. Diciuminya kedua pipi anaknya berkali-kali. Dia bersumpah tak akan menjadikan anak lelakinya itu punya perangai seperti bapaknya.
Emak sakit, Mak ?
Tarsih menggeleng.
Tidak, cuma sedikit.  Sigit…, kalau kamu sudah besar tidak boleh suka memukul, ya ?
Sigit kecil mengangguk saja. Diusapnya helai rambut panjang yang menutup sebagian kening emaknya. Mata kiri emaknya tampak sedikit menyipit. Tiba-tiba dia bergerak mendekat ke wajah Tarsih, dan mencium mata kiri emaknya, hati-hati sekali. Biasanya, Tarsih selalu mencium setiap luka yang menempel di tubuh anak lelaki semata wayangnya itu. ‘Biar cepat sembuh…’, begitu dalihnya tiap kali ditanya kenapa. Dan sekarang anak lelakinya itu melakukan hal yang sama pada dirinya. Dan itu membuat Tarsih terharu.
Gito, lelaki yang dikawininya itu memang bukan pilihannya. Dia dijodohkan pada lelaki itu setelah Pak Warmo, bapak Tarsih, punya utang karena kalah main judi di warung Yu Katemi yang ada di tengah pasar. Tarsih tak sanggup menolak, dia tau bapaknya almarhum itu pasti telah tertipu akal licik Gito yang pandai main kartu. Dan kini mereka telah mendapat seorang anak lelaki yang tampan dan pintar. Sigit, anak itu, anak yang telah memberinya begitu banyak penghiburan atas segala derita yang diterimanya dari suaminya yang berangasan.
*
Kalau besar nanti aku mau jadi polisi….
Kenapa polisi ?
Biar yang suka jahat sama emak bisa aku masukkan penjara, kayak di filem yang di TVnya Mbah Dirjo itu, Mak….
Ah, kamu ini…. Ngomong kok nggak ada juntrungnya. Nggak usah punya mimpi macam-macam….
Biar, kalau tidak aku nanti mau jadi tentara saja.
Lho, kok sekarang jadi tentara ?
Biar aku bedhil semua yang mau jahat sama Emak.
Husss !, ngawur kamu…. Sudah, pergi main ke lapangan sana !
Sigit mengambil bola kaki yang ada di kolong tempat tidurnya. Langkahnya tegap menuju lapangan, tempat teman-temannya menunggu bermain bola.
Dari jauh, Tarsih memandangi punggung anak lelakinya yang sekarang sudah mulai tampak berbentuk, tegap seperti almarhum bapaknya yang pernah jadi tentara di masa sehabis merdeka. Otot yang liat itu tampak kencang membungkus tulang yang kekar. Tarsih bangga sekali, anak lelakinya telah tumbuh menjadi remaja yang gagah.
BRAKKK!!!
Tiba-tiba pintu terbuka seperti habis ditendang, suaranya yang keras mengagetkan Tarsih yang masih sibuk berbenah. Gito masuk melenggang dengan dagu terangkat. Matanya yang runcing melihat ke sekeliling.
Minum !, bentaknya bengis.
Tarsih cepat-cepat ke belakang untuk membuat segelas kopi panas untuk suaminya. Itu minuman kesukaan Gito bila hari sudah agak sore begini. Diambilnya kopi dan gula yang terletak di dalam lemari makanan. Sial…, gulanya tinggal sedikit.
Kang…, aku ke warung Lik Mun dulu, ya….  Mau beli gula….
Alasan ! Bikin seadanya !
Tarsih mengangguk. Diseduhnya kopi yang sudah disiapkannya dalam gelas dengan gula seadanya, lalu dibawanya segelas kopi itu ke hadapan suaminya yang tampak tak sabar menunggu.
Gito membiarkan istrinya meletakkan gelas kopi itu ke atas meja. Rasa hausnya harus tertahan karena panas yang masih menjalar bahkan sampai permukaan luar gelas. Asap tampak mengepul dari panasnya seduhan kopi di dalamnya. Tak sabar, diambilnya gelas itu, dan disruputnya. Tiba-tiba wajahnya menyeringai….
Phuahhh….
Bibir Gito menyemprotkan cairan kopi dari dalam mulutnya ke lantai.
Kopi apa ini ? Kamu mau kurang-ajar sama suamimu ? Minum itu !
Gito menyodorkan gelas kopi itu dengan kasar ke arah Tarsih, dan tangan Tarsih gemetar menerimanya. Dicicipnya kopi yang ada dalam gelas, pahit ! Diletakkannya kembali gelas itu di atas meja ketika Gito mulai melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah Gito yang mendekat ke lemari baju membuat Tarsih gundah, dia takut Gito akan melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.
Dan betul saja, Gito mengacak-acak lemari baju itu lagi, lalu mengambil segulung uang sepuluh ribuan yang sengaja Tarsih sembunyikan di bawah tumpukan baju dalam di lemari.
Kang !, jangan diambil, Kang !  Itu uang buat beli buku Sigit !
Hasss, prek ! Aku lagi perlu !
Tapi itu uangnya Sigit….
Prek !!!
Dengan keras Gito mendorong tubuh istrinya hingga tubuh itu doyong dan menabrak meja kayu. Rasa nyeri di panggul menjalar sampai ke ulu hati. Dan dia hanya bisa merintih saat melihat suaminya beranjak keluar dari pintu rumah.
Tiba-tiba Tarsih merasa lelah. Sudah hampir tiga belas tahun sejak mereka kawin, Gito hanya bersenang-senang dengan menghamburkan uang rupiah demi rupiah di meja judi dan mabuk dengan teman-temannya sesama tukang ojek. Tarsih harus rela banting tulang berjualan bubur kacang ijo dan ketan hitam yang didorongnya sepanjang jalan keliling desa. Dari kampung ke kampung, dari gang ke gang.
Cerai saja kenapa to, Sih ?, kata Lik Mun suatu kali.  Tarsih menggeleng.
Itu wasiat Bapak, Lik….
Wasiat kok wasiat suruh kawin sama wong gendheng gitu. Kalau aku sudah  cerai dulu-dulu !
Tarsih menunduk dalam-dalam, dia menghela napas sesal.
Apa kamu kuatir nggak bisa ngasih makan anakmu lanang ?
Ndak, Lik….  Aku masih bisa cari uang sendiri.
Terus kamu nggak mau cerai dari Gito itu, yang kamu berati apanya ?
Tarsih tak menjawab. Lelaki berangasan yang sudah memberinya seorang anak lelaki itu adalah satu-satunya lelaki yang pernah ada dalam hidupnya selain almarhum bapaknya. Seringnya tidur seranjang dengan lelaki itu mau tak mau membuat benih-benih kasih tumbuh dalam hatinya.
Di saat tertentu, sesungguhnya Gito juga seorang lelaki yang bisa jadi pelindung. Itu terjadi saat Tarsih dirampok di kampung Mergangsan yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Kala itu, Gito dengan gagah berani merampas kembali tas tangan yang direbut rampok itu, dan mengembalikannya pada istrinya. Meski akhirnya dia juga mengambil beberapa lembar uang puluhan ribu dari dalamnya, tapi Tarsih rela.
Belanjanya sudah belum, Sih ?, tanya Lik Mun tiba-tiba, membuyarkan lamunan Tarsih di siang bolong di depan warung kecil itu. Geragapan, Tarsih mengangguk sambil tersenyum kecil.
*
Aku boleh sekolah di SMP Negeri 1 ‘kan, Mak ?, tanya Sigit sore itu. Tarsih mengangguk, senyum tulus menghiasi wajahnya.
Ahh, Sigit…, ublik yang sudah menerangi hidup Tarsih itu memang punya semangat luar-biasa. Tidak malu dengan keadaannya yang cuma jadi anak bakul bubur kacang-ijo seperti dirinya. Malah tiap kali Tarsih berjualan di depan sekolah anak lelakinya, si bocah dengan bangga ikut membantunya meladeni pembeli.
Bersyukur, Tarsih bersyukur sekali. Dan sebentar lagi Sigit akan ujian. Tarsih tidak takut anaknya akan tinggal kelas. Sedari kecil, Sigit selalu jadi anak terpandai. Hanya saja…, dia sedikit gelisah dengan masa depan anak lelaki semata wayangnya itu. Akankah dia mampu membiayai sampai Sigit jadi orang di kemudian hari?
Diliriknya lemari baju di sudut kamar, ada sertifikat tanah tempat tinggalnya, peninggalan almarhum bapaknya. Ya, Pak Warmo memang tidak memberinya warisan apa-apa kecuali rumah kecil di sepetak tanah pekarangan ini. Rumah Tarsih memang bukan Gito yang bikin, lelaki seperti Gito tak akan sudi memikirkan akan dimana mereka tinggal. Paling tidak, itu yang Tarsih rasakan.
Tarsih menoleh ke arah anak lelakinya yang kini telah terpulas di dipan tempat tidurnya. Dia suka sekali memandangi bulu mata lentik yang menghiasi kedua mata lelaki kecil itu. Diambilnya selimut yang terlipat rapi di ujung lain dipan, lalu diselimutkannya di atas tubuh Sigit. Hati-hati sekali, seperti dulu sewaktu Sigit masih bayi.
Hmm, betapa cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin Tarsih menimang buah hatinya yang terlahir di rumah Bidan desa. Sebuah kelahiran yang hanya mendapat sambutan dingin sang suami yang bahkan tidak mau menjemputnya sepulang dari bersalin.
Tarsih ingat sekali waktu itu, dia harus berjalan sendiri, tertatih menuju rumah, dengan menggendong bayinya seorang diri. Sepanjang jalan, semua tetangga menyapanya. Sampai akhirnya dia berpapasan dengan Lik Mun yang kemudian membantunya menggendong bayi mungil itu.
Sudah tau istrinya melahirkan, malah ndak diurus…. Kamu kok ternyata tambah edan, To…?, omel Lik Mun sewaktu melihat Gito.  Gito mencibirkan bibirnya yang hitam, dia tak hirau teguran itu.
Hhh…, semua orang tau seperti apa suaminya, semua orang tau akan seperti apa lelaki itu memperlakukannya. Dan itulah satu-satunya sebab mengapa sampai Pak Warmo, bapak Tarsih, begitu kecewa dengan kebodohannya merelakan Tarsih menjadi istri Gito.
Maafkan, Bapak, Nduk…. Maafkan, Bapak…, bisiknya lirih di telinga Tarsih sebelum mata tua itu terpejam selama-lamanya, hanya selang enam bulan sejak dia jadi istri Gito.
Tapi itu dulu, sekarang Tarsih hanya ingin memikirkan anak lelakinya yang sudah harus didukung belajar demi masa depan. Tarsih tak mau hanya memikirkan bagaimana kelakuan suaminya yang cuma bisa jadi gentho. Masih banyak hal yang harus dia lakukan agar sekolah Sigit tetap lancar. Maka dia tak segan berkeliling ke kampung-kampung lebih jauh dari pada yang dulu biasa dia tempuh.
*
Ada orang baru di ojekan pasar, kisah Gito suatu pagi sehabis sarapan.
Orang baru ?, timpal Tarsih.
Ya, orang dari Bandung. Kemaki dia. Lagaknya kayak orang kaya. Orang kaya kok ngojek.
Tarsih terdiam mendengarkan, tak biasanya Gito tampak begitu gusar menceritakan orang-orang yang dikenalnya.
Dia traktir tukang-tukang ojek lain. Sekarang tidak ada yang tak suka sama orang Bandung itu. Semua memuji. Heh, cuma ngojek tingkahnya seperti bos ! Belum kenal siapa Gito !
Tarsih cuma melirik, hatinya sama sekali tak tertarik mendengar lebih jauh cerita suaminya. Rupanya Gito takut akan kehilangan pengaruh di hadapan teman-teman ojekannya. Selama ini, Gito memang disegani di kalangan mereka, lebih tepatnya ditakuti. Dan sepertinya kehadiran orang Bandung itu sudah merubah sikap banyak orang di pangkalan.
Ambilkan sertifikat !, tiba-tiba Gito berucap, membuat Tarsih tersentak. Dia melongo.  Ahh…, jangan-jangan dia salah dengar ?
Ambilkan sertifikat !, budheg kamu ?
Buat apa, Kang ?, jawab Tarsih bingung. Entah mengapa hatinya merasa ada yang sangat salah.
Cepat ambilkan sertifikat rumah ini !, aku lagi perlu !, bentak Gito lagi.
Tapi buat apa, Kang ?, Tarsih bersikukuh bertanya.
Gito berdiri dari duduknya, mau masuk kamar. Tarsih berusaha menghalangi. Gito tak sabar, dia mendorong Tarsih ke samping, merangsek masuk ke dalam kamar, lalu mengaduk isi lemari. Surat sertifikat itu ditemukannya di tumpukan baju paling atas. Mulutnya menyerengai senang, lalu sertifikat itu diselipkannya di dalam kemeja.
Kang…, mau dibawa kemana, Kang ? Jangan dibawa, Kang…. Kalau hilang kita tinggal dimana ?, Tarsih menangis dan memohon. Gito cuma melotot.
Jangan dibawa, Kang…. Itu punya Sigit….
Hass…! Minggir !
Jangan, Kang…. Aku mohon…. Kalau itu hilang, Sigit mau tinggal dimana ?, jeritnya pilu sembari memegangi tangan kanan Gito yang bersiap melangkah keluar rumah.  Sial…, Gito mengibaskannya kencang-kencang hingga Tarsih terjatuh.  Hatinya hancur sewaktu melihat lelaki itu semakin menjauh dengan sepeda motornya.
Sertifikat…, bagaimana kalau nanti Gito menjadikannya taruhan ?, bagaimana kalau nanti Gito kalah lagi ?, bagaimana mereka bisa tinggal kalau sertifikat itu berhasil diambil pihak lain ?  Bermacam ketakutan berkecamuk di kepala Tarsih yang kini terasa berputar, rasanya ini adalah hal terburuk yang menjadi batas ketabahannya menghadapi kelakuan Gito.
Matanya nyalang memerah, Tarsih memandang sekeliling.  Tiba-tiba dia bangkit, diusapnya air mata yang hampir mengering di kedua pipi. Dan dia bergegas pergi.
*
Buat apa, to ?, tanya Lik Mun sewaktu Tarsih mau beli dua bungkus Apotas.
Buat tikus, Lik, di rumah lagi banyak, jawabnya pendek. Lik Mun manggut-manggut.
Iya, ya…. Tadi Darmi sama Kang Sonto juga habis dari sini beli Apotas. Musim kemarau begini memang banyak tikus. Ndak di sawah, ndak di kebun, ndak di rumah. Sudah punyanya cuma beras jatah, pakai diganggu tikus. Ndak tau diri memang tikus itu…, kata Lik Mun menggerutu. Tarsih tersenyum canggung, tangannya cepat-cepat menerima bungkusan Apotas yang disodorkan Lik Mun.
Berapa, Lik ?
Delapan ribu….
Tarsih bergegas pergi setelah membayar harga barang yang dibeli. Rasa sakit di kakinya karena telah berjalan di atas jalanan berkerikil tanpa alas kaki tak lagi dapat dirasakannya. Bungkusan Apotas itu digenggamnya erat-erat.
Kali ini…, atau tidak sama sekali !
*
Kopi sudah disiapkan di atas meja makan bersama dengan serangkaian hidangan makan siang. Sebentar lagi pasti Gito datang. Tarsih bersiap mandi, dia ingin tampak cantik di hadapan Gito hari ini.
Dengan riang dia mengambil handuk di batang jemuran. Gito suka kalau melihatnya memakai baju batik warna hijau yang dibelinya dari toko Cik Lanny di seberang pasar. Tarsih tau, karena tiap kali dia memakai baju itu, Gito jadi berhasrat mencumbunya.
Kaki Tarsih melangkah ke dalam kamar mandi dengan enteng. Dia harus wangi dan bersih, agar Gito tertarik. Segayung demi segayung air mandi yang segar diguyurkan ke tubuhnya. Begitu asyik sampai-sampai dia tak tau anaknya telah pulang dari sekolah.
Sigit merasa sedikit capek, panas yang terasa di luar sana membuatnya sangat haus. Diliriknya meja makan siap dengan hidangan lengkap. Dia tau, emaknya menyiapkan makanan itu untuk bapaknya. Sigit meletakkan tas sekolah di atas ranjang tempat tidur, lalu bergegas ke dapur untuk mencari air minum. Dia mengambil gelas kosong dari lemari makan, lalu menuang isi kendi ke dalamnya.
Sial…, airnya cuma sedikit. Padahal rasa hausnya belum banyak berkurang. Celingukan, dia teringat segelas kopi di atas meja makan. Ahh…, mengapa tidak diminum dulu saja, biar nanti emaknya membuat lagi satu gelas kopi yang baru buat bapak, begitu pikirnya.
Tak sabar dia mendekat ke arah meja makan, mengambil gelas kopi itu, dan meminumnya sedikit. Rasa pahit yang membakar kerongkongan membuatnya urung menghabiskan minuman. Cuma separuh, tapi itu sudah cukup membuat lehernya terasa terbakar. Diletakkannya kembali gelas kopi itu ke atas meja. Tiba-tiba Sigit merasa aneh, kepalanya terasa berputar dan ada rasa mulas yang hebat di perutnya yang masih kosong karena belum makan siang. Sakit itu tak tertahankan, Sigit ambruk.
Maaak…, jeritnya parau. Badannya mengejang.
Tarsih baru saja selesai dari mandinya ketika dia mendengar jerit parau itu. Dia kaget, Sigit tampak tergeletak di lantai dengan memegangi perut. Tarsih melihat gelas kopi itu. Tinggal separuh ! Jangan-jangan…? Kalap, Tarsih berlari mendekat.
Sigit !, kamu kenapa, Le ?, jeritnya bingung.
Sigit tak menjawab, air matanya mengalir dari sudut mata, urat di dahinya menonjol seakan menahan rasa sakit yang sangat. Kejang tubuhnya makin menghebat, Tarsih panik. Dia tak mengira semua akan jadi begini. Sementara kejang tubuh anaknya semakin menguat. Mata itu melotot, dan mulut itu berbuih. Tarsih merasakan maut yang menghinggap. Lalu kejang itu mengendor, tubuh itu melemas, dan mata itu tak lagi bersinar.
Sigit !, Git !, Sigit !, bicaralah, Le ! Sigit !, panggil Tarsih berulang-ulang, diguncang-guncangkannya tubuh ublik muda yang selama ini sudah begitu terang menyinari hidupnya. Tapi ublik itu sudah terlanjur redup. Tangis sesal mengguyur bagai datangnya bah yang menyapu kerontangnya padang tandus.
Tarsih menggeliat, matanya nanar melihat gelas kopi yang tinggal berisi separuh. Diletakkannya pelan-pelan tubuh anak lelakinya di atas tanah. Lalu diraihnya sisa kopi dalam gelas itu. Ada senyum anak lelakinya di dalamnya. Mantap, diteguknya sisa kopi yang ada, lalu diletakkanya kembali gelas itu di atas meja.
Tarsih merasakan kerongkongannya terbakar, tapi ditahannya dengan sekuat tenaga. Perlahan, dia membaringkan dirinya di samping Sigit yang bibirnya sudah membiru. Direngkuhnya tubuh anak lelaki tersayangnya dalam pelukan, dan dia memejamkan mata….
*
Gito, lelaki kekar itu…, masuk ke dalam rumah yang terasa sepi. Baru saja dia melangkah masuk ketika dilihatnya sang istri tergeletak di lantai dengan tangan memeluk tubuh anak lelakinya. Bibir yang biru di wajah keduanya membuatnya mengerti.
Dia jatuh bersimpuh di dekat kedua tubuh tak bernyawa. Lidahnya kelu. Di sampingnya, ada sertifikat dan sebuntalan perhiasan terlepas jatuh dari tangan. Siang ini, dia membawa kemenangan gilang-gemilang….



S E L E S A I